Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Peristiwa » Halaman 844

Peristiwa

IMG-20250929-WA0040

Eksotisme Musik Tepi Sawah Banyuwangi, Cara Menikmati Ijen dengan Cara Berbeda

BANYUWANGI || jejak-indonesia.id – Perhelatan Musik Tepi Sawah yang dilaksanakan di halaman penginapan Teras Ijen di di Desa Segobang, Kecamatan Licin Banyuwangi pada Minggu, 28 September 2025 berlangsung meriah. Tak hanya menampilkan panorama hijau dari bentangan sawah terasiring khas kaki gunung Ijen sebagai latar syahdu mendengarkan alunan musik.

Sempat diguyur hujan ringan namun tidak menyurutkan antusias pengunjung baik pengunjung dari luar kota maupun masyarakat setempat untuk menyaksikan salah satu pagelaran musik yang rutin digelar Banyuwangi. Di tengah rintik hujan, para penonton bergeming menunggu alunan musik yang dibawakan oleh Letto dan Neo Jibles.

Festival ini berlangsung di tengah hamparan persawahan dengan latar megah Gunung Ijen. Wisatawan menikmati konser sambil duduk di kursi maupun lesehan di bawah pohon cengkeh dan kelapa, merasakan kesejukan angin pegunungan.

Sejak sore, penonton sudah berdatangan. Begitu masuk ke area festival, mereka disambut pemandangan hamparan sawah hijau, pohon cengkeh yang berbaris di tepi area, dan semilir angin pegunungan. Matahari sore yang perlahan tenggelam menambah nuansa syahdu.

Alunan musik akustik pembuka berpadu dengan suasana alam. Dari panggung, kolaborasi musik etnik Banyuwangi hingga tiupan Saxophone menemani senja di kaki Ijen. Banyak penonton mengabadikan momen langka itu dengan latar gunung dan sawah.

“Vibes-nya keren sekali. Menikmati musik sambil memandang gunung dan banyak areal persawahan. Nafas berlimpah oksigen di sini,” kata Ayik, salah satu pengunjung dari Surabaya.

Saat malam tiba, lampu-lampu kecil di area persawahan mulai menyala. Suasana semakin semarak ketika Neo Jibles menaiki panggung. Lagu-lagu mereka menggema di antara persawahan, membuat penonton larut dalam suasana. Tak lama kemudian, giliran Letto yang paling ditunggu, membius ribuan penonton.

Festival Musik Tepi Sawah diselenggarakan di area di bawah kaki Gunung Ijen. Selain menjadi salah satu agenda musik di Banyuwangi, Festival Musik Tepi Sawah juga mempunyai misi untuk mengangkat kearifan lokal, dan sederet hidden gem di kawasan tersebut. Mulai dari aneka wisata alam, kuliner lokal dengan cita rasa yang menggugah selera, hingga tempat staycation yang keren-keren.

Dikatakan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, bukan tanpa alasan festival musik digelar di kaki Gunung Ijen, yang mempunyai banyak potensi. Aneka wisata alam, kuliner lokal, adanya penginapan dan beberapa homestay artistik di tengah pedesaan.

“Musik Tepi Sawah ini sebenarnya hanyalah triger. Sejatinya kita sedang mempromosikan berbagai potensi wisata yang berkembang pesat di sekitar kaki gunung Ijen, khususnya di Kecamatan sekitar Ijen dan sekitarnya,” terang Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Senin (29/9/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Ipuk juga meluncurkan paket wisata lengkap 3 Hari Dua Malam (Hot Deals 3D2N) dan Ijen Golden Route di kawasan Gunung Ijen Banyuwangi. Inisiatif ini, jelasnya, merupakan bentuk kolaborasi seluruh pelaku wisatadi kawasan tersebut agar manfaat ekonomi bisa dirasakan bersama.

“Dalam Golden Route ini wisatawan bisa menikmati pengalaman lengkap, mulai hotelnya, destinasinya, atraksi seninya, hingga kulinernya, semua dalam satu paket perjalanan. Harapannya dapat meningkatkan perekonomian warga setempat,” tutur Ipuk

IMG-20250929-WA0039

Eko Febriyanto Geram Pada Komisi III DPRD Situbondo Diduga Tak Pro Rakyat Terkait Stockpile Sawdust Di Banyuglugur

SITUBONDO || jejakindonesia.id - Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Situbondo Investigasi Jejak Kebenaran (Ketum LSM Siti Jenar) Eko Febriyanto mendatangi kembali kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025).

Kedatangan Ketum LSM Siti Jenar Eko Febriyanto ke kantor DPRD Situbondo ini terkait menindaklanjuti tuntutan waktu demo beberapa waktu lalu dan kali ini mempertanyakan tentang surat rekomendasi terkait Stockpile Sawdust yang dampaknya sangat mengganggu dan membahayakan lingkungan yang terletak di wilayah Kecamatan Banyuglugur Kabupaten Siitubondo.

Disaat diruangan aksi gebrak meja sempat dilakukan oleh Ketum LSM Siti Jenar Eko Febriyanto. Penyebabnya adalah polemik yang terus berjalan di tengah-tengah masyarakat ini seakan-akan dibiarkan tanpa solusi yang jelas bahkan rekomendasi yang dikeluarkan pada pertemuan antara dinas terkait dan pengusaha Stockpile Sawdust berserta DPRD itu lebih memihak kepada pengusaha bukan kepada masyarakat atau diduga tak pro rakyat yang jelas-jelas terdampak oleh kegiatan Stockpile Sawdust ini.

Selanjutnya menurut Eko Febriyanto "bahwa berdasarkan tugasnya Komisi III DPRD Kabupaten Situbondo memiliki fungsi yang berfokus pada bidang pembangunan, infrastruktur, lingkungan hidup dan pengawasan terhadap kebijakan yang berkaitan dengan sektor tersebut. Apalagi agenda rapat mereka Komisi III hari ini Senin 29 September 2025 adalah pembahasan hasil fasilitasi Raperda Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) oleh Komisi III DPRD Situbondo dan semua dinas terkait. Ini jelas ada kaitannya langsung dengan isu yang kami bawa hari ini," ungkapnya.

"Saat kami tiba di kantor DPRD terutama diruangan komisi III, malahan tidak ada satupun anggota yang ada di ruangannya, beruntung Ketua DPRD Situbondo Mahbub Junaidi bersedia menemui kami," ucap Eko Febriyanto dengan raut wajah marah.

Komisi III DPRD Situbondo memang telah melakukan inspeksi kelokasi dan rapat dengar pendapat terkait keluhan masyarakat mengenai dugaan pencemaran lingkungan akibat aktivitas penampungan serbuk kayu namun ironisnya rekomendasi yang dikeluarkan jauh dari harapan masyarakat dan terkesan membela para pelaku usaha bukan pro masyarakat. Hal ini dibuktikan tidak dilibatkannya masyarakat dalam rapat yang dijadwalkan pada tanggal 25 September tersebut.

Faktanya sudah jelas menurut Eko Febriyanto "bahwa masyarakat menolak keras atas adanya aktivitas yang dinilai sangat merugikan masyarakat dan penolakan mereka bukan tanpa alasan. Karena timbunan serbuk kayu dinilai berpotensi besar menimbulkan dampak lingkungan maupun ancaman keselamatan karena letaknya pas di jalur padat pantura," jelasnya.

Sedangkan limbah Sawdust yang dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan berisiko merusak kualitas tanah dan mencemari sumber air di lingkungan sekitar.

"Dan disaat musim hujan, serbuk gergaji rawan terbawa air hingga menyumbat drainase dan mencemari lingkungan lebih luas. Timbunan serbuk kayupun dikenal sangat mudah terbakar sehingga berisiko besar bagi keselamatan dan polusi udara warga," tegasnya.

"Sedangkan lokasi Stockpile ini bersebelahan dengan masjid yang juga dinilai mencederai kenyamanan beribadah masyarakat sekitar. Jadi sangat wajar kalau masyarakat menolak keras aktivitas tersebut," ujar Eko Febriyanto.

Lebih lanjut menurut Eko Febriyanto "bahwa penolakan warga ini tidak main-main. Beberapa kali warga mendatangi lokasi dan melaporkan hal ini ke Polsek, kecamatan, desa bahkan dinas terkait namun faktanya mereka diabaikan, kesal dengan hal tersebut warga bersama LSM Siti Jenar akhirnya melakukan demo dengan menggruduk Pemkab dan DPRD Kabupaten Situbondo pada Senin tanggal 15 September 2025, yang lalu. Tak cukup sampai disana wargapun kembali mengancam akan melakukan penutupan paksa apabila keinginannya tersebut tidak mendapatkan respon oleh pihak terkait. Hal ini yang kami khawatirkan akan menyebabkan gesekan antara warga dan para Centeng atau orang-orangnya pengusaha yang ada dilapangan," tutup Eko Febriyanto dengan wajah kesal.

Sementara ditempat yang sama Ketua DPRD Kabupaten Situbondo Mahbub Junaidi saat dikonfirmasi menjelaskan "bahwa kami akan melakukan rapat ulang terkait rekomendasi Stockpile tersebut. Dan pihak kami akan meninjau serta akan mendalami semua yang terjadi," pungkasnya. (Tim)

IMG-20250929-WA0038

Sinergi Kementerian Imipas dan Gubernur Bali, Optimalkan Pungutan Wisatawan Asing (PWA) serta Tindak Tegas Wisatawan Asing Nakal 

JAKARTA || jejakindonesia.id – Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (IMIPAS) RI, Jenderal Pol. (Purn) Drs. Agus Adrianto S.H., M.H., dan Gubernur Bali, Wayan Koster, sepakat bersinergi dalam mengoptimalkan pungutan wisatawan asing (PWA) serta menindak tegas wisatawan maupun orang asing nakal di Bali.

Kesepakatan itu terjalin dalam audiensi Gubernur Bali Koster dengan Menteri Agus di Jakarta pada 23 September 2025. Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster meminta dukungan penuh aparat imigrasi di Bandara I Gusti Ngurah Rai agar wisatawan asing lebih tertib membayar PWA sebesar Rp150.000 sesuai Perda Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2025.

"Dengan dukungan imigrasi dalam pemantauan dan pengawasan, wisatawan asing akan lebih tertib membayar PWA,” ujar Koster.

Ia mengungkapkan, hingga kini realisasi pembayaran PWA baru mencapai 35 persen atau senilai Rp283 miliar dari total potensi yang ada.

Selain soal kepatuhan pembayaran, Koster juga menekankan pentingnya operasi bersama untuk menertibkan WNA yang melanggar aturan, termasuk overstay, tidak membayar pungutan, maupun perilaku yang merusak kehormatan bangsa.

“Sinergi antara Pemprov Bali dan Kementerian IMIPAS sangat dibutuhkan untuk menjaga citra pariwisata kita,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Menteri Agus Adrianto menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan PWA yang diterapkan Bali serta perbaikan kebijakan keimigrasian, visa, dan visa on arrival (VoA). Ia menegaskan, pariwisata Bali adalah salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara sehingga perlu dijaga kualitasnya.

“Kami sudah membentuk Satuan Tugas Operasi Penertiban terhadap wisatawan dan orang asing di Bali sejak Agustus 2025. Satgas ini akan memperkuat pengawasan agar aturan benar-benar ditegakkan,” kata Menteri Imipas Agus.

Menteri Imipas juga mengapresiasi masukan dari Gubernur Bali Koster, terutama terkait upaya pembenahan kebijakan keimigrasian demi mendukung pariwisata yang berkelanjutan di Bali.

IMG-20250929-WA0020

Raden Teguh, Aktivis: Penjajahan Berganti Wajah, Kini Berseragam Pejabat

BANYUWANGI || jejakindonesia.id - kembali diguncang kritik keras dari Aktivis Filsafat Logika Berpikir, Raden Teguh Firmansyah, yang menuding keras Bupati Banyuwangi sebagai pemimpin yang diremote kontrol oleh suaminya, mantan Bupati Banyuwangi juga, Abdullah Azwar Anas.

“Bukti paling nyata adalah keberadaan tambang emas di Gunung Tupang Pitu, Kecamatan Pesanggaran. Sudah belasan tahun tambang itu berdiri, tapi apa yang didapat rakyat Banyuwangi? Tidak ada. Justru penderitaan dan kerusakan alam yang mereka rasakan,” tegas Raden Teguh. Senin. 29/9/2025

Menurutnya, izin tambang yang dulu diteken oleh Azwar Anas menjadi awal malapetaka bagi Banyuwangi. “Hari ini, istrinya hanya meneruskan kegagalan yang sama. Mereka melanjutkan jejak serakah, memberi makan perut-perut penjajah berkedok pejabat negara,” lanjutnya.

Raden Teguh menegaskan, kehancuran itu sudah terlihat dengan kasat mata: jalan-jalan rusak parah di Desa Sumberagung hingga Desa Pesanggaran, hutan gundul, banjir lumpur, dan ancaman bencana ekologis. “Ini bukan kemajuan, ini penjajahan gaya baru! Dan para pejabat pura-pura tidak tahu. Jiwa-jiwa penjajah memang selalu pandai bersembunyi di balik jabatan,” sindirnya.

Ia mendesak agar masyarakat Banyuwangi sadar dan bersuara. “Jangan biarkan Banyuwangi dijadikan ladang emas bagi segelintir orang, sementara rakyat terus memikul derita. Logikanya sederhana: kalau benar tambang itu untuk kesejahteraan rakyat, mengapa rakyat justru semakin miskin dan alam kita semakin rusak?” tutupnya.

IMG-20250929-WA0009

Rajin Upload Struk Belanja ke Smart Kampung Banyuwangi, Gadis Asal Bajulmati Dapat Hadiah Motor

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Perasaan kaget dan gembira dirasakan Diah Ayu Prestia Putri saat menerima kabar sebagai pemenang sepeda motor undian Sipundi Wangi langsung dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Minggu (28/9/2025).

Nama Diah keluar sebagai pemenang Undian Sipundiwangi (Sistem Pelaksanaan Undian Pajak Daerah di Banyuwangi) tahap I yang diumumkan di area Community and Food Day (CFD), Minggu pagi (28/9/2025). 8

“Selamat, Diah berhasil mendapatkan hadiah utama sepeda motor pada pengundian perdana program Sipundiwangi,” imbuh Ipuk.

"Alhamdulillah,” jawab gadis asal Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo.

Diah mengaku rutin mengupload struk belanja kuliner ke aplikasi Smart Kampung sejak dia mengetahui ada program Sipundiwangi (Sistem Pelaksanaan Undian Pajak Daerah di Banyuwangi) yang dimulai pertengahan Juli lalu.

Ipuk menjelaskan, Sipundiwangi adalah program yang bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada masyarakat dan pelaku usaha yang tertib administrasi.

Masyarakat yang makan di resto, rumah makan, depot, kafe, warung kopi, dan tempat kuliner lainnya di Banyuwangi bisa mendapat undian berhadiah. Terdapat 83 tempat kulineran yang pelanggannya bisa mengikuti undian berhadiah untuk pelanggan mereka.

Puluhan tempat kulineran tersebut yang telah memasang alat perekam transaksi Tax Mapper, Sijakawangi (Sistem Informasi Pajak Daerah Kabupaten Banyuwangi).

Selain kulineran, masyarakat yang telah membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), juga secara otomatis menjadi peserta undian berhadiah.

Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan Daerah Banyuwangi Samsudin menambahkan, undian tahap pertama ini berlaku bagi masyarakat yang telah mengupload struk belanjanya pada periode 1 Juli – 24 September 2025. Berikutnya, tahap kedua akan diundi saat peringatan Hari Jadi Banyuwangi pada 18 Desember 2025 mendatang.

“Pada tahap kedua nanti sasarannya lebih luas. Selain kulineran dan PBB, juga akan menyasar konsumen perhotelan dan wajib pajak kendaraan bermotor,” ungkapnya.

Ditambahkan dia, Pemkab akan menggulirkan sejumlah program stimulus. Di antaranya, penghapusan sanksi denda pajak PBB Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) sebagai bentuk keringanan kepada para wajib pajak yang mengalami keterlambatan pembayaran.

"Juga ada insentif pajak barang dan jasa tertentu sebesar 10 persen," tutup Samsudin.

error: Content is protected !!