Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Peristiwa

Palangka Raya || jejakindonesia.id – Kapolda Kalimantan Tengah, Irjen Pol Iwan Kurniawan, menghadiri sekaligus mengapresiasi atas terlaksananya Musyawarah Daerah (Musda) X Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) Prov. Kalteng, di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur. Sabtu (18/10/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda Kalteng mengajak FKPPI untuk memperkuat sinergi dalam pembangunan daerah.

“Saya berharap FKPPI dapat menjadi mitra Polri dan pemerintah dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Kalimantan Tengah,” ungkapnya.

Irjen Iwan juga menekankan pentingnya kerjasama antara FKPPI dan Polri dalam membangun daerah yang lebih maju dan sejahtera.

“Semoga melalui Musda X FKPPI Kalteng ini, dapat dijadika momentum penting dalam meningkatkan peran dan kontribusi dalam pembangunan daerah, sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara,” tandasnya.

JAKARTA || jejakindonesia.id – Dalam era digital yang semakin maju, tantangan terhadap keamanan siber semakin kompleks dan tak terlihat. Menyikapi kondisi tersebut, Polri melalui program unggulannya Cyber Presisi tampil di garis depan untuk memberikan perlindungan menyeluruh kepada masyarakat dari berbagai bentuk kejahatan siber.

Cyber Presisi merupakan inisiatif Polri yang dirancang untuk menangkal berbagai serangan siber yang berpotensi merusak stabilitas individu hingga sistem nasional. Dari pencurian data pribadi hingga ancaman terhadap infrastruktur digital negara, semuanya menjadi perhatian utama dalam sistem keamanan berbasis presisi ini.

Menanggapi peran vital Cyber Presisi, Presiden HAI HAC (Haidar Alwi Institute Humanitarian and Anti-Corruption), Ir. R. Haidar Alwi, MT memberikan apresiasi tinggi atas kinerja Polri yang disebutnya telah menunjukkan kecerdasan dan integritas dalam melindungi rakyat.

> “Polri Presisi hadir menjaga rakyat dari kejahatan siber yang tak terlihat. Dari data pribadi hingga sistem nasional, semua dilindungi dengan kecerdasan dan integritas,” tegas Haidar Alwi dalam keterangannya.

Sebagai tokoh yang dikenal aktif dalam gerakan sosial dan anti-korupsi, Haidar Alwi menilai bahwa keberadaan Cyber Presisi bukan hanya menjadi alat pertahanan, tetapi juga bukti komitmen Polri dalam menyesuaikan diri dengan tantangan zaman.

Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan aparat penegak hukum dalam menjaga ruang digital tetap bersih dan aman. Mengusung semangat “Rakyat Bantu Rakyat”, Haidar mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap ancaman siber dan tidak ragu melapor jika menjadi korban kejahatan digital.

> “Cyber crime itu nyata dan bisa menyerang siapa saja, kapan saja. Tapi dengan sistem yang presisi dan pengawasan yang kuat, kita bisa cegah dampak terburuknya,” tambah Haidar.

Cyber Presisi: Pilar Keamanan di Era Digital
Cyber Presisi bukan sekadar program, melainkan transformasi menyeluruh dari cara Polri menghadapi kejahatan digital. Dengan dukungan teknologi mutakhir, personel terlatih, serta kerja sama lintas sektor, program ini dirancang untuk memberikan respons cepat, akurat, dan profesional terhadap segala bentuk ancaman siber.

Langkah-langkah yang dilakukan Polri melalui Cyber Presisi antara lain:
Monitoring dan deteksi dini aktivitas siber mencurigakan.Perlindungan data pribadi masyarakat.Penindakan tegas terhadap pelaku kejahatan siber.Edukasi publik mengenai keamanan digital.

Dengan berkembangnya teknologi dan meningkatnya aktivitas masyarakat di dunia digital, kehadiran Polri melalui Cyber Presisi menjadi sangat relevan dan penting. Dukungan dari masyarakat serta tokoh seperti Haidar Alwi menjadi bukti bahwa keamanan siber adalah tanggung jawab bersama.

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Kabupaten Banyuwangi kembali meraih prestasi dunia. Kali ini Desa Wisata Adat Osing Kemiren Banyuwangi, masuk menjadi bagian Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia, The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025, dari United Nations Tourism (UN Tourism) – Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Penetapan ini dilakukan saat ajang Best Tourism Villages by UN Tourism-2025 Ceremony & Third Annual Network Meeting, di Huzhou, China, Jumat (17/10/2025).

Tahun ini ajang tersebut diikuti lebih dari 270 desa wisata dari 65 negara anggota UN Tourism, yang kemudian dipilih melalui proses penilaian ketat oleh dewan ahli independen.

Dewan penilai independen menilai kandidat berdasarkan beberapa kriteria utama. Meliputi, potensi dan pelestarian sumber daya alam dan budaya. Keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pengembangan pariwisata dan integrasi rantai nilai lokal. Tata kelola, infrastruktur, serta keamanan dan keselamatan wisatawan.

Setelah seleksi ketat, terpilih 72 desa dari Afrika, Amerika, Asia, Eropa, dan Timur Tengah, yang menjadi bagian dari Jaringan Desa Wisata Terbaik. Terdiri dari 52 best tourism village dan 20 best torism village update programme. Desa Kemiren Banyuwangi masuk dalam The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025.

Dengan terpilihnya Desa Kemiren, maka desa yang mayoritas dihuni oleh suku Osing-suku asli Banyuwangi-tersebut masuk dalam jaringan destinasi pedesaan global UN Tourism.

Sekretaris Jenderal UN Tourism, Zurab Pololikashvili, mengatakan pariwisata terbukti menjadi katalis pembangunan yang inklusif dan berkeadilan bagi masyarakat pedesaan.

“Pariwisata mampu menjadi alat yang kuat untuk mendorong kemakmuran bersama, pertumbuhan inklusif, dan kesetaraan wilayah. Desa Wisata Terbaik 2025 menunjukkan bagaimana komunitas lokal melestarikan warisan budaya dan alam mereka, sambil menciptakan peluang ekonomi baru. Dengan memanfaatkan potensi pariwisata, mereka membangun masa depan yang berkelanjutan tanpa meninggalkan siapa pun,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi merupakan salah satu desa wisata budaya yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal. Desa ini dihuni oleh masyarakat asli Suku Osing, yaitu suku asli Banyuwangi yang masih mempertahankan adat dan budaya leluhur mereka.

Keunikan budaya Osing terlihat dari bahasa, arsitektur rumah tradisional, serta berbagai ritual dan upacara adat yang masih dijalankan hingga kini. Desa Kemiren menjadi tempat yang ideal untuk mengenal lebih dekat budaya khas Banyuwangi.

Desa ini bukan hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga pusat pelestarian budaya Osing yang semakin langka di tengah arus modernisasi. Di desa ini kita terdapat sanggar tari Gandrung, beragam tradisi adat seperti Tumpeng Sewu, Barong Ider Bumi, hingga mocoan Lontar Yusuf.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku bangga atas prestasi internasional yang diraih Desa Kemiren.

“Prestasi ini adalah buah dari semangat gotong royong, dan komitmen kuat masyarakat Banyuwangi, khususnya warga Kemiren dalam melestarikan budaya serta mengembangkan pariwisata berkelanjutan,” kata Ipuk.

Menurut Ipuk raihan ini buah dari kekuatan budaya lokal dan pembangunan pariwisata yang berpihak pada lingkungan dan kearifan lokal.

“Kemiren telah menunjukkan bahwa desa dengan akar budaya yang kuat bisa maju dan mendunia tanpa kehilangan jati dirinya. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memperkuat ekosistem pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis budaya,” tambah Ipuk.

Dalam ajang tersebut Banyuwangi diwakili oleh Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Hariyanto, dan perwakilan Desa Kemiren, Muhamad Nanda Al Hakim Akbar.

Prestasi ini mengulang sukses Banyuwangi di kancah pariwisata dunia. Sebelumnya pada 2016, Banyuwangi meraih UNWTO Awards for Excellence and Innovation in Tourism (kini UN Tourism) untuk kategori “Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola”, mengalahkan nominator dari Kolombia, Kenya, dan Puerto Rico.

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Keanggunan Batik Banyuwangi kembali ditampilkan dengan apik dalam Banyuwangi Batik Festival 2025. Event yang digelar rutin sejak 2013 lalu, tahun ini mengangkat motif Wader Kesit, satu dari belasan motif lawas Batik Banyuwangi.

Pagelaran Batik Festival berlangsung di Gesibu Blambangan, Sabtu Malam (19/10/2025) berlangsung memukau. Event ini menampilkan puluhan karya busana batik “apik” dan berkualitas hasil kreativitas pelaku batik daerah. Tak hanya itu, UMKM batik juga turut ambil bagian dalam event yang berlangsung selama 2 hari, 18 – 19 Oktober 2025.

BBF kali ini menampilkan sebanyak 60 busana batik yang merupakan kolaborasi dari 15 desainer busana dan pembatik lokal. Motif “Wader Kesit” tampil memikat di panggung, membawa semangat kolaborasi antara desainer, pengrajin, dan industri.

“BBF bukan sekadar peragaan busana, namun event ini dirancang dengan tujuan yang lebih besar. BBF adalah penali yang menghubungkan para pengrajin batik dengan industri. Event ini sebagai simbol semangat kolaborasi demi mengangkat wastra Banyuwangi ke panggung nasional,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam BBF, Sabtu (18/10/2025).

Setiap tahunnya Banyuwangi Batik Festival digelar dengan mengangkat tema motif batik lokal sebagai upaya untuk terus melestarikan motif-motif lawas khas daerah. Kali ini mengangkat motif “wader kesit”. Wader adalah jenis ikan yang banyak ditemui di sungai. Motif ini memiliki filosofi warga Banyuwangi yang adaptif dalam menghadapi dinamisnya kehidupan dan keberanian menghadapi tantangan.

Sebelumnya, sejak digelar pada 2013 BBF telah mengangkat berbagai motif batik lokal seperti Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi Pecah, Sembruk Cacing, Paras Gempal, Gedhekan, Jenon dan lainnya.

“Kami juga ingin berterima kasih kepada Kantor OJK Jember atas kolaborasi BBF dengan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) guna memperkuat literasi finansial pada industri Batik Banyuwangi,” imbuh Ipuk.

Sementara itu puluhan desain busana batik “Wader Kesit” malam itu tampil mempesona dalam balutan elegan hingga “sporty”. Busana-busana itu didesain “ready to wear” secara apik dan berkualitas dengan pemilihan warna-warna kain yang beragam mulai dari earth tone seperti krem, coklat muda, terakota hingga warna-warna cerah seperti biru, merah, kuning dan jingga.

Salah satu pelaku Batik yang menjadi peserta BBF adalah Samsudin dari IKM Batik Banjarwangi. Menurutnya, BBF menjadi bagian penting dalam perkembangan usaha batik. Dan membuat ekosistem industri batik Banyuwangi terus berkelanjutan.

“Event BBF yang digelar setiap tahun membuat industri batik terus bergeliat dari hulu ke hilir. Mulai dari produksi sampai pemasaran menjadi terus bergairah,” ujarnya.

Dari aspek produksi, BBF menjadi wadah bagi pembatik untuk terus meningkatkan kualitas kain batik hingga busana yang dihasilkan. Sekaligus sarana pemasaran produk yang menghasilkan omset signifikan.

Siti Romelah dari IKM Batik My Isoen yang menjadi peserta sejak 2013, event BBF terbukti sukses menjadi ajang promosi sekaligus pelestarian motif-motif batik yang dimiliki oleh Banyuwangi.

“Ada sekitar 60 motif batik Banyuwangi yang mungkin belum semua publik tahu. BBF adalah sarana mengenalkannya. Setiap motif yang diangkat dalam BBF terbukti sukses menjadi trendsetter motif batik Banyuwangi yang banyak dicari setiap tahunnya, ” ungkapnya.

Sebelumnya event Fashion Show Banyuwangi Batik Festival dan Bulan Inklusi Keuangan OJK juga dirangkai dengan berbagai kegiatan mulai 17-18 September 2025.

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Gandrung Sewu akan hadir pada Sabtu depan, 25 Oktober 2025. Ribuan penari yang akan perform dalam Gandrung Sewu terus berlatih dengan semangat. Menariknya, tahun ini ada ratusan penari dari luar Banyuwangi yang berpartisipasi dalam Gandrung sewu, termasuk diaspora yang tinggal di Amerika Serikat.

Lebih dari seribu penari Gandrung Sewu antusias berlatih di Stadion Diponegoro, Sabtu sore (18/10/2025). Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani hadir langsung memberi semangat kepada para penari.

Ribuan penari dari berbagai usia mulai 4 tahun hingga SMA, termasuk Gandrung senior, tampak bersemangat berlatih formasi dan gerakan.

“Terima kasih kepada anak-anakku semua yang sudah giat berlatih, semangat terus dan semoga kalian terus diberi kesehatan dan bisa menampilkan yang terbaik pada 25 Oktober nanti,” kata Ipuk.

“Terima kasih pula kepada ayah, ibu, semuanya orang tua yang setia mendampingi, yang selalu memberikan support kepada putra-putrinya,” sambungnya.

Menurut Ipuk, tahun ini Gandrung Sewu terasa istimewa karena melibatkan peserta dari berbagai daerah dan juga para kepala desa di Banyuwangi.

Sedikitnya ada 200 penari dari sepuluh kabupaten dan kota lain, termasuk Malang, Kediri, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Probolinggo, Bali, dan Situbondo.

Bahkan, beberapa diaspora asal Banyuwangi dari Sorong Papua, Sumatera Selatan, dan satu penari dari Amerika juga ikut menari bersama ribuan Gandrung lainnya.

“Tahun ini spesial. Ada teman-teman dari luar daerah, dari Papua, bahkan dari Amerika. Juga ada 50 kepala desa yang ikut menari,” kata Ipuk dengan bangga.

Ia berpesan agar seluruh penari memanfaatkan waktu latihan dengan maksimal agar mampu menampilkan yang terbaik saat pementasan nanti.

“Kalian adalah anak-anak terpilih dari sekian banyak yang ikut seleksi. Latihlah dengan giat dan niat yang tulus agar tampil maksimal. Ini bukan hanya untuk Banyuwangi, tapi juga untuk Indonesia,” ucap Ipuk.

Salah satu penari yang mencuri perhatian adalah Dian Novita, penari tradisional asal Tegaldlimo, Banyuwangi yang telah menetap di Milwaukee, Wisconsin sejak 2016. Dia mengaku datang khusus bersama sang suami untuk ikut Gandrung Sewu.

“Saya sangat antusias. Ini pertama kalinya saya ikut Gandrung Sewu di Banyuwangi. Meski menempuh 18 jam perjalanan dari Amerika, saya tetap semangat,” kata Dian.

Ia mengaku kagum dengan skala besar dan makna budaya Gandrung Sewu yang telah dikenal hingga mancanegara. “Ini event yang sangat prestisius dan membanggakan,” ujarnya.

Sementara diaspora Banyuwangi di Sorong Papua, Tri Wahyu Puspitasari, juga turut bangga bisa ikut tampil bersama dua rekannya.

“Kami sebenarnya perantau, tapi asli Banyuwangi. Kami pelaku seni di Sorong dan sering menampilkan tarian Gandrung di berbagai acara,” ujarnya.

“Meski kami tinggal di Sorong, kami tetap cinta Banyuwangi, kami sudah giat berlatih di sanggar seni Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Sorong, dan bangga bisa tampil di tanah kelahiran,” tambahnya.

error: Content is protected !!