Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Opini » Halaman 4

Opini

IMG-20260620-WA0140

SENYUM DI WAJAH, AGENDA DI BALIK PUNGGUNG

JEMBER || Jejak-indonesia.id - Di tengah derasnya arus kehidupan yang dipenuhi berbagai kepentingan, pesan yang disampaikan Selamet Solichin atau yang akrab disapa Mbah Semar, Pembina Umum LBH Watoniah, menjadi refleksi tajam tentang realitas hubungan antarmanusia yang kian kompleks.

"Boleh tersenyum kepada semua orang, tapi jangan pernah percaya kepada semua orang. Lidah tak bertulang, hati manusia juga susah ditebak," ujar Mbah Semar, Sabtu (20/6).

Sekilas kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun jika dikupas lebih dalam, pesan itu sejatinya merupakan kritik sosial yang relevan dengan kondisi saat ini, ketika ketulusan sering kalah oleh kepentingan, dan kejujuran kerap tertutup oleh pencitraan.

Di era modern, banyak orang berlomba menampilkan wajah terbaiknya di depan publik. Senyum menjadi alat untuk mendekatkan diri, kata-kata manis menjadi jembatan meraih simpati, dan pujian menjadi strategi memperoleh kepercayaan. Namun tidak sedikit yang menjadikan semua itu sekadar kemasan luar untuk menyembunyikan tujuan yang sesungguhnya.

Realitas membuktikan, tidak semua orang yang datang dengan keramahan membawa niat baik. Tidak semua yang memuji benar-benar menghargai. Tidak semua yang mengaku sahabat akan tetap berdiri di samping saat keadaan berubah. Bahkan dalam banyak kasus, pengkhianatan justru lahir dari lingkaran terdekat, dari mereka yang selama ini dianggap teman, rekan perjuangan, atau bahkan keluarga sendiri.

Fenomena tersebut dapat ditemukan hampir di semua lini kehidupan. Dalam organisasi, ada yang berbicara tentang solidaritas tetapi diam-diam membangun kelompok demi kepentingan pribadi. Dalam dunia usaha, ada yang mengaku mitra tetapi sibuk mencari celah keuntungan sepihak. Dalam politik, ada yang berteriak tentang pengabdian kepada rakyat, namun lebih fokus menjaga kursi dan kekuasaan.

Ironisnya, orang-orang seperti ini sering kali tampil paling meyakinkan. Mereka pandai berbicara, lihai memainkan emosi, dan mampu menyesuaikan sikap sesuai kebutuhan. Ketika membutuhkan dukungan, mereka hadir dengan penuh keramahan. Ketika tujuan telah tercapai, hubungan yang dulu dibangun dengan berbagai janji perlahan ditinggalkan.

Hari ini memuji setinggi langit, besok menyebarkan cerita yang berbeda. Hari ini mengaku satu perjuangan, esok menjadi pihak yang pertama mengambil jarak. Hari ini terlihat setia, namun ketika angin berubah arah, kesetiaan itu ikut berpindah mengikuti kepentingan yang lebih menguntungkan.

Pesan Mbah Semar mengingatkan bahwa kebijaksanaan hidup bukan hanya tentang berbuat baik kepada semua orang, tetapi juga tentang memahami bahwa tidak semua orang memiliki niat yang sama. Sikap ramah adalah bentuk akhlak yang harus dijaga, namun kewaspadaan adalah benteng yang tidak boleh ditinggalkan.

Dalam perjalanan hidup, kepercayaan adalah investasi yang sangat berharga. Sekali diberikan kepada orang yang salah, dampaknya bisa sangat besar. Persahabatan bisa hancur. Organisasi bisa terpecah. Kerja sama bisa runtuh. Bahkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun dapat rusak hanya karena mempercayai pihak yang tidak layak dipercaya.

Karena itu, ukuran seseorang tidak cukup dinilai dari manisnya ucapan atau hangatnya senyuman. Karakter sejati terlihat dari konsistensi sikap, keberanian menjaga komitmen, dan kesediaan tetap bersama ketika keadaan tidak lagi menguntungkan.

Sejarah kehidupan mengajarkan bahwa musuh yang terlihat sering kali lebih mudah dihadapi daripada teman palsu yang menyembunyikan maksud di balik keramahan. Musuh datang dengan keterbukaan sehingga kita tahu harus bersikap bagaimana. Sebaliknya, orang yang berpura-pura baik dapat masuk melalui pintu kepercayaan, lalu merusak dari dalam tanpa disadari.

Opini ini bukan mengajak masyarakat hidup dalam kecurigaan berlebihan. Namun di tengah zaman yang dipenuhi pencitraan, kepentingan, dan permainan persepsi, setiap orang perlu belajar lebih bijak dalam menilai karakter manusia. Jangan mudah terpukau oleh kata-kata yang indah. Jangan cepat percaya hanya karena sering dipuji. Dan jangan langsung menyerahkan kepercayaan hanya karena seseorang pandai menunjukkan wajah manisnya.

Sebab sebagaimana pesan Mbah Semar, lidah memang tak bertulang sehingga mudah mengucapkan apa saja. Namun hati manusia adalah ruang yang paling sulit dibaca. Di sanalah sering tersimpan niat, ambisi, dan agenda yang tidak selalu terlihat di balik senyum yang menghiasi wajah.

Maka tersenyumlah kepada siapa saja sebagai bentuk penghormatan, tetapi percayalah hanya kepada mereka yang telah membuktikan integritasnya dengan tindakan, bukan sekadar kata-kata. Karena dalam kehidupan, sering kali yang paling berbahaya bukanlah mereka yang terang-terangan menjadi lawan, melainkan mereka yang terus tersenyum sambil diam-diam menunggu kesempatan untuk menjatuhkan.

IMG-20260620-WA0130

Pulang Sebelum Menyapa Dunia: Malaikat Kecilku Kembali kepada Allah, Meninggalkan Cinta yang Tak Pernah Pergi ❤️🤲🏻

JEMBER|| Jejak-indonesia.id - Bagaikan mimpi yang terbangun sebelum sempat menjadi nyata. Keindahan yang selama ini diimpikan, harapan yang tumbuh dalam doa dan penantian, kini telah kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Malaikat kecilku telah lebih dahulu pulang ke hadirat Allah SWT.

Pada awalnya, hati ini sulit menerima. Kesedihan datang silih berganti, meninggalkan ruang kosong yang tak mudah dijelaskan dengan kata-kata. Sebagai manusia biasa, aku pernah bertanya dalam diam, pernah menahan air mata yang jatuh tanpa izin, dan pernah merasa berat untuk mengikhlaskan.

Namun waktu dan keimanan mengajarkan bahwa setiap takdir Allah mengandung hikmah yang mungkin belum mampu dipahami saat ini. Apa yang Allah ambil bukanlah karena kebencian-Nya, melainkan karena Dia lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Hari ini aku belajar untuk ikhlas. Bukan karena sudah tidak bersedih, tetapi karena percaya bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir. Aku belajar bersabar, karena yakin bahwa setiap ujian akan berakhir dengan kebaikan bagi mereka yang tetap berpegang pada iman.

Malaikat kecilku mungkin tidak sempat tumbuh dalam pelukan, tidak sempat dipanggil dengan penuh kasih di dunia ini, tetapi ia telah menjadi bagian dari doa yang akan selalu hidup di dalam hati.

**Ya Allah, titipkan malaikat kecil kami dalam kasih sayang-Mu yang luas. Berikan kekuatan kepada kami untuk menerima takdir-Mu, lapangkan hati kami dengan keikhlasan, dan gantikan kesedihan ini dengan kebahagiaan yang Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak kami ketahui.**

*"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."* (QS. Al-Baqarah: 216)

Semoga Allah mengganti kehilangan ini dengan kebahagiaan yang lebih indah, kesehatan, keberkahan, dan keturunan yang saleh serta salehah pada waktu yang terbaik menurut-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. 🤲🏻

IMG-20260619-WA0007

Mbah Semar: Di Tengah Keramaian, Banyak yang Tertawa Namun Kehilangan Arah

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Di era ketika popularitas sering dianggap sebagai ukuran kebahagiaan, tokoh masyarakat yang akrab disapa Mbah Semar, Selamet Solichin, menyampaikan kritik sosial yang tajam tentang kehidupan modern yang semakin dipenuhi hiruk-pikuk namun miskin ketenangan batin.

Menurutnya, tidak sedikit orang yang tampak bahagia di hadapan publik, tertawa di tengah keramaian, dan dikelilingi banyak orang, tetapi sesungguhnya sedang kehilangan arah dalam perjalanan hidupnya.

"Di tengah keramaian, banyak yang tertawa namun kehilangan arah. Sebab kebahagiaan bukan milik yang paling ramai, melainkan milik hati yang dekat dengan iman," ujar Mbah Semar.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa gemerlap kehidupan, pujian manusia, maupun ramainya lingkungan pergaulan tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan jiwa. Banyak orang terlihat kuat di luar, tetapi menyimpan kegelisahan yang tidak diketahui siapa pun.

Mbah Semar menilai, manusia sering terjebak dalam perlombaan mengejar pengakuan dan popularitas, hingga lupa membangun hubungan dengan Tuhan. Akibatnya, kehidupan menjadi penuh pencapaian materi namun kosong dari makna spiritual.

Menurutnya, iman adalah kompas yang menjaga manusia agar tidak tersesat oleh gemerlap dunia yang sementara. Ketika hati dekat dengan nilai-nilai keimanan, seseorang akan mampu menemukan ketenangan meskipun berada dalam kesederhanaan dan kesunyian.

"Keramaian bisa membuat seseorang lupa pada dirinya sendiri. Namun iman akan selalu mengingatkan dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali," tegasnya.

Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari banyaknya tepuk tangan atau ramainya lingkungan sekitar, melainkan dari hati yang mampu berdamai dengan dirinya sendiri serta tetap teguh dalam keimanan di tengah berbagai godaan zaman.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh pencitraan dan perlombaan status sosial, pesan Mbah Semar hadir sebagai kritik sekaligus nasihat: jangan sampai hidup terlihat meriah di luar, tetapi kehilangan cahaya iman di dalam.

IMG-20260618-WA0125

Mbah Semar: Waktu Tidak Harus Diukur dengan Uang, Namun Harus Diisi dengan Ibadah dan Kemanfaatan

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Kamis (18/6/2026), di tengah arus kehidupan modern yang semakin menempatkan materi dan keuntungan ekonomi sebagai ukuran utama keberhasilan, tokoh masyarakat yang akrab disapa Mbah Semar menyampaikan refleksi mendalam mengenai hakikat waktu, kehidupan, dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Menurutnya, salah satu kekeliruan yang kini banyak terjadi di tengah masyarakat adalah ketika waktu selalu dihitung berdasarkan nilai uang yang dapat dihasilkan. Padahal, tidak semua waktu harus dikonversi menjadi keuntungan materi. Ada nilai yang jauh lebih tinggi daripada sekadar keuntungan finansial, yaitu nilai ibadah, pengabdian, dan kemanfaatan bagi sesama.

> "Waktu tidak harus diukur dengan uang, namun waktu harus terus digunakan untuk beribadah," tegas Mbah Semar.

Pernyataan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengabaikan pentingnya bekerja atau mencari nafkah. Sebaliknya, Mbah Semar menegaskan bahwa bekerja secara jujur dan bertanggung jawab merupakan bagian dari ibadah. Namun ia mengingatkan agar manusia tidak terjebak pada pola pikir yang menjadikan seluruh hidup hanya berorientasi pada keuntungan duniawi.

Menurutnya, perkembangan zaman telah melahirkan budaya kompetisi yang sangat tinggi. Banyak orang rela mengorbankan kesehatan, keluarga, bahkan ketenangan batin demi mengejar target ekonomi dan status sosial. Akibatnya, tidak sedikit yang merasa kehilangan makna hidup meskipun secara materi telah mencapai berbagai pencapaian.

"Waktu yang diberikan Tuhan bukan hanya untuk mencari penghasilan. Ada waktu untuk beribadah, untuk menuntut ilmu, untuk membantu sesama, untuk membangun keluarga, dan untuk memperbaiki diri. Jika seluruh waktu hanya dihabiskan mengejar dunia, maka manusia akan kehilangan keseimbangan hidup," ujarnya.

Mbah Semar menjelaskan bahwa uang pada hakikatnya hanyalah alat, sedangkan waktu adalah amanah. Uang yang hilang masih dapat dicari kembali melalui kerja keras, tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah dapat dibeli ataupun diulang.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijaksana dalam memanfaatkan umur yang diberikan Tuhan. Setiap detik kehidupan hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk menambah amal kebaikan dan memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Ia juga menyoroti fenomena masyarakat yang sering menunda ibadah, menunda berbuat baik, atau menunda mempererat silaturahmi dengan alasan kesibukan pekerjaan. Padahal, kata dia, tidak ada jaminan bahwa seseorang akan memiliki kesempatan yang sama di masa mendatang.

"Sering kali kita menghitung berapa uang yang masuk setiap hari, tetapi jarang menghitung berapa banyak kebaikan yang telah kita lakukan. Kita sibuk mengejar target dunia, namun lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih panjang setelah dunia ini," katanya.

Lebih lanjut, Mbah Semar menekankan bahwa konsep ibadah tidak hanya terbatas pada ritual keagamaan semata. Membantu orang yang membutuhkan, menjaga kejujuran dalam pekerjaan, menghormati orang tua, mendidik anak dengan baik, menjaga lingkungan, hingga memberikan manfaat bagi masyarakat merupakan bentuk ibadah yang memiliki nilai luhur di hadapan Tuhan.

Menurutnya, manusia yang paling beruntung bukanlah mereka yang memiliki harta paling banyak, melainkan mereka yang mampu memanfaatkan waktunya untuk menghasilkan manfaat yang luas bagi kehidupan orang lain.

"Ketika usia berakhir, yang akan dikenang bukan jumlah kekayaan yang dimiliki, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan. Harta bisa habis, jabatan bisa berakhir, tetapi amal baik akan terus menjadi warisan nilai bagi generasi berikutnya," tuturnya.

Di akhir pesannya, Mbah Semar mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan waktu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, memperbanyak amal saleh, dan membangun kehidupan yang lebih bermakna.

"Pada akhirnya, manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan, tetapi bagaimana ia menggunakan waktu, kesempatan, dan amanah yang telah diberikan Tuhan selama hidup di dunia. Karena waktu adalah kehidupan itu sendiri, dan setiap detiknya akan dimintai pertanggungjawaban," pungkas Mbah Semar.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus materialisme dan persaingan hidup, manusia tetap membutuhkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Sebab sejatinya, nilai tertinggi dari waktu bukanlah berapa rupiah yang dihasilkan, melainkan berapa banyak ibadah, manfaat, dan kebaikan yang mampu diwujudkan selama hayat masih dikandung badan.

IMG-20260618-WA0119

Dari Mengwi untuk Indonesia: Brigjen Pol Dr. Putu Putera Sadana, Jenderal Humanis yang Kini Memimpin BNNP Bali

DENPASAR || Jejak-indonesia.id - Masyarakat Bali, khususnya Kabupaten Badung, patut berbangga. Salah satu putra terbaik daerah, Brigjen Pol Dr. Putu Putera Sadana, S.I.K., M.Hum., M.M., kembali dipercaya mengemban amanah strategis sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali. Sebelum mendapat penugasan tersebut, alumni Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1995 ini menjabat sebagai Kepala Humas BNN RI dan dikenal luas sebagai sosok komunikatif yang aktif mengedukasi masyarakat melalui berbagai platform, termasuk kanal YouTube resmi BNN RI.

Karier Brigjen Putu Putera Sadana merupakan cerminan perjalanan panjang seorang perwira yang ditempatkan dari berbagai medan tugas. Pengabdiannya dimulai sebagai Kanit Intel Polsek Ubud pada tahun 1997. Berbekal dedikasi dan kemampuan kepemimpinan yang terus berkembang, ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Kuta pada tahun 2002, salah satu wilayah yang memiliki tantangan keamanan dan ketertiban masyarakat yang cukup kompleks.

Kariernya terus menanjak dengan berbagai penugasan penting, mulai dari Kapolsek Metro Gambir, Kasatreskrim di wilayah Jawa Barat, hingga dipercaya menjadi Kapolres Tabanan pada tahun 2015. Setahun kemudian, ia mendapat amanah sebagai Wakapolres Metro Bekasi. Pengalaman di bidang reserse, manajemen kepolisian, hingga penegakan hukum menjadikan dirinya dikenal sebagai perwira yang memiliki kapasitas lengkap, baik di bidang operasional maupun akademik.

Tak hanya berkiprah di lapangan, Brigjen Putu Putera Sadana juga pernah dipercaya menjadi Dosen Utama di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri. Penugasan tersebut menunjukkan pengakuan institusi terhadap kompetensi akademik dan kemampuannya dalam mencetak generasi penerus kepolisian yang profesional.

Pada tahun 2019, ia kembali mendapat tugas penting sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Papua. Jabatan strategis tersebut menguji kemampuannya dalam menangani berbagai kasus yang membutuhkan ketelitian, integritas, dan keberanian dalam penegakan hukum. Selanjutnya, ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Bidang Hukum Polda Metro Jaya sebelum akhirnya dipercaya menduduki posisi Kepala Humas BNN RI.

Pengalaman internasional juga menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Ia pernah bergabung dalam misi pasukan perdamaian di Bosnia, membawa nama Indonesia dalam tugas kemanusiaan dan perdamaian dunia. Pengalaman tersebut semakin memperkaya wawasan dan kapasitas kepemimpinannya dalam menghadapi berbagai tantangan tugas.

Di luar jabatan dan prestasinya, Brigjen Putu Putera Sadana dikenal sebagai sosok yang sederhana, murah senyum, dan dekat dengan masyarakat. Julukan “Jenderal Nyentrik” melekat karena gaya kepemimpinannya yang unik, anti-mainstream, namun tetap tegas dan berwibawa. Ia tidak segan berbaur dengan masyarakat dari berbagai kalangan, menjadikan dirinya sosok pemimpin yang humanis dan mudah diterima.

Menariknya, jauh sebelum dikenal luas sebagai perwira tinggi Polri dan pejabat BNN RI, Putu Putera Sadana pernah mendapat kepercayaan menjadi pengawal pribadi Prabowo Subianto saat pencalonan presiden tahun 2009 yang berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri. Kepercayaan tersebut menunjukkan kedekatan dan tingkat profesionalisme yang telah diakui sejak lama. Banyak pihak bahkan menyebut peran yang dijalankannya kala itu mirip dengan figur pengawal kepercayaan yang kini dikenal masyarakat luas.

Kini, dengan pengalaman hampir tiga dekade pengabdian, Brigjen Pol Dr. Putu Putera Sadana kembali ke Bali untuk mengemban tugas besar memimpin BNNP Bali. Kehadirannya membawa harapan baru dalam memperkuat perang melawan narkotika di Pulau Dewata, sekaligus membangun sinergi yang lebih kuat antara aparat penegak hukum, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat.

Penunjukan Brigjen Putu Putera Sadana bukan hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga besar Polri, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Bali. Dari Mengwi, Badung, ia membuktikan bahwa dedikasi, kerja keras, integritas, dan kedekatan dengan rakyat dapat mengantarkan seseorang mengemban amanah besar untuk bangsa dan negara. Sebuah perjalanan panjang yang menginspirasi generasi muda Bali untuk terus berkarya, mengabdi, dan memberikan yang terbaik bagi Indonesia.

error: Content is protected !!