Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Opini » Halaman 3

Opini

IMG-20260625-WA0054

Jejak Sejarah Keluarga Residen Besuki: R. Kusnandar Astrodiarjo Tinggalkan Kemewahan Demi Menggapai Kemandirian

BANYUWANGI – Jejak-indonesia.id - kisah perjalanan hidup R. Kusnandar Astrodiarjo menjadi bagian menarik dari sejarah keluarga yang memiliki keterkaitan dengan lingkungan pemerintahan Residen Besuki pada masanya. Terlahir dari keluarga terpandang dan berkecukupan, ia justru memilih jalan hidup yang berbeda dari apa yang telah dipersiapkan oleh keluarganya.

Menurut penuturan keluarga, R. Kusnandar Astrodiarjo merupakan putra dari Raden Kusman, sosok yang dikenal memiliki pengaruh dan kedudukan penting di lingkungan pemerintahan serta pengelolaan berbagai aset pada zamannya. Kehidupan keluarga yang mapan membuat segala kebutuhan hidup tersedia dengan mudah, bahkan disebut hidup dalam lingkungan yang penuh fasilitas dan kemewahan.

Namun, kemapanan tersebut tidak membuat R. Kusnandar Astrodiarjo merasa nyaman berada dalam bayang-bayang status keluarga besar Residen Besuki. Sejak muda, ia dikenal memiliki karakter mandiri dan keinginan kuat untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa bergantung pada nama besar keluarga.

Keinginan untuk keluar dari lingkaran pengaruh keluarga semakin kuat ketika dirinya menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) Sukabumi pada tahun 1968. Di tengah perjalanan pendidikan yang dianggap prestisius tersebut, ia mengambil keputusan besar yang mengejutkan banyak pihak, yakni memilih meninggalkan jalur yang telah disiapkan keluarga demi mengejar cita-cita dan kebebasan menentukan arah hidupnya sendiri.

Langkah berani itu membawanya merantau ke Sulawesi. Di tanah rantau, ia bertemu dengan seorang sahabat bernama Gatot yang saat itu bertugas di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sulawesi Tengah. Pertemuan tersebut menjadi awal perjalanan baru yang mengubah arah kehidupannya.

Berbekal kemampuan dan tekad yang kuat, R. Kusnandar Astrodiarjo mulai menekuni dunia konstruksi dan arsitektur. Salah satu proyek yang disebut menjadi tonggak awal kiprahnya adalah keterlibatan dalam pembangunan rumah jabatan Gubernur Sulawesi Tengah. Dari proyek tersebut, namanya mulai dikenal sebagai sosok pekerja keras yang lebih mengandalkan kemampuan dan dedikasi dibanding latar belakang keluarganya.

Perjalanan hidup yang penuh keberanian itu kini menjadi bagian dari cerita keluarga yang diwariskan lintas generasi. Semangat untuk keluar dari zona nyaman, menghadapi tantangan, serta membangun kehidupan melalui kerja keras menjadi nilai yang terus dikenang oleh keturunannya.

Lebih dari lima dekade kemudian, jejak perjuangan tersebut disebut masih tercermin dalam perjalanan hidup putranya, Agus Flores. Jika sang ayah dahulu memilih meninggalkan Jawa menuju Sulawesi untuk mencari jati diri dan membangun masa depan, maka generasi berikutnya justru menempuh perjalanan sebaliknya, dari Sulawesi kembali ke Jawa dengan membawa semangat perjuangan yang sama.

Bagi keluarga besar mereka, kisah R. Kusnandar Astrodiarjo bukan sekadar cerita tentang keturunan bangsawan atau keluarga pejabat. Lebih dari itu, kisah tersebut menjadi simbol keberanian untuk menentukan pilihan hidup sendiri, melepaskan diri dari kenyamanan yang sudah tersedia, serta membuktikan bahwa kesuksesan sejati dibangun melalui kerja keras, pengorbanan, dan keteguhan prinsip.

Warisan itulah yang hingga kini terus dikenang sebagai bagian dari jejak sejarah keluarga Residen Besuki yang melahirkan generasi-generasi dengan karakter kuat dan semangat kemandirian.

IMG-20260622-WA0097

Berikut artikel yang lebih tajam, mendalam, dan bernuansa kritis namun tetap menghormati budaya Jawa:

PELET WETON PAHING: ANTARA MITOS, KARISMA, DAN REALITAS PSIKOLOGIS

Membongkar Keyakinan yang Telanjur Dianggap Kebenaran

Di berbagai daerah di Jawa, nama Weton Pahing sering dikaitkan dengan daya pikat luar biasa. Tidak sedikit yang percaya bahwa pemilik weton ini memiliki kemampuan "pelet alami" yang mampu membuat orang lain jatuh hati, selalu teringat, bahkan sulit melepaskan diri secara emosional.

Cerita-cerita semacam ini telah diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari khazanah budaya masyarakat. Namun pertanyaannya, apakah benar ada kekuatan gaib dalam Weton Pahing yang mampu mengendalikan perasaan manusia? Ataukah yang selama ini disebut "pelet Pahing" sebenarnya hanyalah penafsiran berlebihan terhadap karakter dan kepribadian tertentu?

Jika ditelaah secara kritis, sebagian besar klaim mengenai pelet weton tidak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa hari kelahiran seseorang mampu menciptakan energi supranatural yang dapat memaksa orang lain jatuh cinta atau kehilangan kehendak bebasnya.

Yang ada justru fenomena psikologis yang sering disalahartikan sebagai kekuatan mistis.

Ketika Karisma Disalahpahami Sebagai Pelet

Dalam kehidupan sosial, manusia secara alami tertarik kepada sosok yang memiliki kepercayaan diri tinggi, semangat hidup yang kuat, kemampuan berbicara yang baik, serta kehadiran yang menenangkan.

Seseorang yang mampu membuat orang lain merasa dihargai, didengarkan, dan diperhatikan sering kali meninggalkan kesan mendalam. Kesan inilah yang kemudian oleh sebagian orang diterjemahkan sebagai "terkena pelet".

Padahal, ilmu psikologi menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mengingat pengalaman emosional yang kuat. Ketika seseorang hadir dengan energi positif, antusiasme, dan ketulusan yang jarang ditemui, otak akan menyimpan pengalaman tersebut lebih lama dibandingkan interaksi biasa.

Dengan kata lain, rasa "kantil" atau terus teringat kepada seseorang tidak selalu berasal dari kekuatan gaib. Dalam banyak kasus, hal itu muncul karena adanya kesan emosional yang kuat dan pengalaman sosial yang menyenangkan.

Simbol Api dalam Filsafat Jawa

Dalam tradisi Kejawen, unsur Geni atau Api bukan semata-mata dimaknai sebagai kekuatan magis. Api adalah simbol kehidupan.

Api melambangkan keberanian menghadapi tantangan.

Api melambangkan semangat yang tidak mudah padam.

Api melambangkan kemampuan menerangi lingkungan sekitar.

Karena itulah, banyak ajaran Jawa kuno sebenarnya tidak mengarahkan seseorang untuk menggunakan pengaruhnya demi mengendalikan orang lain. Sebaliknya, ajaran tersebut mendorong manusia menjadi "Pepadhang" atau penerang bagi sesamanya.

Makna ini jauh lebih luhur dibandingkan sekadar mencari kemampuan untuk memikat atau menguasai perasaan orang lain.

Mengapa Orang yang Penuh Dendam Kehilangan Daya Tarik?

Fenomena ini dapat dijelaskan secara logis.

Orang yang menyimpan kemarahan berkepanjangan cenderung mengalami perubahan ekspresi wajah, nada bicara, bahasa tubuh, hingga cara berpikir. Energi negatif yang dipelihara terus-menerus akan tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Akibatnya, orang lain merasa tidak nyaman berada di dekatnya.

Bukan karena aura mistis berubah menjadi buruk, melainkan karena emosi negatif secara alami memengaruhi kualitas hubungan sosial.

Sebaliknya, individu yang mampu memelihara optimisme, ketulusan, dan rasa syukur biasanya lebih mudah diterima dalam lingkungan pergaulan. Mereka memancarkan rasa aman yang membuat orang lain nyaman untuk mendekat.

Bahaya Ketika Mitos Menjadi Alat Manipulasi

Persoalan muncul ketika mitos tentang pelet digunakan sebagai alat untuk menakut-nakuti, memengaruhi, atau bahkan mengeksploitasi orang lain.

Tidak sedikit pihak yang memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelet untuk menjual ritual, benda-benda tertentu, hingga jasa spiritual dengan janji mampu mengendalikan perasaan seseorang.

Padahal cinta, penghormatan, dan kesetiaan sejati tidak pernah lahir dari paksaan.

Hubungan yang sehat dibangun melalui komunikasi, kepercayaan, ketulusan, dan penghargaan terhadap kebebasan masing-masing individu.

Menganggap bahwa seseorang dapat dipaksa mencintai melalui kekuatan gaib justru merendahkan hakikat hubungan manusia yang seharusnya didasarkan pada kesadaran dan pilihan.

Weton Sebagai Warisan Budaya, Bukan Alat Mengendalikan Takdir

Weton memiliki nilai penting sebagai bagian dari identitas budaya Jawa. Di dalamnya terdapat berbagai filosofi tentang karakter, etika hidup, keseimbangan diri, dan hubungan manusia dengan alam semesta.

Namun weton tidak seharusnya dipahami sebagai penentu mutlak nasib seseorang.

Karakter manusia dibentuk oleh pendidikan, lingkungan, pengalaman hidup, nilai moral, serta keputusan yang diambil setiap hari.

Hari kelahiran mungkin menjadi simbol budaya yang menarik untuk direnungkan, tetapi masa depan seseorang tetap ditentukan oleh tindakan nyata yang dilakukan dalam kehidupannya.

Kesimpulan

Mitos tentang "Pelet Weton Pahing" pada dasarnya lebih banyak hidup dalam ranah kepercayaan daripada fakta yang dapat dibuktikan. Apa yang sering dianggap sebagai kekuatan gaib sebenarnya lebih dekat dengan karisma, kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, dan energi positif yang dimiliki seseorang.

Dalam filsafat Jawa sendiri, makna tertinggi dari unsur Api bukanlah membakar kehendak orang lain, melainkan menjadi cahaya yang memberi manfaat bagi sesama.

Karena itu, daya tarik terbesar seseorang bukan terletak pada mantra, jimat, atau pelet, melainkan pada kualitas dirinya sendiri: kejujuran, keberanian, ketulusan, empati, serta kemampuannya menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Itulah "pelet" yang sesungguhnya—bukan kekuatan untuk menguasai hati orang lain, melainkan kemampuan untuk menginspirasi dan menerangi kehidupan mereka.

IMG-20260621-WA0103

Mbah Semar: Tidak Semua Kekuatan Harus Ditunjukkan, Saatnya Tenang dan Saatnya Api Berbicara

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial yang semakin keras, pesan tentang ketenangan, kesabaran, dan pengendalian diri kembali disampaikan oleh Selamet Solichin yang akrab disapa Mbah Semar. Melalui sebuah visual artistik yang menggambarkan sosok manusia dengan separuh wajah tertutup topeng api, Mbah Semar mengajak masyarakat memahami makna kekuatan yang sesungguhnya.

Menurutnya, banyak orang masih mengukur kekuatan dari seberapa lantang seseorang berbicara, seberapa besar pengaruh yang ditampilkan, atau seberapa keras seseorang merespons sebuah persoalan. Padahal, kekuatan sejati justru lahir dari kemampuan mengendalikan emosi, menjaga prinsip, dan tetap teguh dalam menghadapi berbagai tekanan.

"Tidak semua kekuatan harus ditunjukkan. Ada saatnya tetap tenang, dan ada waktunya api di dalam diri berbicara," tegas Mbah Semar, Minggu (21/6).

Pernyataan tersebut muncul sebagai refleksi atas kondisi kehidupan saat ini yang kerap dipenuhi perdebatan, konflik kepentingan, hingga budaya saling menyerang di ruang publik maupun media sosial. Dalam situasi seperti itu, banyak orang terpancing untuk bereaksi secara emosional. Namun menurut Mbah Semar, tidak semua persoalan harus dijawab dengan kemarahan atau konfrontasi.

Visual yang menampilkan sosok pria berkacamata hitam dengan separuh wajah tertutup topeng lava menyala menjadi simbol kuat tentang dualitas karakter manusia. Satu sisi menggambarkan ketenangan, kebijaksanaan, dan kemampuan menahan diri. Di sisi lain, tersimpan keberanian, ketegasan, dan semangat juang yang siap muncul ketika kebenaran, kehormatan, atau kepentingan masyarakat harus dibela.

Mbah Semar menilai bahwa diam sering kali disalahartikan sebagai bentuk kelemahan. Padahal, dalam banyak keadaan, diam merupakan pilihan strategis yang lahir dari kedewasaan berpikir dan kemampuan membaca situasi.

"Orang yang terus-menerus menunjukkan kekuatannya belum tentu kuat. Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan dirinya saat diprovokasi justru menunjukkan kualitas kepemimpinan dan kematangan karakter yang sesungguhnya," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa api yang dimaksud bukanlah simbol kemarahan yang membabi buta, melainkan semangat perjuangan yang menyala untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.

"Api yang sesungguhnya bukan api kemarahan yang membakar tanpa arah, melainkan api semangat yang menyala untuk menjaga kebenaran, keadilan, dan martabat," tambahnya.

Pesan tersebut juga menjadi pengingat bahwa seseorang tidak perlu terus-menerus membuktikan siapa dirinya kepada publik. Integritas, rekam jejak, dan karya nyata akan berbicara lebih kuat daripada sekadar pencitraan atau klaim yang berulang-ulang disampaikan.

Di era digital yang serba cepat dan terbuka, filosofi yang disampaikan Mbah Semar dinilai relevan bagi semua kalangan. Bahwa ketenangan bukanlah tanda ketakutan, kesabaran bukanlah kelemahan, dan sikap diam bukan berarti kehilangan kemampuan untuk bertindak. Ada waktunya seseorang memilih menahan diri, dan ada waktunya menunjukkan ketegasan demi memperjuangkan apa yang diyakininya benar.

Melalui pesan tersebut, Mbah Semar mengajak masyarakat untuk membangun karakter yang seimbang antara keberanian dan kebijaksanaan. Sebab dalam setiap perjuangan, bukan hanya keberanian yang dibutuhkan, tetapi juga kecerdasan dalam menentukan kapan harus melangkah dan kapan harus menahan diri.

"Orang kuat bukan yang selalu terlihat garang. Orang kuat adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya, menjaga prinsipnya, dan tahu kapan saatnya api di dalam dirinya harus menyala," pungkas Mbah Semar.

IMG-20260621-WA0082

Ketua Laskar Sakera Banyuwangi Soroti Praktik Penyuduhan Sambil Menikmati Kopi dan Rokok: “Tabayyun Harus Didahulukan daripada Prasangka”

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id - Ketua Ormas Laskar Sakera Banyuwangi, Nurul Amin, menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena yang kerap terjadi di tengah masyarakat, yakni kebiasaan sebagian orang yang mudah melontarkan tuduhan, opini, maupun penilaian terhadap seseorang tanpa didukung bukti, data, dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut Nurul Amin, perkembangan media sosial dan derasnya arus informasi saat ini telah membuka ruang yang sangat luas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga memunculkan budaya saling menuduh, menyebarkan dugaan, hingga membangun opini yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Dalam keterangannya pada Minggu (21/6), Nurul Amin mengutip sebuah untaian kalimat berbahasa Arab yang kerap digunakan dalam doa dan munajat:

> سَأَلْتُكَ بِالْإِسْمِ الْمُعَظَّمِ قَدْرُهُ
Sa'altuka bil ismil mu'adhdhomi qodruhu
Artinya: "Aku memohon kepada-Mu dengan nama-Mu yang agung dan mulia kedudukannya."

 

> بِأَجٍّ أَهُوْجٍ جَلْجَلُوْتٍ هَلْهَلَتْ
Bi ajjin ahuujin jaljaluutin halhalat
Artinya: "Dengan rahasia kebesaran dan keagungan nama-nama-Mu yang luhur."

 

Menurutnya, rangkaian doa tersebut mengandung pesan mendalam tentang pentingnya kerendahan hati, kehati-hatian dalam bertindak, serta menjaga lisan agar tidak menyakiti atau merugikan orang lain.

"Makna yang dapat kita ambil adalah bahwa sebelum berbicara tentang orang lain, apalagi sampai menuduh, seseorang seharusnya terlebih dahulu mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon petunjuk, dan memastikan bahwa apa yang disampaikan benar-benar berdasarkan fakta dan kebenaran," ujarnya.

Nurul Amin menilai, salah satu persoalan yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah munculnya tuduhan yang dibangun hanya berdasarkan asumsi, prasangka, atau informasi sepihak. Padahal, tuduhan yang tidak didukung bukti dapat menimbulkan dampak serius, baik bagi individu maupun kehidupan sosial secara luas.

Ia menyoroti kebiasaan sebagian orang yang dengan mudah memberikan penilaian negatif terhadap pihak lain tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Bahkan, menurutnya, tidak sedikit tuduhan yang dilontarkan dalam suasana santai tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang dapat ditimbulkan.

"Jangan sampai seseorang dengan santainya menuduh orang lain hanya sambil menikmati kopi dan menghisap rokok, tanpa memiliki bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Tuduhan yang tidak berdasar bisa melukai kehormatan seseorang, merusak hubungan sosial, bahkan memicu konflik yang lebih besar," tegasnya.

Lebih lanjut, Nurul Amin mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam terdapat prinsip tabayyun, yaitu sikap melakukan klarifikasi dan verifikasi terhadap setiap informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya kepada pihak lain.

Menurutnya, nilai tabayyun sangat relevan diterapkan di era digital saat ini. Kecepatan penyebaran informasi melalui media sosial sering kali membuat masyarakat tergesa-gesa mengambil kesimpulan tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenaran informasi yang diterima.

"Kita harus membiasakan diri mencari kebenaran terlebih dahulu. Jangan mudah terprovokasi oleh isu, kabar burung, atau cerita yang belum jelas sumbernya. Jika ada persoalan, selesaikan dengan dialog dan klarifikasi, bukan dengan prasangka dan tuduhan," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi. Namun, kebebasan tersebut harus dijalankan secara bertanggung jawab, beretika, dan tidak melanggar hak serta kehormatan orang lain.

Nurul Amin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun budaya komunikasi yang sehat, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, serta mengedepankan fakta dalam setiap kritik maupun perbedaan pandangan.

"Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun jika perbedaan itu diwarnai fitnah, prasangka, dan tuduhan tanpa dasar, maka yang lahir bukan solusi, melainkan perpecahan. Karena itu, mari kita biasakan berbicara berdasarkan data, fakta, dan kebenaran, bukan sekadar asumsi," pungkasnya.

Melalui pesan tersebut, Nurul Amin berharap masyarakat semakin bijak dalam menyikapi informasi, menjaga etika dalam berkomunikasi, serta mengutamakan tabayyun sebagai jalan untuk menjaga persatuan, keharmonisan sosial, dan nilai-nilai persaudaraan di tengah kehidupan bermasyarakat.

IMG-20260621-WA0079

Mengabdi Tanpa Terbelah: Jalan Muhammadiyah Mencintai Indonesia

Muhammad Helmi Rosyadi

 

Jejak-indonesia.id || Di tengah dinamika politik yang semakin keras, masyarakat sering dipaksa memilih dua kutub: menjadi pendukung pemerintah atau menjadi pengkritik pemerintah. Akibatnya, ruang publik dipenuhi polarisasi. Mereka yang memberikan apresiasi dianggap kehilangan daya kritis, sementara mereka yang mengkritik kerap dicap anti-pemerintah, bahkan dituduh tidak mencintai negara.

Cara pandang semacam itu tidak hanya menyederhanakan persoalan, tetapi juga bertentangan dengan semangat demokrasi dan tradisi Muhammadiyah.

Sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar yang mengusung visi Islam Berkemajuan, Muhammadiyah memandang Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah—negara hasil konsensus kebangsaan yang wajib dijaga bersama sekaligus menjadi medan pengabdian untuk menghadirkan nilai-nilai Islam yang mencerahkan, memajukan, dan menyejahterakan masyarakat. Konsep ini menjadi fondasi kokoh kecintaan Muhammadiyah terhadap Indonesia; bukan sekadar slogan, melainkan bagian dari pengamalan ajaran Islam.

Karena itu, kader Muhammadiyah yang berada di dalam maupun di luar pemerintahan sama-sama mulia. Yang membedakan hanyalah medan pengabdiannya, bukan nilai pengabdiannya.

Kader Muhammadiyah yang mengemban amanah di pemerintahan berkewajiban bekerja secara profesional, amanah, dan maksimal demi menyukseskan program-program yang berpihak kepada kepentingan rakyat. Namun loyalitas kepada pemerintah tidak boleh berubah menjadi budaya asal bapak senang. Lebih berbahaya lagi apabila menjelma menjadi sikap menjilat kekuasaan, mengorbankan integritas demi jabatan, dan menutup mata terhadap kesalahan.

Kesetiaan kader Muhammadiyah bukan kepada individu yang sedang memegang kekuasaan, melainkan kepada Allah, bangsa, negara, konstitusi, serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Di sisi lain, kader Muhammadiyah yang berada di luar pemerintahan memikul tanggung jawab yang tidak kalah penting. Mereka menjalankan fungsi kontrol sosial melalui kritik, masukan, dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. Namun kritik dalam tradisi Muhammadiyah bukanlah caci maki, fitnah, ujaran kebencian, atau sekadar pencarian sensasi. Kritik harus lahir dari ilmu, disampaikan dengan adab, ditopang argumentasi yang kuat, serta dibarengi tanggung jawab moral.

Mengkritik memang mudah, tetapi mempertanggungjawabkan kritik membutuhkan kejujuran intelektual dan kedewasaan akhlak.

Dalam sistem demokrasi, baik mereka yang mengapresiasi maupun yang mengkritisi pemerintah sejatinya sedang menjalankan tanggung jawab kebangsaan. Demokrasi membutuhkan keduanya. Apresiasi yang objektif akan memperkuat kebijakan yang benar, sedangkan kritik yang konstruktif menjadi pengingat agar kekuasaan tidak keluar dari rel konstitusi dan kepentingan rakyat.

Sebab loyalitas warga negara bukan kepada penguasa, melainkan kepada bangsa, negara, dan konstitusi. Pemerintah datang dan pergi melalui mekanisme demokrasi, tetapi Indonesia harus tetap berdiri tegak.

Karena itu, tidak adil jika kader Muhammadiyah yang mendukung program pemerintah yang baik langsung dicap sebagai penjilat kekuasaan. Selama dukungan diberikan secara rasional, objektif, dan tetap berpegang pada prinsip amar makruf nahi mungkar, maka dukungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar membangun bangsa.

Sebaliknya, kader Muhammadiyah yang menyampaikan kritik secara santun, berbasis data, dan bertanggung jawab juga tidak layak dituduh anti-pemerintah, apalagi dianggap tidak mencintai Indonesia.

Dukungan yang berintegritas dan kritik yang bermartabat sesungguhnya adalah dua sisi dari pengabdian yang sama. Yang satu membantu memperkuat jalannya pemerintahan, sementara yang lain memastikan agar kekuasaan tetap berada di jalan yang benar. Keduanya lahir dari kecintaan terhadap agama, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Realitas tersebut dapat disaksikan pada pemerintahan saat ini. Tidak sedikit kader Muhammadiyah yang mendapat amanah menduduki posisi strategis dalam Kabinet Presiden Prabowo Subianto. Pada saat yang sama, banyak pula kader Muhammadiyah yang berada di luar pemerintahan dan secara konsisten memberikan masukan, koreksi, serta kritik terhadap berbagai kebijakan publik, mulai dari penegakan hukum, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tata kelola pemerintahan, hingga berbagai persoalan kebangsaan lainnya.

Semua itu tidak seharusnya dipertentangkan. Bagi Muhammadiyah, keberagaman peran tersebut justru merupakan kekayaan organisasi sekaligus cerminan jati dirinya yang independen.

Independen bukan berarti menjaga jarak dari negara, melainkan bebas dari kepentingan politik praktis sehingga mampu mendukung kebijakan yang benar dan mengoreksi kebijakan yang keliru dengan tetap menjunjung tinggi adab, ilmu, dan tanggung jawab.

Muhammadiyah sejak awal tidak mendidik kadernya menjadi oposisi permanen. Namun Muhammadiyah juga tidak mendidik kadernya menjadi pendukung tanpa syarat. Muhammadiyah mendidik kader agar selalu berpihak kepada kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan.

Ketika pemerintah mengambil kebijakan yang baik, maka sudah semestinya didukung. Ketika terdapat kebijakan yang keliru, maka harus diingatkan dengan cara yang bermartabat. Inilah hakikat dakwah amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, kader Muhammadiyah tidak dibenarkan bersikap anti-pemerintah, apalagi anti-negara. Muhammadiyah bukan gerakan yang mengajarkan permusuhan terhadap kekuasaan. Namun Muhammadiyah juga bukan organisasi yang membenarkan sikap membela pemerintah secara membabi buta.

Sejak berdirinya, Muhammadiyah telah membuktikan dirinya sebagai gerakan Islam yang mewujudkan cinta tanah air secara rasional, konstitusional, dan bertanggung jawab. Kecintaan kepada Indonesia diwujudkan melalui dakwah, pendidikan, pelayanan kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi umat, serta partisipasi aktif dalam membangun kehidupan bangsa.

Karena itu pula, jangan sampai tumbuh saling curiga di antara kader Muhammadiyah hanya karena berbeda posisi dan strategi dalam menjalankan kewajiban kebangsaan. Mereka yang berada di dalam pemerintahan maupun yang berada di luar pemerintahan sejatinya sedang menempuh jalan pengabdian yang berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama: menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa dan negara.

Jangan ada yang merasa paling Muhammadiyah hanya karena berada di luar kekuasaan. Sebaliknya, jangan pula ada yang merasa paling berjasa karena berada di dalam pemerintahan. Perbedaan strategi pengabdian tidak boleh melahirkan perpecahan.

Ukuran seorang kader Muhammadiyah bukanlah di mana ia berdiri, melainkan sejauh mana ia menjaga integritas, menjunjung tinggi adab, berpihak kepada kebenaran, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Di sinilah letak keindahan Islam Berkemajuan. Mencintai Indonesia tidak berarti selalu membenarkan pemerintah, dan mengkritik pemerintah tidak berarti membenci negara. Justru kecintaan kepada tanah air diwujudkan melalui keberanian mendukung yang benar, mengoreksi yang keliru, serta menghadirkan solusi yang membawa kemajuan bersama.

Semangat ini sejalan dengan slogan “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Bangsa yang cerdas bukanlah bangsa yang seluruh warganya berpikir seragam, melainkan bangsa yang mampu berdialog, berbeda pendapat secara santun, menjunjung tinggi ilmu, dan memuliakan akhlak.

Cahaya kemajuan tidak lahir dari fanatisme terhadap kekuasaan ataupun kebencian terhadap pemerintah. Cahaya itu lahir dari keberanian bekerja dengan amanah, mengkritik dengan adab, serta mengabdi dengan penuh keikhlasan.

Muhammadiyah mengajarkan bahwa jabatan hanyalah sarana, bukan tujuan. Kekuasaan hanyalah amanah, bukan kemuliaan. Kritik adalah ikhtiar meluruskan, bukan permusuhan. Dukungan adalah bentuk tanggung jawab, bukan penjilatan.

Selama semuanya dilakukan dengan niat yang benar, adab yang terjaga, dan keberpihakan kepada kepentingan bangsa, maka seluruhnya menjadi bagian dari ibadah dan dakwah.

Pada akhirnya, kemuliaan seorang kader Muhammadiyah tidak ditentukan oleh posisinya di dalam atau di luar kekuasaan. Kemuliaannya terletak pada kemampuannya menjaga integritas, menebarkan kemaslahatan, serta setia pada cita-cita mewujudkan Indonesia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan diridai Allah SWT.

Itulah wajah Muhammadiyah yang sesungguhnya: mengabdi tanpa terbelah, mencintai Indonesia tanpa kehilangan keberanian untuk mengatakan yang benar, serta menjadikan Islam Berkemajuan sebagai cahaya bagi bangsa semesta.

Silaturahmi • Kolaborasi • Sinergi • Harmoni

error: Content is protected !!