Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Berita » Halaman 40

Berita

IMG-20260719-WA0049

Diresmikan Menteri Kesehatan, Banyuwangi Gandeng Noora Health Luncurkan Konsultasi Kesehatan Hotline via Whatsapp 24 Jam

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin resmi luncurkan layanan konsultasi kesehatan hotline 24 jam Oasis Wangi yang digagas Pemkab Banyuwangi dengan menggandeng Noora Health di Banyuwangi, Sabtu (18/7/2026). Ia mengapresiasi langkah digitalisasi yang dilakukan oleh Banyuwangi.

“Digitalisasi yang dilakukan di Banyuwangi ini luar biasa. Ini merupakan langkah cerdas untuk melakukan tindakan preventif dalam menjaga kesehatan masyarakat,” ujar Budi Gunadi.

Tak banyak daerah yang memiliki komitmen pelayanan publik sebaik Banyuwangi. Termasuk dalam pelayanan kesehatan. Inovasi semacam Oasis Wangi yang diluncurkan tersebut, sebut Menkes tak serta merta dapat direplikasi secara luas ke seluruh Indonesia.

“Kita perlu kepala daerah seperti Bupati Ipuk ini untuk bisa mempercepat layanan seperti ini ke seluruh Indonesia,” pujinya.

Oasis Wangi (Online Akses Solusi Indonesia Sehat dari Banyuwangi) ini memberikan layanan konsultasi kesehatan non-stop (24 jam). Platform berbasis WhatsApp ini, dapat dimanfaatkan untuk melakukan konsultasi dalam merawat kesehatan keluarga.

“Awalnya, kami bekerjasama dengan Noora Health untuk pelatihan pendamping kesehatan keluarga. Pendampingan ini terbatas jam kerja. Kami ingin program pendampingan ini bisa lebih mudah diakses dan tak terbatas waktu kerja,” ungkap Ipuk.

Atas inisiatif tersebut, maka digagaslah Oasis Wangi tersebut. Warga Banyuwangi ataupun yang sedang melakukan perawatan kesehatan anggota keluarga, bisa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan secara langsung melalui WA.

“Cukup melalui WhatsApp, warga bisa menanyakan berbagai informasi kesehatan secara realtime. Juga bisa menerima tips dan edukasi kesehatan secara reguler,” terang Ipuk.

Kerjasama antara Pemkab Banyuwangi dengan Noora Health telah digagas sejak tahun lalu. Di antaranya dengan pelatihan untuk tenaga pendamping kesehatan keluarga. Dari kerjasama ini, kemudian ditingkatkan dengan Oasis Osing yang bisa memberikan layanan secara penuh.

Noora Health sebagai lembaga internasional turut bahagia dengan kolaborasi dan inovasi tersebut. Co-Founder dan Co-CEO Noora Health, dr. Shahed Alam merasa senang dengan peluncuran platform Oasis Wangi tersebut.

“Kami ingin turut memberikan dampak pada kesehatan global. Kali ini kami memulai di Banyuwangi dari sebuah ide kecil, tapi berdampak besar,” ungkap Shahed Alam.

Noora Health telah menjalin kerjasama dengan sejumlah daerah di Indonesia. Tak kurang dari 14 kabupaten/ kota di Indonesia. Banyuwangi berhasil meningkatkan inovasi dari upaya kerjasama tersebut. (*)

IMG-20260718-WA0064

Polda Banten Edukasi Masyarakat tentang Bahaya Judi Bola Online

SERANG || Jejak-indonesia.id – Polda Banten edukasi kepada masyarakat terkait bahaya judi online, khususnya judi bola yang kerap meningkat seiring berlangsungnya pertandingan sepak bola berskala internasional.

Dalam kesempatannya, Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea menyampaikan bahwa judi bola bukanlah jalan pintas untuk memperoleh keuntungan, melainkan dapat menimbulkan berbagai dampak buruk bagi pelakunya.

"Jangan jadikan ajang sepak bola sebagai alasan untuk berjudi. Dukung tim favorit dengan semangat sportivitas, bukan dengan taruhan. Judi hanya akan membawa kerugian dan berpotensi merusak masa depan," ujarnya pada Sabtu (18/07).

Selanjutnya, Kombes Pol Maruli menjelaskan bahwa praktik judi bola dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari kerugian finansial karena uang habis untuk berjudi.

"Praktik judi bola dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari kerugian finansial, rusaknya hubungan dengan keluarga dan lingkungan, hingga gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi. Selain itu, judi juga dapat menghambat masa depan serta berpotensi menjerat pelakunya ke proses hukum," jelasnya.

Diakhir, Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan instan dari judi online.

"Mari bersama-sama katakan tidak pada judi bola. Isi waktu dengan kegiatan yang positif, dukung tim kesayangan secara sehat, dan jadikan olahraga sebagai sarana mempererat persaudaraan, bukan sebagai ajang perjudian," tutupnya.

IMG-20260718-WA0054

Tak Hanya Jaga Kamtibmas, Polisi di Rembang Dampingi Budidaya Lele Warga

PASURUAN || Jejak-indonesia.id – Tugas Polri tidak hanya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), tetapi juga hadir mendukung program pembangunan yang menyentuh langsung kehidupan warga. Seperti yang dilakukan personel Polsek Rembang dengan mendampingi budidaya pembesaran ikan lele milik masyarakat sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Pejangkungan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jumat (17/7/2026).

Pendampingan dilakukan Kanit Binmas Polsek Rembang AIPTU Rizal Chairul Kalam melalui kegiatan pemantauan budidaya pembesaran ikan lele milik warga. Kegiatan ini merupakan implementasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia di bidang ketahanan pangan melalui Program 1 yang dilaksanakan di wilayah non-desa percontohan.

Dalam kegiatan tersebut, AIPTU Rizal Chairul Kalam tidak hanya memantau kondisi kolam dan perkembangan ikan, tetapi juga berdialog dengan pemilik usaha mengenai proses pemeliharaan, pemberian pakan, hingga kendala yang dihadapi selama budidaya. Kehadiran polisi diharapkan mampu memberikan motivasi sekaligus memastikan program ketahanan pangan berjalan optimal di tingkat masyarakat.

Kapolsek Rembang AKP Supriyanto, S.H., mengatakan pendampingan terhadap masyarakat merupakan salah satu bentuk dukungan Polri terhadap program pemerintah sekaligus mempererat kemitraan dengan warga.

"Kehadiran anggota kami di tengah masyarakat bukan hanya untuk menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif, tetapi juga mendukung program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. Kami berharap budidaya lele ini terus berkembang sehingga dapat membantu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga," ujar AKP Supriyanto.

Berdasarkan hasil pemantauan, budidaya pembesaran ikan lele di Desa Pejangkungan menunjukkan perkembangan yang baik. Pertumbuhan ikan terpantau sehat dan sesuai dengan usia pemeliharaan sehingga berpotensi memberikan hasil panen yang optimal.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar. Polsek Rembang menegaskan akan terus mendukung berbagai program ketahanan pangan melalui pendampingan kepada masyarakat, baik di sektor perikanan maupun pertanian, sebagai wujud nyata kehadiran Polri yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga ikut mendorong kesejahteraan masyarakat.

IMG-20260717-WA0035

Bentengi Pelajar Sorong dari Radikalisme, Satgaswil Papua Barat Densus 88 Gelar Sosialisasi Kebangsaan di SMKS YPK Imanuel

SORONG || Jejak-indonesia.id - Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Papua Barat Densus 88 Antiteror Polri menggelar kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan (Sosbang) di SMKS YPK Imanuel, Kota Sorong, Kamis (16/7/2026). Kegiatan yang terintegrasi dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) ini diikuti oleh sekitar 100 siswa dan siswi baru.

Acara yang berlangsung pukul 10.00 hingga 12.00 WIT ini dibuka langsung oleh Kasatgaswil Papua Barat Densus 88 AT Polri, Kombes Pol. Gede Suardana, S.Pd., M.M., dan disambut hangat oleh Kepala Sekolah SMKS YPK Imanuel Kota Sorong, Selfiana Maria Ampnir, S.Pd.

Dalam penyampaiannya, Kombes Pol. Gede Suardana menegaskan bahwa tema "Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme di Lingkungan Pelajar" sengaja diangkat untuk menjawab tantangan berat generasi muda di era digital.

"Melalui penyampaian materi yang interaktif, kami memberikan pemahaman mendalam tentang bahaya laten paham yang dapat memecah belah bangsa. Kami mengajak para pelajar memahami kembali nilai Pancasila dan kebhinekaan demi menjaga keutuhan NKRI," ujar Kombes Pol. Gede Suardana.

Hadir sebagai narasumber utama, Briptu Halim Hanafi, mengupas tuntas ciri-ciri awal munculnya benih intoleransi dan radikalisme di tengah masyarakat. Tidak sekadar teori, ia juga membagikan strategi konkret untuk menangkalnya, mulai dari penguatan karakter, peningkatan literasi digital, hingga pembinaan sikap moderat sejak dini.

"Pelajar memiliki tanggung jawab moral yang besar. Kalian adalah agen perubahan yang harus membawa pesan perdamaian dan toleransi di tengah masyarakat," tegas Briptu Halim di hadapan para siswa.

Agenda ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak sekolah. Para guru menilai materi yang dibawakan sangat aplikatif karena memberi panduan praktis bagi murid agar lebih bijak menyaring informasi di dunia maya. Antusiasme serupa ditunjukkan oleh para siswa baru yang aktif melempar pertanyaan dalam sesi diskusi.

Melalui sinergi kuat antara lembaga pendidikan dan Densus 88 AT Polri ini, diharapkan lahir generasi muda Papua Barat yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki benteng ideologis yang kokoh untuk menjaga NKRI dari ancaman radikalisme.

IMG-20260717-WA0032

Pesan Astamaops Kapolri di Sorong: Dorong Transformasi Layanan 110 dan Command Center, Percepat Respons Kepolisian

Sorong || Jejak-indonesia.id – Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops Kapolri) Komjen Pol. Dr. M. Fadil Imran, M.Si., mendorong transformasi pelayanan kepolisian melalui penguatan integrasi Layanan Polisi 110, Command Center, SPKT, Samapta, serta fungsi patroli agar mampu menghadirkan respons yang lebih cepat, terkoordinasi, dan berorientasi pada penyelesaian masalah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Komjen Pol. Fadil Imran saat melakukan kunjungan kerja ke Polresta Sorong Kota, Papua Barat Daya, Kamis (16/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, Astamaops Kapolri meninjau langsung pelaksanaan Layanan Polisi 110, mekanisme Command Center, hingga pola koordinasi antara operator, Pamapta, SPKT, dan personel yang bertugas di lapangan.

Berdasarkan data Posko Command Center 110 Mabes Polri, sepanjang Januari hingga Juni 2026 Layanan Polisi 110 Polresta Sorong Kota menerima 3.392 panggilan, dengan 2.672 panggilan berhasil dijawab dan success call rate mencapai 88,18 persen. Capaian tersebut meningkat dibandingkan tahun 2025 yang berada pada angka 80,37 persen sekaligus menempatkan Polresta Sorong Kota pada posisi kedua di jajaran Polda Papua Barat Daya.

Meski mengapresiasi peningkatan tersebut, Fadil menegaskan bahwa indikator keberhasilan pelayanan tidak berhenti pada jumlah panggilan yang berhasil dijawab.

"Telepon terjawab adalah awal dari pelayanan, bukan akhir. Yang harus kita pastikan adalah setelah masyarakat menyampaikan masalahnya, siapa yang bergerak, berapa lama polisi sampai, dan apakah persoalan masyarakat benar-benar tertangani," ujar Komjen Pol. Fadil.

Menurutnya, paradigma pelayanan kepolisian perlu bergeser dari sekadar menerima laporan menuju memastikan setiap laporan memperoleh tindak lanjut hingga masyarakat benar-benar mendapatkan bantuan.

Ia menjelaskan bahwa alur pelayanan harus berjalan secara utuh, dimulai dari laporan diterima melalui Layanan Polisi 110, diverifikasi, diteruskan kepada personel terdekat, ditindaklanjuti di lapangan, hingga hasil penanganannya kembali dimonitor.

"Jangan hanya bertanya berapa telepon yang kita jawab. Mulai bertanya, berapa masyarakat yang benar-benar kita bantu. Itu ukuran pelayanan yang jauh lebih penting," katanya.

Untuk mendukung hal tersebut, Astamaops Kapolri meminta jajaran mulai mengukur waktu respons secara bertahap, mulai dari waktu laporan diterima, waktu penugasan personel, hingga waktu kedatangan anggota di lokasi. Pengukuran tersebut dinilai penting agar pimpinan dapat mengetahui setiap tahapan pelayanan yang masih perlu diperbaiki.

Selain memperkuat Layanan Polisi 110, Komjen Pol. Fadil juga menekankan pentingnya integrasi antar fungsi kepolisian agar masyarakat tidak dibebani dengan struktur internal organisasi.

"Masyarakat tidak perlu memikirkan ini urusan fungsi yang mana. Bagi masyarakat sederhana: saya membutuhkan polisi. Tugas kitalah memastikan kebutuhan itu diteruskan kepada personel yang paling tepat dan paling cepat," tegasnya.

Menurutnya, Layanan Polisi 110, Pamapta, SPKT, Samapta, patroli, Lantas hingga Reskrim harus menjadi bagian dari satu sistem pelayanan yang saling terhubung sehingga setiap informasi yang diterima dapat segera berubah menjadi keputusan operasional dan tindakan di lapangan.

Dalam kesempatan tersebut, Fadil juga memperkenalkan paradigma baru mengenai fungsi Command Center. Ia menegaskan bahwa Command Center tidak boleh dipandang semata sebagai ruangan dengan layar besar dan teknologi canggih, melainkan sebagai pusat komando yang mampu menerima informasi, menganalisis situasi, mengambil keputusan, menggerakkan personel, dan memastikan setiap persoalan masyarakat terselesaikan.

"Command Center jangan selalu dibayangkan sebagai ruangan besar dengan banyak layar atau teknologi yang mahal. Semua itu adalah alat. Hakikat Command Center adalah bagaimana kita menerima informasi, memahami masalah, mengambil keputusan, menggerakkan anggota, dan memastikan masalah masyarakat ditangani," jelasnya.

Karena itu, ia meminta seluruh jajaran tidak menunggu kelengkapan fasilitas untuk mulai membangun sistem pelayanan yang efektif. Menurutnya, Command Center dapat berjalan optimal selama memiliki operator yang siap, Layanan Polisi 110 yang aktif, komunikasi radio yang terhubung, data personel yang dapat digerakkan, serta pimpinan yang mampu mengambil keputusan secara cepat.

Selain memperkuat pelayanan yang bersifat responsif, Astamaops Kapolri juga mendorong pemanfaatan data gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) sebagai dasar penyusunan strategi pencegahan kejahatan.

Berdasarkan data DORS Polri, sepanjang tahun 2025 tercatat 2.429 kasus kejahatan di wilayah hukum Polresta Sorong Kota, sedangkan periode Januari hingga Juni 2026 tercatat 1.503 kasus. Pencurian kendaraan bermotor (curanmor) masih menjadi jenis kejahatan yang paling dominan, dengan 613 kasus pada tahun 2025 dan 363 kasus selama Januari–Juni 2026.

Komjen Pol. Fadil meminta data tersebut tidak berhenti sebagai laporan administratif, tetapi diterjemahkan menjadi informasi operasional melalui pemetaan lokasi dan waktu rawan kejahatan sehingga patroli dapat diarahkan secara lebih tepat sasaran.

"Data harus bisa menjawab: kejahatan paling sering terjadi di mana, jam berapa paling rawan, bagaimana pola kejadiannya, dan patroli mana yang paling dekat. Dari situ kita bisa menggerakkan anggota dengan lebih tepat," ujarnya.

Ia berharap pendekatan berbasis data mampu mengubah pola kerja kepolisian dari yang semula lebih banyak bersifat reaktif menjadi semakin preventif melalui kehadiran personel pada lokasi dan waktu yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Menutup arahannya, Komjen Pol. Fadil menegaskan bahwa seluruh transformasi tersebut pada akhirnya bertujuan menghadirkan pelayanan kepolisian yang semakin cepat, humanis, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

"Pada akhirnya, masyarakat tidak menilai seberapa canggih teknologi yang kita miliki ataupun seberapa besar layar yang ada di Command Center. Masyarakat menilai apakah ketika membutuhkan pertolongan, polisi dapat hadir dengan cepat dan membantu menyelesaikan masalahnya," pungkasnya.

error: Content is protected !!