Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Berita » Halaman 39

Berita

IMG-20260720-WA0013

Efek BEC, KAI Layani 12 Ribu Lebih Pelanggan Tujuan Banyuwangi

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id - Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 telah digelar pada Sabtu (18/7/2026). Parade busana etnik kontemporer ini berhasil menarik wisatawan berdatangan ke Banyuwangi.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 9 Jember mencatat, mobilitas masyarakat selama periode libur akhir pekan yang bertepatan dengan penyelenggaraan BEC 2026, cukup tinggi.

Pada periode 17 hingga 19 Juli 2026, total pelanggan yang berangkat maupun datang menggunakan layanan kereta api di wilayah Daop 9 Jember mencapai 47.797 penumpang.

"Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu tujuan utama perjalanan masyarakat pada periode tersebut. Tercatat sebanyak 12.527 penumpang tiba di berbagai stasiun di Kabupaten Banyuwangi, sementara 12.047 penumpang berangkat dari wilayah tersebut," kata Manager Hukum dan Humas PT KAI (Persero) Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro.

Dengan demikian, total mobilitas penumpang yang datang dan berangkat di Kabupaten Banyuwangi mencapai 24.574 penumpang selama tiga hari. "Jumlah ini berkontribusi lebih dari 50% dari total penumpang di Daop 9 Jember," sambungnya.

Cahyo menyebut, meningkatnya jumlah pelanggan pada periode ini tidak terlepas dari adanya berbagai agenda pariwisata yang berlangsung di Banyuwangi, salah satunya Banyuwangi Ethno Carnival, yang setiap tahunnya menjadi daya tarik wisatawan dari berbagai daerah.

"Momentum penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival memberikan dampak positif terhadap peningkatan mobilitas masyarakat. Kereta api menjadi pilihan transportasi yang nyaman, aman, tepat waktu, dan bebas dari kemacetan sehingga banyak pelanggan memilih menggunakan layanan KAI untuk menuju Banyuwangi maupun kembali ke daerah asalnya," ujar Cahyo.

Menurut Cahyo, KAI Daop 9 Jember terus berkomitmen menghadirkan layanan transportasi yang andal selama berlangsungnya berbagai agenda nasional maupun daerah.

"Selain memastikan kesiapan operasional perjalanan kereta api, KAI juga mengoptimalkan pelayanan di stasiun agar pelanggan dapat menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman," sebutnya.

Setiap tahunnya BEC selalu menarik antusiasme ribuan wisatawan dan warga lokal. Tahun ini BEC menyuguhkan parade spektakuler kostum etnik dengan tema "Perang Bayu", sebuah kisah heroik warga Banyuwangi melawan penjajahan Belanda di abad ke-18 dan menjadi sejarah berdirinya Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebutkan bahwa salah satu tujuan digelarnya event adalah menarik orang untuk mengunjungi Banyuwangi. Datangnya orang ke Banyuwangi, kata dia, akan berdampak ganda pada banyak sektor.

"Inilah maksud kami menggelar event, akan berdampak pada pergerakan ekonomi daerah. Orang berwisata akan spending pada homestay, berkuliner, hingga membeli oleh-oleh. Penginapan di wilayah kota semua penuh, jualan pedagang juga omsetnya naik," kata Ipuk. (*)

IMG-20260719-WA0090

Polda Banten Ajak Masyarakat Sukseskan Gerakan Indonesia ASRI

SERANG || Jejak-indonesia.id -Polda Banten mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung dan menyukseskan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) dengan membiasakan hidup bersih serta tidak membuang sampah sembarangan.

Dalam kesempatannya, Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea mengatakan bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

"Sampah bukan hanya merusak keindahan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber penyakit. Karena itu, kami mengajak seluruh masyarakat untuk membiasakan hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya," katanya pada Minggu (19/07).

Selanjutnya, Kombes Pol Maruli menjelaskan bahwa Gerakan Indonesia ASRI tidak hanya mengedepankan kebersihan lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar peduli terhadap kelestarian alam.

"Polda Banten terus mendukung Program Indonesia ASRI melalui edukasi dan ajakan kepada masyarakat. Kami berharap budaya hidup bersih dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar sehingga tercipta Banten yang aman, sehat, resik, dan indah," jelasnya.

Diakhir, Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi pelopor kebersihan di lingkungan masing-masing.

"Mari sukseskan Gerakan Indonesia ASRI. Jangan biarkan sampah menjadi sumber penyakit. Mulailah dari hal sederhana, yaitu membuang sampah pada tempatnya demi lingkungan yang sehat dan nyaman bagi kita semua," tutupnya.

IMG-20260719-WA0067

Kapolda Flag Off Riau Bhayangkara Run 2026: Riau Melawan Karhutla

PEKANBARU || Jejak-indonesia.id - Event lari terbesar se-Sumatra, Riau Bhayangkara Run 2026 resmi dibuka pada Minggu (19/7/2026) pagi ini. Acara dibuka dengan flag off dilakukan oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo, dan Kajati Riau I Dewa Gede Wirajana.

Flag off dilaksanakan pada pukul 05.30 WIB untuk kategori half marathon (21K), dan pukul 06.00 WIB untuk kategori 5K dan 10K dengan garis start dan finish di depan Mapolda Riau. Rangkaian acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjut dengan pembacaan safety driving race direction.

Turut hadir di lokasi, Wakapolda Riau Brigjen Hengki Haryadi serta para pejabat utama Polda Riau, dan juga Karorena Polda Riau Kombes Daniel Widya Mucharam selaku Ketua Panitia Riau Bhayangkara Run 2026.

Dalam sambutannya, Kapolda Irjen Herry Heryawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, sponsor, dan juga para runners yang hadir di Riau Bhayangkara Run 2026. Kapolda mengatakan RBR 2026 ini bukan sekadar ajang lari, tetapi gerakan nyata untuk menumbuhkan komitmen dalam upaya pelestarian lingkungan di Bumi Lancang Kuning.

"Hari ini kita hadir bersama dalam rangka merayakan Hari Bhayangkara ke-80: Polri bersama Masyarakat, sekaligus mengusung tema 'Riau Melawan Karhutla'. Sekaligus mengusung tema bahwa gajah, harimau, dan ekosistem yang ada di Provinsi Riau ini harus kita jaga dengan baik. Pagi ini kita menumbuhkan komitmen dalam kebersamaan, dalam suasana sehat," jelas Kapolda.

Kapolda mengajak seluruh runners untuk menjaga alam dan lingkungan, termasuk gajah dan harimau Sumatra.

"Jika kita menjaga alam, maka alam menjaga kita. Buktinya tadi malam Kota Pekanbaru dibasahi hujan dan pagi ini kita menghirup )2 yang banyak," imbuhnya.

Sementara itu, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, menyampaikan terima kasih kepada Kapolda Riau atas terlaksananya kegiatan Riau Bhayangkara Run 2026 ini.

"Pada hari ini kita merayakan Riau Bhayangkara Run dengan tema 'Riau Melawan Karhutla', ini bukti nyata kita pada pagi hari ini, kita melawan terhadap kebakaran hutan dan lahan," kata SF Hariyanto

Usai sambutan singkat dari Plt Gubernur Riau, Riau Bhayangkara Run 2026 dimulai flag off yang dilakukan oleh Kapolda Riau, Plt Gubernur Riau, dan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai.

Riau Bhayangkara Run 2026 ini diikuti oleh 15.000 pelari yang tak hanya datang dari berbagai wilayah Indonesia tetapi juga dari mancanegara.

Ada tiga kategori lari yang dilombakan, yakni half marathon (21) yang diikuti oleh 2.511 peserta, 10K sebanyak 5.000 peserta, dan 5K sebanyak 7.569 peserta.

Penyelenggaraan Riau Bhayangkara Run 2026 kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Di mana tahun ini, para peserta mendapatkan merchandise berupa boneka anak gajah Nona Seroja yang membawa bibit pohon.

Harapannya, bibit pohon itu dibawa pulang para peserta lari untuk ditanam demi kelangsungan generasi muda yang akan datang.

Mengusung tema 'Run with Purpose, Move Forward with Riau', agenda tahunan yang diselenggarakan Polda Riau ini menjadi momentum untuk membangun human solidarity dan environmental ethics di kalangan masyarakat. Di tengah ancaman kemarau panjang, Riau Bhayangkara Run 2026 akan menjadi motor penggerak untuk menyelamatkan Bumi Lancang Kuning dari ancaman karhutla.

Provinsi Riau dan karhutla adalah dua hal yang akrab dengan kabut asap. Melalui RBR 2026, Polda Riau mencoba mendobrak stigma tersebut dengan mengawinkan olahraga massal dan pendekatan Green Policing.

"Saya tegaskan bahwa bumi ini hanya satu dan kita wajib menjaganya demi keberlanjutan masa depan generasi penerus bangsa," kata Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, dalam keterangannya, Kamis (16/7).

Mengubah Budaya Lewat Green Policing
Green Policing yang diusung dalam event ini menekankan bahwa penegakan hukum tidak lagi hanya berfokus pada keadilan antarmanusia, melainkan juga keadilan bagi alam. Polda Riau menyadari bahwa memadamkan api di lahan gambut adalah hilir dari masalah, hulunya adalah mengubah pola pikir (mindset) masyarakat.

Melalui RBR 2026, pesan menjaga ekosistem disuarakan dengan lantang. Edukasi lingkungan ditargetkan secara masif, mulai dari generasi muda, pelajar, hingga para pencinta olahraga dari berbagai penjuru Nusantara dan mancanegara.

Tujuannya satu: membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga hutan dan mencegah karhutla adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar tugas pemadam kebakaran dan aparat.

"Alam ini bukan warisan yang bebas kita habiskan, melainkan titipan yang wajib kita jaga dan rawat untuk generasi mendatang," tegas jenderal lulusan Akpol 96 itu.

IMG-20260719-WA0052

Gerakkan Ekonomi Masyarakat Pesisir Lewat Hilirisasi Berbasis Wisata, KNMP Banyuwangi Jadi Best Practise Delegasi Forum ASEAN

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) Lateng Banyuwangi menjadi best practice delegasi ASEAN ID Blue, sebuah forum dialog tentang ekonomi biru yang diikuti delegasi negara ASEAN, negara East Asia Summit (EAS) dan anggota Pacific Islands Forum (PIF) pada 16-19 Juli. Di sini para delegasi belajar bagaimana koperasi nelayan menggerakkan ekonomi masyarakat melalui hilirisasi sektor perikanan berbasis pariwisata.

Direktur Pemberdayaan Usaha Kementrian Kelautan dan Perikanan Ali Rahmat Iman Santoso mengatakan KNMP Lateng, menjadi kawasan kampung nelayan modern yang dikembangkan sebagai kawasan tematik hilirisasi berbasis wisata kuliner. Melalui konsep ini, hasil tangkapan nelayan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk kuliner bernilai tambah.

“KNMP Banyuwangi berbeda dengan lainnya, mereka fokus pada turisme sehingga lebih mengedepankan wisata kuliner. Hasil tangkapan nelayan langsung dibawa ke sini (KNMP) dan bisa langsung diolah menjadi berbagai macam kuliner,” kata Direktur Pemberdayaan Usaha Kementrian Kelautan dan Perikanan Ali Rahmat Iman Santoso saat berada di KNMP Lateng, Sabtu (17/7/2026).

Konsep wisata di KNMP Lateng juga ditunjukkan dari konsep bangunan yang ikonik sehingga menjadi sebuah destinasi. Dimana KNMP dibangun mengadopsi arsitektur rumah adat Suku Osing, suku asli Banyuwangi. Perpaduan antara sentuhan modern dan kearifan lokal itu memberi identitas kuat, sekaligus menegaskan karakter budaya Banyuwangi di kawasan pesisir.

Sementara itu Staf Ahli Diplomasi Ekonomi, Kementerian Luar Negeri RI, Zelda Wulan Kartika mengaku sangat terkesan dengan KNMP Banyuwangi. Ia melihat secara nyata ekonomi biru yang dilaksanakan bermanfaat untuk masyarakat nelayan/pesisir.

“Kami tidak menyangka KNMP Banyuwangi sebagus dan semaju ini, memang masih baru namun melihat potensinya ke depan sangatlah besar,” ujarnya.

Dalam kunjungan lapangan tersebut para Delegasi ASEAN ID Blue melihat langsung sejumlah fasilitas di KNMP Banyuwangi. Saat ini KNMP Banyuwangi dilengkapi dengan gerai kuliner, dermaga sandar perahu, lokasi pendaratan ikan, pabrik es, workshop nelayan, serta unit pengolahan hasil laut.

Mereka juga berbincang hingga mencicipi produk UMKM nelayan serta melihat langsung berbagai potensi produk ekspor perikanan Banyuwangi.

Salah satu delegasi, dari Kedutaan Besar Fiji bidang Economy & Political Leone Bainivanua mengatakan sangat kagum dengan pengembangan KNMP di Banyuwangi. Terlebih keberadan KNMP tersebut memberikan manfaat besar bagi komunitas lokal setempat.

“Tempat ini sangat bagus, di Fiji belum ada yang seperti ini. Kami terinspirasi untuk mengembangkan yang sama di negara kami karena wilayahnya juga dikelilingi lautan,” ujar Leone.

Sementara itu delegasi dari Counsellor Malaysia mission to ASEAN Faezatun Azirah Binti Yahaya mengatakan terkesan melihat pemberdayaan komunitas nelayan yang ada di KNMP Banyuwangi. “Apa yang dilaksanakan disini akan menjadi referensi untuk dikembangkan di negara kami,” ujarnya.

Ditambahkan Kepala Dinas Perikanan Banyuwangi Suryono Bintang Samudra KNMP Lateng dibangun dan dikembangkan dengan konsep hilirisasi berbasis pariwisata berdasarkan potensi daerah sekaligus keinginan pemangku setempat. Dulunya di area ini warga berjualan dengan tenda-tenda dan belum tertata.

“Adanya KNMP membawa berkah khususnya bagi ibu-ibu istri nelayan dan warga lokal karena tempat ini semakin menarik jadi destinasi wisata kuliner. Kami juga terus memberikan pendampingan dan penyuluhan agar mereka bisa memberikan pelayanan yang memadai bagi penunjung yang datang,” terangnya.

KNMP Lateng merupakan bagian dari program prioritas nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Banyuwangi ditetapkan sebagai satu dari 100 lokasi awal pengembangan kampung nelayan terpadu di Indonesia. (*)

IMG-20260719-WA0051

Jadi Ruang Interaksi Antar Budaya, Puluhan Wisatawan Mancanegara Turut Tampil di BEC 2026

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Ratusan talent tampil memukau di Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026, Sabtu (18/7/2026). Dari ratusan talent tersebut, terdapat puluhan wisatawan mancanegara turut ambil bagian dalam parade budaya yang tahun ini mengangkat tema "Perang Bayu – The Great War of Blambangan" tersebut.

Mereka berasal dari Inggris, Belgia, Amerika Serikat, Swedia, Afrika, dan berbagai negara lainnya. Keikutsertaan wisatawan asing tersebut menjadikan BEC tidak lagi sekadar menjadi pertunjukan budaya, tetapi juga berkembang sebagai ruang interaksi budaya yang melibatkan masyarakat dunia.

Para peserta mancanegara tampil mengenakan kostum etnik yang terinspirasi dari kisah heroik Perang Bayu. Bersama ratusan talent lainnya, mereka berjalan di sepanjang rute karnaval sejauh sekitar 2 kilometer mulai Taman Blambangan hingga di Ahmad Yani tersebut.

Mereka para bule tersebut mengaku terkesan dengan kekayaan budaya Banyuwangi. Mereka menilai setiap kostum memiliki filosofi yang kuat, didukung keramahan masyarakat serta semangat gotong royong yang mereka rasakan sejak persiapan hingga pelaksanaan acara.

Jerome, wisatawan asal Belgia, mengaku antusias karena kunjungan pertamanya ke Indonesia bertepatan dengan penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival.

"Saya sangat excited. Ini pertama kali saya ke Indonesia, pertama kali juga ke Banyuwangi dan bertepatan dengan digelarnya event BEC. Saya merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari agenda akbar masyarakat Banyuwangi ini," ujar Jerome.

Kesan mendalam juga dirasakan Murad, wisatawan asal Pakistan. Pemuda berusia 21 tahun itu menyebut keterlibatannya sebagai peserta BEC 2026 menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Melissa Curtis dari Inggris mengaku kagum setelah mengetahui filosofi yang terkandung dalam kostum yang dikenakannya. "Amazing experience. Pakaian yang saya kenakan ini ternyata sarat filosofi," ungkap Melissa.

Pagelaran BEC 2026 berlangsung meriah. Ribuan warga memadati sepanjang 2 kilometer rute parade kolosal tersebut, di Taman Blambangan. Meskipun parade baru digelar pukul 13.00, sejak pagi banyak yang telah berdatangan untuk mendapatkan posisi terbaik menyaksikan event yang memasuki tahun ke-14 tersebut.

Mereka rela berpanas-panasan berjam-jam demi menyaksikan kemegahan parade yang tahun ini mengusung tema "Perang Bayu", kisah heroik perjuangan masyarakat Banyuwangi melawan penjajahan Belanda pada abad ke-18 dan menjadi bagian penting sejarah berdirinya Banyuwangi.

Ratusan talent pun tampil memukau mengenakan kostum etnik spektakuler yang memadukan unsur seni, sejarah, dan budaya Banyuwangi hingga garis finis di Jalan A. Yani. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton terus mengiringi setiap penampilan.

BEC pun menjadi daya tarik bagi wisatawan asing. Salah satunya Cynthia asal Belanda yang terkesan dengan BEC. Dia mengapresiasi kreativitas para talent yang membuat kostum dengan atraktif dan memiliki sejarah.

“Amazing, sangat kagum dengan kostumnya yang megah. Yang paling menarik adalah history yang diangkat pada pertunjukkan ini, semuanya bagus dan indah. Saya juga bahagia, orang-orang di sini ramah, suatu saat saya akan kesini lagi,” kata Cynthia.

BEC tahun ini mengusung tema Perang Bayu, yang mengangkat kisah perjuangan masyarakat Blambangan melawan penjajahan Belanda pada abad ke-18.

Memasuki penyelenggaraan ke-14, BEC terus menghadirkan inovasi dalam mengemas budaya lokal menjadi pertunjukan yang mampu menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Ratusan peserta tampil mengenakan kostum artistik yang merepresentasikan semangat perjuangan, sejarah, dan kekayaan budaya Banyuwangi sepanjang rute parade. (*)

error: Content is protected !!