We're open Closes at 5:00 pm

Redaksi

Polri Milik Masyarakat, Bukan Milik Oknum: Dugaan Kasus Rokok Ilegal, Ipda Haris Budiono Justru Dapat Jabatan Baru

DENPASAR || Jejak-indonesia.id - Sorotan tajam publik kembali mengarah ke institusi kepolisian. Kali ini, muncul pertanyaan serius terkait komitmen penegakan disiplin internal setelah seorang oknum anggota yang diduga terseret persoalan justru mendapatkan posisi baru. Fenomena ini memantik kritik keras dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat di Denpasar.

Pernyataan tegas disampaikan oleh Putu Adnyana, S.H., yang menilai kondisi ini mencederai rasa keadilan publik. Ia menegaskan bahwa institusi Polri adalah milik masyarakat, bukan milik segelintir oknum. “Orang yang diduga bermasalah justru mendapatkan jabatan baru. Ini menimbulkan pertanyaan besar, di mana letak sistem punish and reward?” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).

Dugaan yang mencuat tidak main-main. Ipda Haris Budiono, oknum anggota Polda Bali, disebut-sebut terkait dalam praktik atensi bulanan yang berhubungan dengan kasus rokok ilegal. Ironisnya, di tengah isu tersebut, yang bersangkutan justru dimutasi ke Yanma Polda Bali.

Informasi yang dihimpun awak media mengungkap adanya aliran dana dalam penanganan perkara. Sumber menyebutkan, seorang bernama Arik alias Jony diduga menjadi perantara dalam pengurusan kasus Haji AB di Ditreskrimsus Polda Bali. Disebutkan, Haji AB menyerahkan uang sebesar Rp300 juta untuk membantu penyelesaian kasus rokok ilegal yang menjeratnya.

Namun, cerita tidak berhenti di situ. Dalam klarifikasi melalui pesan WhatsApp, Arik mengaku telah mengembalikan Rp250 juta kepada Haji AB, sementara Rp50 juta digunakan untuk operasional. Ia juga menyebut dirinya sebagai korban, karena uang yang diserahkan kepada pihak lain, yakni seseorang bernama Ketut Sudana yang mengaku memiliki akses ke pejabat di Polda Bali, tidak sepenuhnya kembali.

Lebih jauh, Arik mengungkap dugaan adanya atensi rutin sekitar Rp5 juta per bulan kepada Ipda Haris Budiono. Pernyataan ini diperkuat oleh pengakuan langsung dari Haji AB saat awak media melakukan investigasi di wilayah Sumberkima, Gerokgak, Buleleng, pada 16 April 2026.

Dalam pengakuannya, Haji AB menyebut dirinya memang memberikan atensi kepada oknum aparat dan juga oknum wartawan berinisial DW. Ia mengaku saat dirinya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus rokok ilegal, bantuan yang diharapkan tidak kunjung datang. Bahkan, ia mengklaim sempat disarankan untuk melarikan diri agar terhindar dari proses hukum. Namun, Haji AB memilih memenuhi panggilan penyidik.

Sementara itu, seorang perwira menengah (pamen) yang sempat disebut dalam alur cerita tersebut membantah mengenal Haji AB. Ia juga menegaskan bahwa Ipda Haris Budiono telah dimutasi ke Yanma Polda Bali dan tidak lagi berkaitan dengan perkara tersebut.

Upaya konfirmasi kepada Ipda Haris Budiono pun menemui jalan buntu. Awak media menyebut nomor WhatsApp mereka telah diblokir oleh yang bersangkutan.

Kasus ini menambah daftar panjang polemik internal yang berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. Publik kini menanti langkah tegas dan transparan dari pihak berwenang untuk menjawab berbagai dugaan yang berkembang.

Sebagai bentuk komitmen terhadap prinsip jurnalistik, media ini tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab bagi semua pihak, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Polda Sulteng Kembali Lakukan Penyegaran Organisasi, Empat Perwira Menengah Tempati Jabatan Strategis Baru

PALU || Jejak-indonesia.id – Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah (Sulteng) kembali melakukan penyegaran organisasi melalui rotasi jabatan sejumlah perwira menengah.

Mutasi tersebut tertuang dalam Surat Telegram Nomor: ST/354/IV/KEP./2026 tertanggal 29 April 2026.

Dalam kebijakan tersebut, beberapa Pejabat Utama dan perwira mengalami pergeseran jabatan strategis guna mendukung peningkatan kinerja organisasi serta pelayanan kepada masyarakat.

Adapun Pejabat Utama dan perwira yang mengalami pergeseran jabatan diantaranya Kompol Nana Taryana, S.Sos., yang sebelumnya menjabat sebagai Ps. Kasetum Polda Sulteng, kini dipercaya mengemban tugas baru sebagai Wakapolres Tolitoli Polda Sulteng.

Sementara itu, AKBP Hasanuddin, S.H., M.H., yang sebelumnya menjabat sebagai Kasat PJR Ditlantas Polda Sulteng, diangkat dalam jabatan baru sebagai Kasetum Polda Sulteng.

Selanjutnya, Kompol Sulardi, S.H., M.H., yang sebelumnya menjabat sebagai Wakapolres Donggala Polda Sulteng, kini dipercaya sebagai Ps. Kasat PJR Ditlantas Polda Sulteng.

Sedangkan Kompol Alfius, S.H., yang sebelumnya menjabat sebagai Wakapolres Tolitoli Polda Sulteng, diangkat dalam jabatan baru sebagai Wakapolres Donggala Polda Sulteng.

Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Djoko Wienartono, mengatakan bahwa rotasi jabatan tersebut merupakan hal yang lumrah dalam tubuh Polri sebagai bagian dari pembinaan karier serta penyegaran organisasi.

“Mutasi ini merupakan bagian dari dinamika organisasi Polri dalam rangka meningkatkan kinerja, profesionalisme, serta optimalisasi pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap personel yang mendapat kepercayaan jabatan baru diharapkan mampu segera beradaptasi dan menunjukkan dedikasi terbaik dalam pelaksanaan tugas di tempat yang baru.

“Kami berharap para pejabat yang dimutasi dapat membawa semangat baru, inovasi, serta mampu menjawab tantangan tugas ke depan, khususnya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Sulawesi Tengah,” tambahnya.

Dengan adanya rotasi ini, lanjut Kabid Humas, pihaknya optimistis kinerja organisasi akan semakin solid dan responsif dalam menghadapi berbagai dinamika serta kebutuhan masyarakat.

Kasdim 0825/Banyuwangi Turun Langsung Ikuti Jalan Sehat Kartini, Ribuan Warga Padati Pendopo Sabha Swagata

BANYUWANGI — Kasdim 0825/Banyuwangi Mayor Kav Suprapto mengikuti kegiatan jalan sehat dalam rangka memperingati Hari Kartini yang digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Minggu (3/5/2026) pagi. Kegiatan yang dimulai pukul 06.00 WIB tersebut dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, perwakilan Danlanal, Kajari, Polresta, Kementerian PPPA RI, serta pelajar dan masyarakat umum. Kehadiran unsur Forkopimda dan instansi terkait menunjukkan sinergi kuat dalam memperingati momentum emansipasi perempuan di daerah.

Rangkaian acara peringatan Hari Kartini tingkat Provinsi Jawa Timur ini berlangsung meriah dan penuh makna, diawali dengan santunan anak yatim, menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga laporan Ketua Panitia dari Dinas P3AK Provinsi Jawa Timur.

Kegiatan dilanjutkan dengan aksi minum tablet tambah darah serentak bagi pelajar remaja putri, pemutaran video kinerja Pemkab Banyuwangi, penyerahan hadiah lomba poster, serta penghargaan Gender Champion. Selain itu, juga digelar deklarasi bersama penurunan angka kematian ibu (AKI), penandatanganan MoU antara Pemprov Jawa Timur dan Kementerian PPPA, serta sambutan dari Bupati Banyuwangi, perwakilan Gubernur, hingga Menteri PPPA yang diwakili Sesmen PPPA.

Kasdim 0825/Banyuwangi Mayor Kav Suprapto menyampaikan bahwa kehadiran TNI dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap pemberdayaan perempuan dan pembangunan sumber daya manusia.

Seluruh rangkaian acara berlangsung aman, tertib, dan lancar, ditutup dengan sesi foto bersama, ramah tamah, serta peninjauan stand UMKM perempuan kepala keluarga yang diselingi pembagian doorprize kepada peserta. Momentum ini diharapkan mampu memperkuat peran perempuan dalam pembangunan serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan kesetaraan gender.

Banyak Terobosan di Dunia Pendidikan, Mendikdasmen Minta Bupati Ipuk Paparkan Program di Forum Nasional

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id - Kabupaten Banyuwangi memiliki berbagai inovasi di sektor pendidikan, membuat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Abdul Mu'ti meminta Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan program-program unggulannya di forum nasional.

Menurut Mendikdasmen Banyuwangi memiliki berbagai terobosan kreatif dan strategis. Ia melihat inovasi tersebut sangat relevan diterapkan menjadi kebijakan berskala nasional demi memeratakan kualitas pendidikan di Indonesia.

"Terobosan-terobosan kreatif dan strategis Banyuwangi, saya sangat tertarik untuk nanti mereplikasinya menjadi kebijakan di tingkat nasional. Saya minta Bupati Banyuwangi memaparkan di forum nasional," ujar Mu'ti saat peringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Banyuwangi, Sabtu (2/5/2026).

Salah satunya program Garda Ampuh (Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah) yakmi upaya Pemkab Banyuwangi dalam memberikan layanan bagi warga yang tidak berkesempatan atau tidak berminat sekolah, karena berbagai alasan bisa bisa kembali mengenyam bangku pendidikan. Ia ingin model penyelesaian masalah tersebut menjadi contoh bagi daerah lain.

"Ini saya kira sebuah terobosan yang nanti saya minta Ibu Bupati bisa menyampaikan di forum nasional sebagai contoh baik untuk bagaimana kita memberikan layanan pendidikan bermutu untuk semua. Pendidikan tidak hanya sebatas sekolah, tetapi juga belajar di mana pun dengan berbagai sarana yang ada," katanya.

Terobosan Banyuwangi lainnya di antaranya program Gerakan Rindu Bulan (Rintisan Desa Tuntas Belajar 12 Tahun). Program ini bertujuan meningkatkan rata-rata lama sekolah dengan mengembalikan Anak Tidak Sekolah (ATS) maupun orang dewasa ke satuan pendidikan kesetaraan.

Selain itu, Banyuwangi juga memiliki program Agage Pinter (Agar Cepat Pintar) yang fokus pada penguatan sekolah inklusi. Melalui program ini, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) diberikan kesempatan yang sama untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah reguler.

Ada pula gerakan Siswa Asuh Sebaya (SAS) sendiri merupakan inovasi unik di mana siswa dari tingkat SD hingga SLTA diajak menggalang dana sukarela untuk membantu teman sekolahnya yang kurang mampu. Gerakan ini menanamkan empati sekaligus menjadi jaring pengaman sosial di lingkungan sekolah.

Inovasi tersebut kini dikembangkan menjadi program Sekolah Asuh Sekolah (SAS Jilid III). Berbeda dengan SAS sebelumnya, program ini mengedepankan prinsip gotong royong antarlembaga pendidikan agar kualitas sekolah tidak jomplang.

Sekolah yang memiliki kelebihan sarana prasarana maupun SDM akan membantu sekolah lain yang sumber dayanya masih kurang. Dengan begitu, sekolah di pinggiran yang gurunya mungkin belum berkompeten bisa dibantu oleh sekolah yang lebih berdaya.

Pemkab Banyuwangi juga meluncurkan program Akselerasi Sekolah Masyarakat (AKSARA). Program ini khusus menyasar warga usia 20 tahun ke atas yang belum menuntaskan pendidikan dasar agar mereka minimal memiliki ijazah setaraf SMA.

Program AKSARA ini untuk meningkatkan angka rata-rata lama sekolah yang menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian Badan Pusat Statistik (BPS). (*)

Kemendikdasmen Akan Replikasi Program Pendidikan banyuwangi Secara Nasional

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan mereplikasi program-program pendidikan yang dijalankan Pemkab Banyuwangi untuk diadopsi secara nasional. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyebut Banyuwangi disebut memiliki berbagai terobosan kreatif dan strategis di bidang pendidikan.

"Berbagai terobosan kreatif dan strategis yang dilakukan Banyuwangi menarik untuk direplikasi menjadi kebijakan di tingkat nasional," kata Mu'ti saat enghadiri peringatan Hari Pendidikan Nasional di Taman Blambangan, Sabtu (2/5/2026)..

Menurut dia, salah satu terobosan Banyuwangi yakni Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh) yang berfokus menjaring anak putus sekolah dan membantunya kembali ke bangku sekolah melalui berbagai skema.

Dalam program itu, Pemkab Banyuwangi menelusuri data para anak yang tak sekolah berbasis nama dan alamat.

Setelah menemukan data sang anak, tim Pemkab Banyuwangi akan menemui keluarganya dan mencari tahu penyebab anak tak sekolah. Setelah masalah diketahui, Pemkab Banyuwangi akan memfasilitasi agar anak tersebut bisa bersekolah.

"Ini adalah terobosan penting, dan kami berharap Ibu Bupati dapat menyampaikan praktik baik ini di forum nasional sebagai contoh layanan pendidikan bermutu untuk semua," tutur Mu'ti.

Di sisi lain, Mu'ti juga menekankan pentingnya pendidikan di luar sekolah. Proses belajar, kata dia, bisa dilakukan di manapun dengan berbagai sarana yang tersedia.

Dalam hal ini, Banyuwangi dianggap unggul karena mewadahi para siswanya untuk berkreasi.

"Pelibatan siswa dalam kegiatan seperti pertunjukan seni Kuntulan Ewon ini menjadi contoh bagaimana potensi anak-anak diberi ruang aktualisasi agar berkembang secara optimal," ucap dia.

Menurut Mu'ti, cara-cara seperti itu dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan cinta tanah air dengan berpijak pada budaya dan nilai-nilai luhur masyarakat.

"Anak-anak kita boleh berwawasan global, bahkan harus, tetapi mereka tidak boleh meninggalkan nilai dan budaya lokal yang luhur," ujar dia.

Selain itu Banyuwangi juga sejumlah program kreatif lainnya yakni ada Siswa Asuh Sebaya, dimana siswa yang secara ekonomi lebih menyisihkan uang sakunya lalu dikumpulkan untuk membantu kebutuhan siswa yang tidak mampu secara ekonomi. Seperti membelikan sepeda, kacamata, hingga kebutuhan sekolah bahkan siswa dari sekolah lainnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berterima kasih atas apresiasi dari Mendikdasmen. Menurutnya, inovasi di bidang pendidikan merupakan salah satu prioritas Banyuwangi demi membentuk sumber daya manusia (SDM) yang unggul.

"Kami berterima kasih atas dukungan Bapak Menteri kepada Banyuwangi. Ini menjadi motivasi bagi kami di daerah," kata Ipuk. (*)

error: Content is protected !!