PASURUAN || jejakindonesia.id – Bendungan bersejarah Dam Pleret 1904 yang berlokasi di Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, kini bukan harya menjadi saksi bisu sistem irigasi tempo dulu, tetapi juga berkembang menjadi pusat pelatihan dan edukasi masyarakat. Berkat keja sama antara Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dam Pleret 1904 dan Universitas Merdeka Malang. kawasan ini disulap menjadi agrOwisata edukatif dengan berbagai fasilitas pertanian modern.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat yang didanai oleh DPPM Kemendikbudristek tahun anggaran 2025, melalui skema Pengabdian Kemitraan Masyarakat, dengan judul: “Pengembangan Ekowisata Pertanian Edukatif Dam Pleret 1904: Sinergi Swasembada Pangan, Digitalisasi, dan Penguatan Kelembagaan Komunitas.
Dalam program ini dilaksanakan pada hari minggu tanggal 10 agustus 2025, warga Desa Pleret mengikuti rangkaian Pelatihan Produksi Hidroponik, Tabulampot (Tanaman Buah dalam Pot), dan Vertikultur. Pelatihan berlangsung di lahan edukatif sekitar Dam Pleret yang kini menjadi ruang praktik bagi warga, mahasiswa, dan komunitas lokal. Materi pelatihan menitikberatkan pada teknik pertanian hemat lahan yang aplikatif. Peserta diajarkan cara merakit instalasi hidroponik NFT, menyusun rak vertikultur, serta merawat tabulampot. Selain itu pelatihan juga mencakup pemberian nutrisi tanaman, sanitasi panen, serta pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai jual.
“Awalnya saya hanya tahu menanam lalu menjual apa adanya. Setelah ikut pelatihan, saya belajar cara mengemas dan bahkan mengolah jadi produk berbeda. Irni membuka peluang baru bagi usaha keluarga kami, ujar Bu Husain, salah satu peserta dari kelompok ibu rumah tangga.

Produk hasil pelatihan pun beragam, mulai dari sayuran siap mas ak, minuman herbal, hingga camilan sehat berbahan dasar sayuran lokal. Pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membekali peserta dengan dasar-dasar manajemen usaha seperti pencatatan biaya, perhitungan harga pokok produksi, hingga strategi pemasaran sederhana.Ketua Pokdarwis Dam Pleret 1904, Heru Yulian Bayuardi, menyebut pelatihan ini menjadi titik awal perubahan pandangan masyarakat terhadap pertanian.
“Pelatihan ini memberi kami semangat baru. Anak-anak muda bisa melihat bahwa bertani bukan pekerjaan kuno, tapi bisa modern dan menguntungkan jika dikelola dengan benar,” ujarnya
Dampaknya mulai terasa. Beberapa keluarga telah memproduksi sampel olahan dan memasarkan ke pasar lokal. Kelompok pemuda desa bahkan menyiapkan stan produk untuk acara desa. Ini menjadi langkah nyata menuju kemandirian ekonomi berbasis komunitas.
Tak hanya bermanfaat bagi warga, lahan edukatif ini kini juga menarik kunjungan mahasiswa melalui program MBKM serta menjadi destinasi kunjungan sekolah. Hal ini memperkuat posisi Dam Pleret 1904 sebagai destinasi ekowisata edukatif, yang menggabungkan aspek rekreasi, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat. Ke depan, tim pengabdian Universitas Merdeka Malang berencana melanjutkan pendampingan, khususnya dalam aspek pemasaran digital dan pembentukan jaringan UMKM regional. Harapannya, produk-produk lokal dari Pleret tidak hanya beredar di pasar lokal, tetapi bis a menembus pasar yang lebih luas.