PASURUAN || Jejak-indonesia.id – Kota Pasuruan memasuki babak baru dalam penataan infrastruktur transportasi. Seiring dimulainya proyek pembangunan Jembatan Bokwedi, rekayasa lalu lintas diberlakukan di sejumlah titik vital, termasuk kawasan Blandongan sebuah simpul mobilitas yang selama ini menjadi nadi pergerakan kendaraan di dalam kota (6/04/2026).
Langkah ini bukan sekadar pengalihan arus, melainkan strategi manajemen lalu lintas yang dirancang secara sistematis untuk menjaga keseimbangan antara percepatan pembangunan dan stabilitas mobilitas publik. Skema yang saat ini diterapkan masih berada pada tahap uji coba (trial), sebagai fase adaptasi sebelum penutupan total jalan diberlakukan pada tahap berikutnya.

Pendekatan bertahap tersebut mencerminkan upaya mitigasi risiko terhadap potensi disrupsi lalu lintas. Masyarakat diberi ruang untuk menyesuaikan diri terhadap pola pergerakan baru, sekaligus menguji efektivitas rekayasa yang diterapkan di lapangan.
Untuk memastikan implementasi berjalan optimal, Polres Pasuruan Kota menyiagakan personel di berbagai titik strategis. Pengamanan difokuskan pada persimpangan utama dan koridor dengan volume kendaraan tinggi—area yang paling rentan terhadap kemacetan selama masa transisi.
Kabag Ops Miftaful Murachim menegaskan bahwa kehadiran personel di lapangan merupakan bagian dari langkah preventif.
“Pengamanan dilakukan untuk memastikan arus lalu lintas tetap lancar, aman, dan terkendali di tengah masa penyesuaian,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kasat Lantas Amrullah Setiawan menambahkan bahwa petugas juga melakukan asistensi terhadap kendaraan besar di titik-titik tertentu guna mencegah terjadinya bottleneck yang dapat menghambat arus kendaraan secara keseluruhan.

Dari sisi kebijakan teknis, Kepala Dinas Perhubungan Kota Pasuruan, Andrianto, memastikan bahwa rekayasa lalu lintas ini telah melalui proses koordinasi lintas instansi serta kajian teknis yang komprehensif.
“Ini merupakan bagian dari manajemen lalu lintas selama proyek berlangsung. Evaluasi akan terus dilakukan secara dinamis berdasarkan kondisi faktual di lapangan,” jelasnya, Senin (6/4/2026).
Sementara itu, dari pihak Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Timur, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dwi Bagus mengungkapkan bahwa proyek ini sejatinya telah dirancang sejak Desember 2025. Namun, pelaksanaannya sempat ditunda untuk menghindari lonjakan volume kendaraan selama periode Natal dan Tahun Baru.
“Fase trial ini penting agar masyarakat tidak mengalami shock ketika penutupan total diberlakukan. Kami ingin memastikan transisi berjalan mulus,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa pembongkaran jembatan lama dijadwalkan dimulai dalam satu hingga dua pekan ke depan, dengan target penyelesaian proyek pada 30 November 2026.
Proyek strategis ini dikerjakan oleh PT Pesona Sakti Indonesia sebagai pemenang tender, dengan pelaksanaan teknis di lapangan berada di bawah tanggung jawab Ismail.
Di tengah perubahan tersebut, masyarakat mulai melakukan penyesuaian terhadap pola lalu lintas baru. Sejumlah pengguna jalan mengakui adanya kebutuhan adaptasi, terutama dalam menentukan rute alternatif yang kini menjadi pilihan utama.
“Memang harus menyesuaikan. Jalannya jadi lebih memutar, tapi semoga ke depan lebih lancar,” ujar salah satu pengendara.
Adapun rute pengalihan telah disiapkan melalui beberapa koridor utama, di antaranya dari arah Surabaya melalui Karangketug menuju Tol Sutojayan, serta dari arah Probolinggo melalui Tol Grati hingga Kebonagung.
Dengan penerapan rekayasa lalu lintas ini, pemerintah bersama pemangku kepentingan menegaskan komitmennya untuk menjaga kesinambungan pembangunan tanpa mengorbankan kenyamanan publik. Sosialisasi dan evaluasi akan terus dilakukan secara berkelanjutan, memastikan bahwa proyek ini tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi kelancaran sistem transportasi di Kota Pasuruan.