PASURUAN || Jejak-indonesia.id — Suasana Idul Fitri di wilayah pesisir Kota Pasuruan belum usai meski telah memasuki hari ketujuh (H+7). Masyarakat pesisir utara kembali menggelar tradisi tahunan praonan, sebuah perayaan laut yang sarat makna spiritual sekaligus menjadi magnet ekonomi lokal.
Tradisi praonan merupakan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas kemenangan setelah menjalankan ibadah selama bulan Ramadan. Dalam perayaan ini, warga berbondong-bondong menuju pelabuhan untuk mengikuti kegiatan berlayar bersama menggunakan perahu-perahu nelayan yang dihias meriah.
Menariknya, tradisi ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat lokal pesisir utara Pasuruan, tetapi juga menarik perhatian warga dari luar daerah. Mereka turut hadir untuk merasakan kemeriahan sekaligus menikmati suasana khas pesisir yang penuh kebersamaan.
Dalam hal ini Rakhmat warga desa Ngemplak rejo mengatakan di balik semarak budaya tersebut, praonan juga membawa dampak ekonomi yang signifikan. Para pedagang makanan dan minuman ringan memanfaatkan momen ini untuk meraih tambahan penghasilan.
“Saat acara seperti ini, kami sangat menunggu. Karena bisa menambah rezeki dari berjualan minuman dan makanan ringan,” ujar salah satu warga pesisir yang turut berpartisipasi.
Dengan perpaduan nilai religius, budaya, dan ekonomi, tradisi praonan menjadi bukti kuat bahwa warisan lokal tidak hanya menjaga identitas masyarakat, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian warga secara