Ribuan Warga Genteng Antre “Gas Melon”, Ratusan Pulang Hampa: Klaim Stok Aman Dipertanyakan

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Klaim ketersediaan elpiji 3 kilogram yang disebut aman oleh pemerintah daerah berbenturan dengan realitas di lapangan. Dalam operasi pasar pengendalian inflasi di Kecamatan Genteng, Rabu (18/3/2026), ribuan warga justru harus mengantre berjam-jam, sementara ratusan lainnya pulang dengan tangan kosong.

Sejak pukul 09.00 WIB, antrean panjang sudah mengular di Kantor Kecamatan Genteng. Warga dari berbagai desa berdatangan, berharap mendapatkan “gas melon” di tengah meningkatnya kebutuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Namun hingga sekitar pukul 13.00 WIB, kepastian tak kunjung datang.

Ironisnya, sejumlah warga yang telah dipanggil dan menyerahkan persyaratan administrasi tetap tidak mendapatkan tabung gas. Harapan mereka pupus setelah diumumkan bahwa stok telah habis.

Operasi pasar tersebut hanya menyediakan sekitar 560 tabung elpiji 3 kg, sementara jumlah warga yang hadir diperkirakan mencapai 1.200 orang. Kesenjangan tajam antara pasokan dan permintaan ini memicu kekecewaan massal.

“Saya datang sejak pagi, sudah ikuti semua prosedur. Tak kira dipanggil untuk ambil gas, ternyata cuma dikasih tahu stok habis. Jujur saya sangat kecewa sekali,” ungkap Setiawan, warga Dusun Gedangan, Desa Genteng Kulon.

Keluhan serupa disampaikan Irma, yang menilai pemerintah kurang transparan dalam menyampaikan informasi ketersediaan stok.

“Kalau dari awal dijelaskan jumlahnya terbatas, mungkin warga tidak akan sebanyak ini datang. Ini bikin orang berharap, tapi akhirnya pulang dengan tangan kosong,” ujarnya.

Dalam operasi tersebut, warga dibatasi pembelian maksimal satu tabung per orang dengan syarat menyertakan fotokopi KTP. Namun, aturan itu tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan yang jauh melampaui pasokan.

Kondisi di Kecamatan Genteng ini berbanding terbalik dengan pernyataan Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, yang sebelumnya memastikan stok elpiji dalam kondisi aman saat inspeksi di Rogojampi, Kamis (12/3/2026). Ia bahkan menyebut, adanya potensi penambahan pasokan hingga 250 persen dari pihak Pertamina.

“Stok aman, bahkan bisa ditambah. Masyarakat tidak perlu panik,” ujarnya saat itu.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, distribusi belum berjalan merata. Dalam sepekan terakhir, kelangkaan elpiji 3 kg justru semakin dirasakan warga, terutama menjelang Lebaran ketika kebutuhan rumah tangga meningkat signifikan.

Situasi di lokasi sempat memanas akibat banyaknya warga yang tidak kebagian, meski telah mengantre berjam-jam. Aparat setempat berupaya meredam ketegangan, sementara operasi pasar berakhir lebih cepat setelah stok dinyatakan habis total.

Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan klasik dalam tata kelola distribusi elpiji bersubsidi, mulai dari lemahnya akurasi perencanaan, minimnya transparansi informasi, hingga belum optimalnya pengawasan di tingkat distribusi.

Warga mendesak pemerintah daerah bersama Pertamina segera mengambil langkah konkret, tidak hanya menambah pasokan, tetapi juga membenahi sistem distribusi agar lebih tepat sasaran dan merata. (rag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *