Kontroversi Distribusi Pisang Busuk di SMA N1 Cluring: MBG Benculuk Dipertanyakan Profesionalismenya

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Distribusi makanan gratis oleh MBG Benculuk di SMA N1 Cluring pada Rabu (24/12/2025) menuai kritik tajam. Beberapa pelajar menerima pisang yang sudah menunjukkan tanda-tanda pembusukan, memunculkan pertanyaan serius tentang kualitas program gizi yang seharusnya meningkatkan kesehatan anak.

Menurut keterangan guru pendamping, sejumlah pisang memang dalam kondisi rusak. “Beberapa pisang sudah busuk saat diterima, kami sempat memilah, tapi sebagian siswa tetap menerima,” ungkap pihak sekolah.

MBG Benculuk mengakui sebagian pisang busuk dan menyatakan hal itu karena distribusi seharusnya dilakukan pada hari Selasa, namun karena hari libur sekolah, pembagian baru dilakukan hari Rabu. “Kematangan buah yang seharusnya pas hari Selasa, terpaksa dibagikan Rabu,” jelas pihak MBG.

Pelanggaran dan Risiko
Kejadian ini menyoroti lemahnya pengelolaan program gizi:

1. Kurangnya kontrol kualitas – Pisang busuk yang dibagikan menimbulkan risiko kesehatan bagi pelajar, termasuk potensi gangguan pencernaan.

2. Perencanaan distribusi yang tidak profesional – Perubahan jadwal tanpa evaluasi kualitas menunjukkan lemahnya koordinasi dan SOP internal.

3. Potensi kerusakan reputasi MBG – Publik dapat menilai MBG tidak serius dalam menjalankan program sosialnya, mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga.

Tindakan yang Semestinya

Audit dan seleksi mutu: Setiap buah yang akan dibagikan wajib melalui pemeriksaan kualitas ketat.

Kompensasi bagi siswa: MBG perlu memberikan pengganti atau makanan tambahan yang layak untuk siswa terdampak.

Perbaikan SOP distribusi: Termasuk antisipasi libur dan penyimpanan buah agar tidak rusak sebelum dibagikan.

Transparansi publik: Laporan terbuka terkait insiden ini agar publik memahami langkah perbaikan yang diambil.

Rekomendasi Ke Depan
Program gizi gratis harus berorientasi pada kesehatan siswa dan kredibilitas penyelenggara. MBG Benculuk disarankan:

Melibatkan pihak sekolah sejak awal untuk memverifikasi kualitas makanan.

Menetapkan jadwal distribusi fleksibel dengan cadangan makanan agar tidak terjadi kematangan berlebih.

Memastikan seluruh makanan layak konsumsi, bebas dari busuk atau cacat.

Insiden ini menjadi peringatan serius bagi MBG Benculuk: gizi siswa adalah amanah publik, bukan sekadar formalitas program sosial. Penanganan tegas dan profesional akan menentukan kredibilitas lembaga di mata masyarakat.

(Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *