BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi Selametan Mbah Buyut Cungking di kawasan Alas Baluran tetap terjaga sebagai warisan budaya yang sarat makna. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya menjadi bagian dari kearifan lokal, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai sejarah, spiritual, dan kebersamaan yang terus hidup di tengah masyarakat.
Bapak Antoh menegaskan bahwa Selametan Mbah Buyut Cungking bukan sekadar prosesi adat atau ritual tahunan. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang diyakini telah berjasa membuka dan menjaga kawasan Alas Baluran.
> “Tradisi Selametan Mbah Buyut Cungking di Alas Baluran merupakan warisan budaya dan kearifan lokal yang harus dijaga serta dilestarikan. Tradisi ini bukan sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, penghormatan kepada para leluhur, serta sarana mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat,” ujar Bapak Antoh, Minggu (28/6).
Menurutnya, menjaga kelestarian tradisi bukan hanya tanggung jawab para tokoh adat, melainkan menjadi kewajiban seluruh elemen masyarakat. Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, tradisi lokal memiliki peran penting sebagai benteng yang menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat karakter masyarakat Banyuwangi.
Ia menambahkan, pelaksanaan Selametan Mbah Buyut Cungking juga menjadi momentum yang mempererat tali silaturahmi, menumbuhkan semangat gotong royong, serta memperkuat rasa persaudaraan antarwarga. Nilai-nilai luhur tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan saling menghormati.
Bapak Antoh berharap generasi muda tidak hanya mengenal Selametan Mbah Buyut Cungking sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga memiliki kepedulian untuk menjaga dan meneruskannya. Dengan demikian, tradisi ini akan tetap hidup sebagai warisan budaya yang memperkuat persatuan masyarakat, sekaligus menjadi kebanggaan Banyuwangi yang terus lestari dari generasi ke generasi.
