Kendal – Jejakindonesia.id || Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah diwarnai pesan mendalam tentang makna pengorbanan yang sesungguhnya. Dalam khutbah Idul Adha, yang digelar di halaman Stadion Utama Kendal pada Rabu (27/05), Ustad Ahmad Sholeh, S.Ag., M.Pd., selaku Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Kendal, menegaskan bahwa ibadah kurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi juga sebagai proses spiritual untuk menyembelih ego dan kesombongan dalam diri manusia.
Dalam khutbahnya, Ustad Ahmad Sholeh mengajak jamaah untuk menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperkuat ketakwaan kepada Allah. Ia menekankan bahwa takwa bukan sekadar ucapan, melainkan tercermin dalam ketundukan hati, kepatuhan, serta kesiapan berkorban demi meraih ridha Allah.
Menurutnya, peristiwa kurban yang dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan hanya kisah sejarah, melainkan pelajaran abadi tentang ketaatan tanpa syarat kepada perintah Allah. Kisah tersebut menunjukkan bagaimana cinta kepada Allah harus ditempatkan di atas segalanya, termasuk keluarga dan harta benda.
“Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi pengingat bahwa manusia harus mampu menundukkan keinginan pribadi demi kebaikan yang lebih besar,” ujarnya di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hakikat kurban bukanlah pada daging atau darah hewan yang disembelih, melainkan pada ketakwaan yang ada di dalam hati. Ia mengingatkan bahwa ibadah kurban harus disertai keikhlasan, bukan semata-mata untuk menunjukkan status sosial atau mencari pujian
Dalam khutbahnya, Ustad Ahmad juga menyoroti berbagai “penyakit hati” yang perlu dikorbankan, seperti egoisme, kesombongan, cinta dunia yang berlebihan, sifat kikir, serta gengsi sosial. Menurutnya, inilah bentuk pengorbanan yang lebih berat namun sangat penting dalam kehidupan sehari-hari
Ia juga mengangkat contoh teladan dari para sahabat dan orang saleh yang rela mendahulukan kebutuhan orang lain meski dalam kondisi kekurangan. Hal tersebut, menurutnya, mencerminkan nilai kepedulian sosial yang menjadi inti dari ibadah kurban. “Semangat Idul Adha harus terus hidup dalam keseharian. Seorang ayah berkorban demi keluarga, seorang ibu demi anak, guru demi generasi, dan pemimpin demi kepentingan umat,” tambahnya.
Di akhir khutbah, jamaah diajak untuk menjadikan Idul Adha sebagai titik awal perubahan diri. Tidak hanya membawa pulang daging kurban, tetapi juga semangat pengorbanan, kepedulian sosial, serta komitmen untuk memperbaiki akhlak dan memperkuat ukhuwah.
Khutbah tersebut menjadi pengingat bahwa Idul Adha bukan hanya tentang ritual, melainkan tentang transformasi diri menuju pribadi yang lebih ikhlas, peduli, dan bertakwa. (M)
