HUT ke-8 Formasy Praja Nusantara: Teguhkan Budaya Bangsa, Gerakkan Mitigasi Krisis Air

MALANG || Jejak-indonesia.id – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahunnya yang ke-8, Organisasi Masyarakat Formasy Praja Nusantara (FPN) menggelar serangkaian kegiatan yang sarat makna, berlandaskan semangat kebangsaan dan kepedulian terhadap kelestarian alam. Berdiri sejak tahun 2019, FPN hadir dengan visi membina generasi penerus Nusantara yang kokoh memegang teguh empat pilar kebangsaan: Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuannya luhur: mewujudkan kemakmuran, kejayaan, serta keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa di tengah pergaulan dunia.

Di usia yang masih muda ini, FPN mengusung tema mendalam: “Cruak Gagak Nggrumut Semut – Hidup dengan Diri Sejati Seiring Kehendak Semesta dalam Ridho-Nya”. Tema ini menjadi cerminan semangat pergerakan yang diusung organisasi ini selama delapan tahun terakhir: membangun kesadaran etika sosial dan kepatuhan hukum, khususnya dalam hal pemanfaatan sumber daya air di kawasan hutan sebagai upaya strategis menghadapi ancaman krisis air, baik untuk masa kini maupun generasi mendatang.

Perayaan HUT ke-8 ini berlangsung khidmat di Dusun Dawuhan, Desa Tegal Gondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, tepatnya di kawasan sempadan Sungai Brantas yang berjarak sekitar tiga meter dari sumber mata air Sengkaling. Kegiatan dihadiri oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) FPN, Dodik Purwoko, S.P., didampingi Hassoyo Joko Pitono (Asisten Konstruksi Budaya dan Peradaban Nusantara DPN FPN), serta sejumlah tokoh dan warga dari berbagai wilayah: Suparman dari Oro-oro Ombo Kota Batu, Rohman dari Kepanjen Kabupaten Malang, Roni dari Giripurno Bumiaji, dan para aktivis lingkungan dari komunitas Dulur Tunggal Banyu Kota Malang.

Dalam sambutannya, Dodik Purwoko menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna lokal yang berdampak global. “Kami menggelar tasyakuran dan pemotongan tumpeng bersama perangkat desa dan warga sebagai wujud kepedulian nyata terhadap mitigasi krisis air. Keunikan kegiatan ini terletak pada doa bersama yang dipanjatkan di atas lahan yang menjadi tempat keluarnya sumber kehidupan ini, tepat pukul 15.08 WIB, dan diikuti oleh seluruh anggota FPN di berbagai penjuru wilayah,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, peringatan ini diharapkan membawa ketenangan batin, ketentraman hati, dan kemakmuran hidup bagi seluruh pihak, sejalan dengan semangat hidup jujur dan selaras dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi dan diskusi terbuka bagi warga Malang Raya untuk saling berbagi pandangan.

Selain sebagai ajang silaturahmi, momentum ini juga dimanfaatkan untuk menyosialisasikan pentingnya kepatuhan hukum dalam pengelolaan sumber daya air. “Air adalah sumber kehidupan bersama. Oleh karena itu, setiap pihak yang memanfaatkan air melebihi 100 meter kubik per bulan atau menggunakannya untuk kepentingan usaha dan diperjualbelikan wajib memiliki Surat Izin Pengusahaan Air. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah kerusakan sumber daya alam yang tidak tergantikan,” tegas Dodik.

Ia berharap kesadaran menjaga alam tidak hanya muncul karena ancaman sanksi hukum, melainkan tumbuh dari dalam hati sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan peradaban. “Kegiatan ini baru permulaan. Ke depannya, gerakan serupa akan kami lanjutkan di berbagai penjuru Nusantara,” tambahnya.

Sementara itu, Abdul Kholil, tokoh masyarakat dan aktivis lingkungan setempat, menyampaikan apresiasi yang mendalam. “Atas nama warga dan perangkat desa, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya peringatan HUT FPN ke-8 di desa kami. Kami sepenuhnya mendukung gagasan mitigasi krisis air ini sebagai tanggung jawab bersama. Semoga kelestarian alam dan sumber mata air di negeri ini tetap terjaga, dan segala jerih payah menjadi amal ibadah yang diridhoi-Nya. Aamiin,” ucapnya dengan penuh haru.

Semangat kebersamaan yang terjalin terangkum dalam salam persatuan: “Salam Satu Jiwa, Jiwa Nusantara”. Kegiatan ini juga mendapat tanggapan positif dari berbagai elemen masyarakat, salah satunya disampaikan oleh Edy Ambon, Ketua Grib Jaya Pasuruan Raya, yang menyatakan dukungannya terhadap langkah nyata yang diambil oleh FPN dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *