Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Berita » Halaman 53

Berita

IMG-20260708-WA0057

Polda Babel Kembali Gelar Aksi Penanaman Pohon Serentak, Komitmen Dukung Pelestarian Alam

BANGKA BELITUNG || Jejak-indonesia.id - Polda Bangka Belitung kembali menggelar aksi reklamasi dalam upaya ketahanan bumi Serumpun Sebalai dikawasan pesisir Pantai Rebo Kabupaten Bangka, Rabu (8/7/26).

Aksi reklamasi yang digelar serentak ini diinisiasi langsung Kapolda Babel Irjen Pol Viktor T. Sihombing dalam rangka Hari Bhayangkara ke 80.

Dari informasi yang dihimpun, ada sebanyak 3.000 bibit tanaman mangrove dan cemara yang ditanam diatas lahan seluas 3 hektar yang merupakan lahan eks tambang dikawasan tersebut.

Kapolda Irjen Pol Viktor mengatakan aksi penanaman pohon ini merupakan bentuk komitmen Polri dalam mendukung pelestarian lingkungan sekaligus menjadi momentum untuk membayar utang terhadap alam akibat pemanfaatan sumber daya alam yang belum diimbangi upaya pemulihan.

"Kegiatan reklamasi dengan penanaman pohon ini merupakan bentuk aksi positif agar alam memberikan reaksi positif kepada kita,"kata Kapolda dalam sambutannya.

"Selama ini banyak pohon yang ditebang, tetapi tidak semuanya diganti dengan penanaman kembali. Artinya kita masih memiliki utang terhadap lingkungan,"sambungnya.

Viktor menyebutkan, penanaman pohon ini semulanya direncanakan dalam rangkaian Hari Bhayangkara ke-80. Namun mengingat padatnya kegiatan, baru dapat terlaksana pada 8 Juli 2026.

Selain itu, Viktor juga menyebutkan bahwa Provinsi Bangka Belitung memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Mulai dari sektor kelautan, kehutanan, perkebunan hingga pertambangan mineral yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat.

"Pemanfaatan sumber daya alam ini juga menimbulkan dampak terhadap lingkungan apabila tidak diimbangi dengan upaya pelestarian. Dampaknya bukan hanya terhadap estetika atau pemandangan, tetapi juga terhadap ketahanan ekologi, ketahanan pangan, bahkan keberlangsungan hidup masyarakat Bangka Belitung,"sebutnya.

Eks Kadivkum Polri ini juga mengingatkan setiap tindakan manusia terhadap alam akan menimbulkan konsekuensi seperti halnya banjir dan longsor yang merupakan bentuk reaksi alam akibat kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini.

"Kalau aksi kita positif, alam akan bereaksi positif. Sebaliknya, kalau aksi kita negatif, alam juga akan memberikan reaksi negatif kepada kita. Banjir dan longsor yang terjadi di berbagai daerah merupakan salah satu bentuk reaksi alam akibat kerusakan lingkungan,"ujarnya.

Pada kesempatan itu, Viktor berharap penanaman pohon ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran semua pihak agar terus menjaga kelestarian lingkungan dan meninggalkan warisan positif bagi generasi mendatang.

Menurutnya, upaya reklamasi tidak bisa hanya dilakukan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Karena pemanfaatan lahan dan sumber daya alam masih terus berlangsung sehingga harus diimbangi dengan rehabilitasi lingkungan.

Ia juga menambahkan, Polda Bangka Belitung sejak 2022 hingga 2025 telah menanam sekitar 150.620 bibit pohon di lahan seluas kurang lebih 297,1 hektare.

"Kalau dibandingkan dengan luas lahan yang perlu dipulihkan tentu masih kecil. Karena itu, upaya ini harus terus dilakukan agar lingkungan menjadi lebih hijau, produktif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,"ujarnya.

Lebih lanjut, Jenderal Bintang Dua Polri ini mengungkapkan bahwa kegiatan aksi penanaman pohon tahun ini dilaksanakan secara serentak diseluruh jajaran sebagai bentuk dukungan terhadap program reklamasi yang dicanangkan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Selain sebagai upaya pencegahan dan pembinaan, Polda Bangka Belitung juga akan memperkuat penegakan hukum terhadap pemanfaatan sumber daya alam yang tidak sesuai dengan ketentuan.

"Preemtif, preventif, dan represif harus berjalan seimbang. Penegakan hukum diperlukan agar pemanfaatan sumber daya alam dilakukan sesuai aturan sehingga keberlanjutan lingkungan tetap terjaga,"tegasnya.

Viktor juga mengajak seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat dapat mendukung upaya menjaga kawasan hutan serta ruang publik agar dimanfaatkan sesuai peruntukannya.

Sebagai informasi, Polda Bangka Belitung bersama Polres jajaran hari ini menggelar aksi reklamasi serentak pada lahan seluas 14 hektare dengan jumlah 6.000 pohon berbagai jenis.

Untuk di kawasan Pantai Rebo Kabupaten Bangka, dilakukan penanaman dilahan seluas 3 hektare dengan total 3.000 bibit pohon, terdiri atas 2.000 bibit mangrove dan 1.000 bibit cemara laut.

Dalam aksi penanaman pohon tersebut turut dihadiri Wakapolda Brigjen Pol Murry Mirranda, PJU Polda, beberapa unsur Forkopimda, Bupati Bangka hingga komunitas pecinta alam.

IMG-20260708-WA0041

Usai Hari Bhayangkara ke-80, Satlantas Polresta Banyuwangi Perkuat Layanan SIM Humanis, Warga Beri Apresiasi

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Komitmen Satlantas Polresta Banyuwangi dalam menghadirkan pelayanan publik yang mudah, cepat, dan humanis mendapat respons positif dari masyarakat. Hal itu terlihat dari meningkatnya antusiasme warga yang mengajukan pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) baru maupun perpanjangan di Satpas SIM Polresta Banyuwangi, Rabu (8/7/2026).

Pelayanan yang terus ditingkatkan tersebut menjadi bagian dari komitmen Satlantas Polresta Banyuwangi dalam memberikan kemudahan kepada masyarakat, sekaligus memperkuat semangat pelayanan prima pasca peringatan Hari Bhayangkara ke-80.

Kanit Regident Satlantas Polresta Banyuwangi, AKP Famda Egga Prasnada, melalui Baur SIM Satpas Banyuwangi, Aipda I Putu Gede Juliardana, mengatakan pihaknya terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pemohon SIM, baik untuk pembuatan baru maupun perpanjangan.

"Komitmen kami adalah memberikan pelayanan yang ramah, mudah, transparan, dan humanis kepada seluruh masyarakat. Kami ingin memastikan setiap pemohon mendapatkan pelayanan sesuai prosedur tanpa dipersulit," ujarnya.

Ia menjelaskan, seluruh tahapan pembuatan SIM tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku, mulai pemeriksaan kesehatan, tes psikologi, ujian teori, hingga ujian praktik. Namun, seluruh proses dilaksanakan dengan pendekatan pelayanan yang lebih komunikatif dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Pelayanan tersebut mendapat apresiasi dari para pemohon. Salah satunya Vito Fachri, warga Boyolangu, Kecamatan Giri, yang baru berusia 18 tahun dan mengurus SIM sebagai salah satu persyaratan untuk mendaftar sebagai pengemudi ojek online.

"Saya baru lulus sekolah dan ingin membuat SIM untuk persyaratan mendaftar ojek online. Prosesnya ternyata mudah, mulai tes kesehatan, psikotes sampai praktik berjalan lancar. Petugas juga ramah dan tidak mempersulit," ungkap Vito.

Apresiasi serupa disampaikan Muhammad Ilham Pratama, warga Kalibaru. Ia mengaku sempat mendengar anggapan bahwa mengurus SIM merupakan proses yang rumit. Namun setelah mengalaminya sendiri, ia justru merasakan pelayanan yang cepat dan bersahabat.

"Awalnya saya dengar dari masyarakat kalau bikin SIM itu susah. Setelah saya datang langsung, ternyata prosesnya mudah, petugasnya ramah dan membantu menjelaskan setiap tahapan," katanya.

Satlantas Polresta Banyuwangi berharap pelayanan yang profesional, transparan, dan humanis dapat terus meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mendorong kesadaran pengendara untuk memiliki SIM sebagai bukti kompetensi dan legalitas dalam berlalu lintas. (***)

IMG-20260708-WA0037

Digelar 18 Juli, Banyuwangi Ethno Carnival 2026 Angkat Heroisme “Perang Bayu”

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Parade etnik Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 bakal digelar, Sabtu (18/7/2026). Ratusan talent akan membawakan kostum etnik moderen dengan desain unik, mengusung heroisme masyarakat Banyuwangi dalam Perang Bayu melawan VOC pada abad 18 lalu.

Tema BEC tahun ini adalah “Perang Bayu-The Great War of Blambangan”, mengisahkan aksi heroik perlawanan rakyat Blambangan terhadap penjajahan Belanda pada 1771-1772 (VOC), dan menjadi sejarah berdirinya Banyuwangi.

“BEC bukan sekadar karnaval kostum biasa, namun sebuah mahakarya seni berakar kearifan lokal. Ide dan tema yang diangkat setiap tahun diambil dari seni, budaya, tradisi, sejarah hingga potensi alam Banyuwangi. Inilah yang membedakan BEC dengan karnaval lainnya,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Selasa (7/7/2026).

Puluhan kostum etnik yang tampil dalam BEC akan memvisualisaikan 5 sub tema yang merpresentasikan berbagai fragmen perjuangan pada “Perang Bayu”. Pertama sub tema “Pejuang Blambangan”, memvisualisasikan tokoh pahlawan yang menjadi sentral dalam kisah ini yakni Rempeg Jogopati dan Sayu Wiwit.

Kedua sub tema “Genderang Perang” memvisualisasikan senjata yang digunakan rakyat Banyuwangi saat melawan penjajah seperti keris, tombak, jemparing (panah). Ketiga sub tema “VOC dan Sekutu” memvisualisasikan penjajah yang menyerang Blambangan seperti prajurit VOC dan upeti.

Keempat sub tema “Situs Perang” memvisualisasikan tempat berlangsungnya perlawan terhadap penjajah seperti Rowo Bayu, Teluk Pang-pang, Pelabuhan Grajagan. Kelima sub tema “Hasil Bumi” memvisualisasikan kekayaan Banyuwangi yang menjadi incaran penjajah seperti rempah-rempah dan hasil perkebunan.

“Inilah kekayaan tema lokal Banyuwangi yang tidak akan pernah habis digali. Tentunya akan sangat menarik untuk melihat kesemua sub tema tersebut divisualisasikan secara kreatif dalam sebuah rancangan kostum karnaval,” ujar Ipuk.

BEC menjadi bagian dalam rangkaian Banyuwangi Attraction 2026 yang digelar sejak tahun 2011 dan menjadi agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementrian Pariwisata setiap tahun sejak 2022.

“Terima kasih kepada seniman, budayawan, desainer serta anak-anak Banyuwangi yang terus setia menggangkat kearifan lokal sehingga khasanah Banyuwangi akan selalu hidup dan lestari,” ujar Ipuk.

BEC akan mengambil start di Taman Blambangan dan finish di depan Kantor Pemkab Banyuwangi dengan rute sepanjang jalan 2,5 KM. Biasanya ribuan orang akan memadati sepanjang jalan dan ratusan UMKM mendapatkan berkahnya.

“Parade BEC dimulai dari Taman Blambangan pada pukul 13.00. Para talent menyusuri rute sejauh 2,5 km menuju finish di depan kantor Pemkab Banyuwangi,” kata Plt Kepala Dinas Pariwisata Hartono.

Rangkaian BEC 2026 akan digelar selama tiga hari, 17-19 Juli 2026. Diawali pameran UMKM (17 Juli), disusul BEC Grand Carnival (18 Juli), dan ditutup dengan Konser Musik BEC (19 Juli).

"Minggu pagi, 19 Juli akan digelar BI Run. Tentunya wisatawan setelah menonton BEC, silakan besok paginya ikut event lari BI Run," tutup Ipuk. (*)

IMG-20260708-WA0036

Miliki Ekosistem yang Mendukung, Kemenko Pangan Tunjuk Banyuwangi Percontohan Monitoring Pangan Nasional

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Kementrian Koordinator Pangan menunjuk Kabupaten Banyuwangi untuk menjadi model monitoring pangan nasional. Banyuwangi diminta mengembangkan dashboard komoditi beras (dashboard rice journey) yang akan menjadi decision support system (DSS) bagi pengambil kebijakan.

Hal ini disampaikan Staf Ahli Menko Bidang Ekonomi Maritim Kemenko Pangan Sugeng Santoso saat bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono dalam rapat koordinasi (rakor) antara Kemenko Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemkab Banyuwangi, di Banyuwangi, Senin (6/7/2026).

Sugeng mengatakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 salah satu target yang harus dicapai oleh Kemenko Pangan adalah meningkatkan Indeks Ketahanan Pangan nasional dari 73 (2025) menjadi 82 (2029). Karenanya Kemenko Pangan melakukan sejumlah strategi dan upaya untuk mewujudkan hal tersebut.

“Salah satunya pemerintah akan mengembangkan decision support system (DSS) berupa Dashboard Rice Journey. Dashboard ini akan memberikan masukan sebagai bahan pengambil kebijakan, khususnya beras secara cepat, tepat dan berbasis data,” kata Sugeng.

Suigeng menjelaskan tujuan dashboard nantinya adalah menyediakan data secara realtime yang akan menjawab pertanyaan bagi pengambilan keputusan (decision support system) melalui system thinking/system dynamics. Seperti apakah ada risiko produksi dan risiko (kenaikan) harga atau kelangkaan beras. Di wilayah mana risiko tersebut paling tinggi.

Lalu apa saja kemungkinan penyebab utamanya seperti produksi, stok, RMU, distribusi, BBM/logistik, cuaca, atau perilaku pasar. Seberapa kuat bukti dan kualitas datanya, serta Intervensi apa yang perlu diputuskan sekarang dan siapa aktor yang harus digerakkan.

“Dashboard tidak hanya mampu mendeteksi potensi gangguan secara dini, tetapi juga menjelaskan hubungan sebab-akibat, mengevaluasi kualitas bukti, mensimulasikan berbagai skenario kebijakan, serta menghasilkan rekomendasi intervensi yang tepat sasaran,” terangnya.

Banyuwangi sendiri dipilih untuk mengembangakan dashboard rice journey, karena memiliki ekosistem yang mendukung. Di antaranya Banyuwangi merupakan daerah supplier atau produsen beras di tingkat nasional dan aktif melakukan monitoring dan pengendalian dalam distribusi pangan serta inflasi daerah. Serta memiliki basis tata kelola permerintah berbasis teknologi informasi yang kuat.

“Program ini akan menjadi kolaborasi dan sinergi antara Kemenko Pangan dan Pemkab Banyuwangi dalam mewujudkan tata kelola pangan yang lebih baik,. Nantinya model yang dikembangkan di Banyuwangi akan menjadi model dashboard bagi daerah lainnya," ujar Sugeng.

Sementara itu Bupati Ipuk menyampaikan Banyuwangi siap mendukung Program Pengembangan Dashboard Rice Journey bersama Kemenko Pangan.

“Terima kasih atas kepercayaan Kemenko Pangan pada Banyuwangi. Semoga kolaborasi ini akan menghasilkan kebijakan tata kelola pangan berbasis kondisi wilayah untuk memaksimalkan produksi pangan nasional.,” ujar Ipuk. (*)

IMG-20260708-WA0035

Bupati Ipuk Apresiasi Konsistensi LDII Banyuwangi Membina Karakter Generasi Muda

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi komitmen DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Banyuwangi yang konsisten membentuk karakter generasi muda yang profesional dan religius.

Hal itu disampaikan Bupati Ipuk saat menghadiri Perkemahan Akhir Tahun Ajaran (Permata) Cinta Alam Indonesia (CAI) 2026 yang diselenggarakan DPD LDII Banyuwangi di Bumi Perkemahan Permata Sidodadi, Kecamatan Glenmore, Selasa (7/7/2026).

"Atas nama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kami mengapresiasi LDII yang konsisten menyelenggarakan kegiatan sangat bermanfaat dan dibutuhkan anak-anak kita," ujarnya.

Program yang rutin diselenggarakan tiap tahun ini, kata dia, menjadi sarana menumbuhkan bibit kepemimpinan baru yang kelak mampu meneruskan estafet organisasi sekaligus berkontribusi bagi pembangunan Banyuwangi.

Karena, tantangan masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, keimanan, dan kepedulian sosial.

"Kegiatan ini menggembleng anak-anak agar memiliki akhlakul karimah, beriman kepada Allah SWT, serta peduli terhadap sesama sebagai bekal menghadapi masa depan," katanya.

Ketua DPD LDII Banyuwangi, Ir. Heri Sujatmiko menambahkan, Permata CAI digelar 7-9 Juli dan diikuti 500 muda-mudi. Selama tiga hari mereka dibekali berbagai pembinaan karakter.

Selain pembinaan keagamaan, peserta juga mendapatkan materi wawasan kebangsaan, bahaya narkotika dari BNNK dan Kesbangpol, serta penguatan pengetahuan dan soft skill.

"Harapan kami, generasi muda benar-benar siap menjadi generasi yang profesional dan religius. Itulah tujuan utama kegiatan ini untuk menyongsong Indonesia Emas 2045," kata Heri. (*)

error: Content is protected !!