Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Arsip untuk Redaksi » Halaman 32

Redaksi

IMG-20260809-WA0068

Kurun Waktu Tiga Hari, Satres Narkoba Polres Binjai Tangkap Lima Terduga Bandar Narkoba

BINJAI || Jejak-indonesia.id – Satuan Reserse Narkoba Polres Binjai kembali menunjukkan komitmennya dalam memberantas peredaran gelap narkotika. Dalam kurun waktu tiga hari, petugas berhasil menangkap lima pria yang diduga terlibat dalam peredaran narkoba di wilayah hukum Polres Binjai.

Kelima tersangka masing-masing berinisial A (21), DS (45), RRL (35), AG alias Boneng (45), dan WK (23). Mereka diamankan di sejumlah lokasi berbeda, yakni Jalan Danau Poso dan Jalan Ir. Juanda, Kecamatan Binjai Timur, pada Selasa (4/8/2026), serta Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kecamatan Selesai, dan Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, pada Kamis (6/8/2026).

Dari penindakan tersebut, polisi mengamankan barang bukti berupa sabu dengan berat bruto 34,27 gram, 21 plastik transparan berisi narkotika, tiga sekop dari pipet, dua unit telepon seluler, dua dompet penyimpanan narkoba, dua sepeda motor, serta uang tunai Rp130 ribu yang diduga hasil penjualan narkotika.

Kapolres Binjai AKBP R. Bimo Moernanda, S.I.K., M.H., melalui Kasat Resnarkoba AKP Ismail Pane, S.H., M.H., menegaskan bahwa pengungkapan tersebut merupakan bentuk keseriusan Polres Binjai dalam memberantas peredaran narkotika.

“Polres Binjai akan terus melakukan penindakan tegas terhadap pelaku penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba demi terciptanya situasi kamtibmas yang aman dan kondusif,” tegas AKP Ismail Pane.

Kelima tersangka beserta barang bukti telah diamankan di Satresnarkoba Polres Binjai untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Para tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo. Pasal 609 ayat (2) huruf a UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP jo. UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

Kapolres Binjai juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif membantu kepolisian dalam pemberantasan narkoba maupun tindak kejahatan lainnya dengan menyampaikan informasi melalui Call Center Polri 110.

“Polres Binjai tetap berkomitmen memberantas peredaran narkoba di wilayah hukum Polres Binjai,” tegas AKBP R. Bimo Moernanda.

Humas Polres Binjai
(08/08/2026)

IMG-20260809-WA0066

Polda Babel Amankan Pria Di Pangkalpinang Usai Simpan 12,8 Kilogram Ganja Dirumah

BANGKA BELITUNG || Jejak-indonesia.id - Direktorat Resnarkoba Polda Bangka Belitung berhasil mengamankan seorang pria berinisial EE alias Win, warga Kelurahan Kacang Pedang Kota Pangkalpinang.

Pria berusia 51 tahun itu ditangkap usai kedapatan menyimpan belasan paket besar narkoba jenis ganja di rumahnya.

Dirresnarkoba Polda Babel Kombes Pol Ronald C Sipayung mengatakan penangkapan pelaku dilakukan oleh Tim Subdit I yang dipimpin Panit Subdit I Iptu Doni Nopriyadi pada Jumat (7/8/26) malam.

"Dari rumah pelaku, kita amankan ada sebanyak 17 paketan narkoba jenis ganja dengan rincian 13 paket besar, 2 paket sedang dan 2 paket kecil dengan berat bruto keseluruhannya 12.876 gram atau 12,8 kilogram,"kata Ronald, Minggu di Mapolda.

Ronald menyebutkan, pengungkapan ini dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari masyarakat terkait adanya aktivitas mencurigakan dirumah tersebut.

Berdasarkan laporan masyarakat, Tim Subdit I bergerak melakukan penyelidikan dan langsung mendatangi lokasi tersebut.

"Setibanya disana, kita langsung mengamankan pelaku dan melakukan penggeledahan menyeluruh yang disaksikan oleh Ketua RT setempat,"sebutnya.

Selain mengamankan belasan paketan ganja, Tim Subdit I juga mengamankan sejumlah barang bukti lain diantaranya 1 unit handphone, 1 kotak plastik kecil yang didalamnya berisikan 1 timbangan digital.

"Saat kita amankan, pelaku mengakui bahwa belasan paketan ganja ini benar atas penguasaannya atau kepemilikan pelaku,"ungkapnya.

Atas perbuatanya, pelaku dijerat dengan pasal 114 ayat (2), pasal 111 ayat (2) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika jo UU RI Nomor 1 tahun 2023 tentang KUHP jo UU RI Nomor 1 tahun 2026 tentang penyesuaian pidana dengan ancaman seumur hidup dan atau penjara paling lama 20 tahun.

Sementara, Kabid Humas Polda Babel Kombes Pol Agus Sugiyarso membenarkan adanya pengungkapan narkoba jenis ganja sebanyak 12,8 kilogram di Pangkalpinang.

Agus menuturkan pelaku dan barang bukti belasan paket narkoba jenis ganja saat ini sudah diamankan di Mapolda.

"Ya benar, kita sudah terima laporannya dari Pak Dir Narkoba. Pelaku dan 17 paketan ganja saat ini sudah diamankan di Mapolda untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,"ujar Agus.

Lebih lanjut, Agus menegaskan kembali komitmen Kepolisian dalam upaya pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan narkoba khususnya di Bangka Belitung.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dari narkoba.

"Kami dari Kepolisian mengajak masyarakat untuk bersinergi dalam memberantas segala bentuk peredaran maupun penyalahgunaan narkoba dilingkungan kita masing-masing,"ucapnya.

"Kami juga mengimbau, jika masyarakat menemukan hal-hal yang mencurigakan segera laporkan ke kantor Kepolisian setempat atau melalui layanan call center kami di 110,"pungkasnya.

IMG-20260809-WA0067

Peduli Satwa Dilindungi, Warga Perbatasan Serahkan 1 Kg Sisik Trenggiling ke Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonarmed 19/Bogani

SAMBAS, KALIMANTAN BARAT || Jejak-indonesia.id – Kepedulian terhadap kelestarian satwa dilindungi kembali ditunjukkan masyarakat di wilayah perbatasan. Seorang warga Dusun Asuansang, Desa Sungai Bening, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, berinisial J (64) secara sukarela menyerahkan sekitar 1 kilogram sisik trenggiling kepada personel Pos Sei Bening Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonarmed 19/Bogani, Sabtu (8/8/2026).

Penyerahan tersebut bermula dari kegiatan komunikasi sosial yang dilakukan personel Pos Sei Bening di wilayah Dusun Air Bening dan Dusun Asuansang. Dalam kegiatan tersebut, personel Satgas memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai larangan kepemilikan bagian tubuh satwa dilindungi serta pentingnya menjaga kelestarian trenggiling di wilayah perbatasan.

Setelah mendapatkan penjelasan dari personel Satgas, warga berinisial J bersedia menyerahkan sisik trenggiling yang sebelumnya disimpan di rumah secara sukarela. Penyerahan tersebut diterima langsung oleh Danpos Sei Bening Sertu Adriansyah Buluati bersama Wadanpos Kopda Rusdi Rajamuddin pada pukul 18.50 WIB.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Satgas Pamtas dalam membangun kesadaran dan kepercayaan masyarakat melalui pendekatan persuasif dan humanis. Personel Satgas juga mengimbau masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan atau memiliki bagian tubuh satwa dilindungi maupun barang ilegal lainnya.

Penyerahan sekitar 1 kilogram sisik trenggiling ini menjadi bentuk nyata sinergi antara Satgas Pamtas dan masyarakat dalam menjaga kelestarian satwa serta keamanan wilayah perbatasan RI-Malaysia. Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonarmed 19/Bogani akan terus meningkatkan komunikasi sosial, edukasi, dan pengawasan bersama masyarakat di wilayah perbatasan.

*Kontak Media*
Penerangan Satgas Pamtas
RI - Malaysia Yonarmed19/Bogani
Kodam XIII/Merdeka
Ltd Ctp Juwito (Papen)

IMG-20260809-WA0060

Sejarah Yang Nyaris Terkubur: Besuki Disebut Pernah Jadi Panggung Pergerakan, Jejak Soekarno-Bung Tomo Hingga “Kabinet Para Mantri”

BESUKI || Jejak-indonesia.id — Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak selalu hadir dalam bentuk arsip, dokumen resmi, atau buku pelajaran. Di sejumlah daerah, sejarah justru bertahan melalui ingatan kolektif masyarakat—diceritakan para sesepuh, diwariskan dalam keluarga, kemudian disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Salah satu serpihan sejarah lokal itu kini kembali mencuat dari Besuki, Jawa Timur.

Cerita tersebut dituturkan R. Mas MH Agus Rugiarto Astrodiarjo, SH, yang akrab disapa Agus Flores. Ia mengungkap sejumlah kisah yang selama puluhan tahun berkembang di tengah masyarakat Besuki dan diperoleh dari penuturan para sesepuh berusia sekitar 65 hingga 80 tahun ke atas.

Kisah-kisah tersebut menyentuh sejumlah nama besar dalam sejarah Indonesia, mulai dari Soekarno, Bung Tomo, hingga dinamika politik dan pemerintahan pada masa awal kemerdekaan.

Namun ada satu catatan penting: sebagian besar kisah tersebut masih berada dalam ranah tradisi lisan dan belum seluruhnya terkonfirmasi melalui arsip sejarah primer.

Karena itu, cerita tentang Besuki ini bukan sekadar untuk dipercaya begitu saja, melainkan menjadi pintu masuk untuk melakukan penelitian lebih serius.

Besuki dan Jejak Pergerakan yang Belum Banyak Terungkap

Dalam penuturan yang berkembang di masyarakat, Besuki disebut pernah menjadi salah satu kawasan yang memiliki arti dalam dinamika pergerakan politik dan sosial menjelang serta pada masa awal kemerdekaan.

Bahkan muncul cerita bahwa Soekarno ketika masih kecil pernah datang ke Besuki.

Kawasan Besuki juga disebut memiliki hubungan dengan dinamika kelompok politik dan keagamaan, termasuk kelompok yang kemudian dikaitkan dengan Masyumi, serta hubungan sosial antara kalangan priayi, kiai, pesantren dan masyarakat.

Cerita yang diwariskan para sesepuh bahkan menyebut adanya aktivitas pembicaraan, konsolidasi dan pergerakan yang berkaitan dengan perjuangan menuju Indonesia merdeka.

Nama Bung Tomo juga muncul dalam cerita masyarakat.

Namun, sekali lagi, setiap klaim mengenai keterlibatan tokoh nasional tersebut perlu ditempatkan sebagai informasi yang masih membutuhkan pembuktian melalui arsip, dokumen, surat-menyurat, catatan organisasi, kesaksian primer maupun sumber sejarah lain yang dapat diverifikasi.

Sejarah Lokal Tidak Boleh Hilang Hanya Karena Tidak Tertulis

Agus Flores menilai, banyak cerita sejarah di tingkat lokal yang berpotensi hilang apabila tidak segera didokumentasikan.

Ia menyebut sebagian kisah tersebut diperoleh dari para sesepuh yang masih menyimpan ingatan mengenai peristiwa masa lalu.

“Kebanyakan sejarah di Jawa dikaburkan pada masa VOC Belanda. Yang bagus-bagus dihapus dari sejarah.”

Pernyataan tersebut merupakan pandangan yang disampaikan berdasarkan cerita yang berkembang di lingkungan masyarakat. Secara akademis, tentu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menguji sejauh mana klaim tersebut dapat dibuktikan.

Persoalannya bukan semata-mata apakah seluruh cerita tersebut benar atau tidak.

Yang jauh lebih penting adalah jangan sampai ingatan masyarakat hilang sebelum sempat diteliti.

Raden Sastrodiarjo dan Cerita tentang Lingkar Keluarga

Cerita lain yang berkembang berkaitan dengan sosok Raden Sastrodiarjo, yang dalam tradisi lisan setempat disebut memiliki keterkaitan dengan keluarga Soekarno dan dinamika pergerakan.

Kisah tersebut menjadi bagian dari memori keluarga dan masyarakat yang hingga kini masih dituturkan.

Tetapi informasi mengenai hubungan, peran, maupun aktivitas tokoh-tokoh tersebut harus diuji dengan sumber sejarah yang independen agar tidak terjadi pencampuran antara sejarah, legenda keluarga, dan interpretasi generasi berikutnya.

Pondok Pesantren dan Pesan Mbah Soleh

Serpihan cerita lainnya mengarah kepada keberadaan Pondok Pesantren Miftahul Ulum.

Dalam tradisi lisan yang disampaikan Agus Flores, pesantren tersebut disebut sebagai salah satu lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki sejarah panjang dan dikaitkan dengan lingkungan pemikiran pada masa tersebut.

Pesantren itu disebut pernah diasuh KH Abdul Rozak Soleh, yang oleh masyarakat dikenal sebagai Mbah Soleh dan disebut sebagai leluhur Agus Flores.

Salah satu pesan yang diwariskan Mbah Soleh adalah agar pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan dan keagamaan serta tidak terseret ke dalam politik praktis.

Pesan tersebut memiliki makna yang menarik jika dilihat dari konteks hubungan pesantren, masyarakat dan politik pada masa perjuangan kemerdekaan.

Misteri “Kabinet Para Mantri” di Tanah Besuki

Yang tak kalah menarik adalah cerita mengenai sistem pemerintahan di wilayah Besuki pada masa awal kemerdekaan.

Masyarakat mengenal sebuah istilah yang disebut “Para Mantri”.

Dalam cerita tersebut, Residen Besuki disebut pernah membentuk struktur pemerintahan yang melibatkan sejumlah tokoh lokal.

Beberapa nama yang masih disebut dalam tradisi lisan antara lain Mbah Kusman, Mbah Sumo, serta seorang tokoh yang disebut sebagai ayah dari Om Kusnandar.

Mereka dipercaya pernah menjalankan fungsi sebagai mantri dalam struktur pemerintahan Besuki.

Jika benar terdapat struktur pemerintahan lokal dengan nomenklatur tersebut, maka persoalan ini menarik untuk ditelusuri melalui arsip pemerintahan kolonial, arsip Karesidenan Besuki, dokumen pemerintah Republik Indonesia periode 1945–1949, surat keputusan, koran sezaman, maupun dokumen administrasi lainnya.

Istilah “Kabinet Para Mantri” sendiri perlu dipastikan apakah merupakan nomenklatur resmi pemerintahan atau istilah masyarakat untuk menyebut sekelompok pejabat/tokoh lokal.

Di sinilah penelitian sejarah menjadi penting.

HUT RI ke-81: Bukan Sekadar Upacara

Memasuki peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Agus Flores memandang momentum tersebut tidak seharusnya berhenti pada upacara, lomba, pengibaran bendera atau seremoni tahunan.

Di balik kemerdekaan terdapat ribuan bahkan jutaan manusia yang bekerja, bergerak dan berkorban dalam berbagai bentuk.

Sebagian tercatat dalam sejarah nasional.

Sebagian hanya dikenal oleh masyarakat di kampungnya.

Sebagian lainnya mungkin tinggal nama yang hampir hilang bersama generasi yang pernah mengenalnya.

“Sehingga wajar saya membuat acara HUT RI, mengingat perjuangan mereka,” ujar Agus Flores.

IMG-20260809-WA0059

Semarak HUT RI ke-81, Warga RW 3 Lingkungan Krajan Lateng Gelar Beragam Lomba, Pererat Kebersamaan dan Nasionalisme

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id — Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 mulai terasa di tengah masyarakat. Berbagai kegiatan digelar warga sebagai bentuk partisipasi dalam memeriahkan momentum kemerdekaan sekaligus mempererat tali silaturahmi.

Kemeriahan tersebut berlangsung di RW 3 Lingkungan Krajan, Kelurahan Lateng, Banyuwangi, dengan melibatkan masyarakat dari RT 1 hingga RT 5. Sejumlah perlombaan rakyat menjadi bagian dari kegiatan yang digagas bersama para remaja RW 3.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua RW 3 Bapak Diky Hidayat, Yon DD musisi senior Banyuwangi, serta didampingi anggota Ormas Laskar SAKERA DPC Banyuwangi, Moh. Soediyanto dan Agus.

Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan bahwa peringatan HUT RI bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk membangun kebersamaan, persatuan dan kepedulian antarwarga.

Yon DD menyampaikan bahwa kegiatan perlombaan dalam rangka HUT RI ke-81 hendaknya tidak hanya dilihat dari sisi hiburan semata. Menurutnya, kegiatan masyarakat seperti ini memiliki nilai penting dalam mempererat hubungan antarwarga.

“Yang paling penting bukan sekadar siapa yang menang atau kalah dalam perlombaan. Momentum seperti ini harus menjadi kesempatan bagi seluruh warga untuk berkumpul, bersilaturahmi dan memperkuat rasa persaudaraan. Semangat kemerdekaan harus kita jaga bersama,” ujar Yon DD. Minggu (9/8)

Ia juga mengapresiasi keterlibatan para remaja RW 3 yang turut mengambil peran dalam menyukseskan rangkaian kegiatan.

“Saya sangat mengapresiasi para remaja yang mau bergerak dan berkontribusi. Ini menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan semangat untuk menjaga kebersamaan,” tambahnya.

Sementara itu, Moh. Soediyanto, anggota Ormas Laskar SAKERA DPC Banyuwangi, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat warga RW 3 Lingkungan Krajan dalam memeriahkan HUT RI ke-81.

Menurutnya, kegiatan positif yang melibatkan masyarakat, khususnya generasi muda, patut didukung karena dapat menjadi sarana membangun kekompakan sekaligus menanamkan nilai nasionalisme.

“Kami dari Laskar SAKERA DPC Banyuwangi sangat mengapresiasi kegiatan masyarakat seperti ini. Semangat kemerdekaan harus diwujudkan melalui kebersamaan, gotong royong dan kegiatan-kegiatan positif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat,” kata Moh. Soediyanto.

Ia menegaskan, keberadaan organisasi masyarakat di tengah warga diharapkan dapat memberikan kontribusi positif serta ikut menjaga kondusivitas lingkungan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dipertahankan. Jangan sampai semangat gotong royong dan kebersamaan hanya muncul ketika ada perayaan. Justru momentum HUT RI harus menjadi pengingat bahwa persatuan dan kepedulian terhadap sesama harus terus dijaga,” tegasnya.

Ketua Remaja RW 3 Lingkungan Krajan, Niko Nardiyanto, bersama para remaja turut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan berbagai perlombaan yang diikuti masyarakat.

Keterlibatan para pemuda tersebut menjadi warna tersendiri dalam perayaan HUT RI ke-81. Kreativitas dan semangat mereka menjadi salah satu penggerak terlaksananya kegiatan yang melibatkan warga dari RT 1 sampai RT 5.

Semangat gotong royong terlihat dalam kegiatan tersebut. Warga bersama-sama menciptakan suasana meriah, penuh keakraban dan kekeluargaan.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang lomba dan mencari pemenang, tetapi bagaimana kita bersama-sama memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, mempererat silaturahmi dan menjaga kekompakan warga,” demikian semangat yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Momentum HUT RI ke-81 diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk terus menumbuhkan rasa nasionalisme, kreativitas serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Kegiatan yang melibatkan para remaja juga menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga semangat persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Dengan semangat kemerdekaan, gotong royong dan persaudaraan, warga RW 3 Lingkungan Krajan Kelurahan Lateng berharap seluruh rangkaian kegiatan HUT RI ke-81 dapat berlangsung meriah, aman dan memberikan kesan positif bagi seluruh masyarakat.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka! 🇮🇩

error: Content is protected !!