BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali seseorang yang memilih menjaga jarak, tidak banyak bicara, atau tidak ikut campur urusan orang lain dianggap sombong. Padahal, menurut Mbah Semar, sikap tersebut belum tentu merupakan kesombongan, melainkan bentuk kesadaran diri dan kemampuan menempatkan diri dengan tepat.
“Bukan sombong, ini namanya tahu diri. Tahu kapan harus berbicara, tahu kapan harus diam, tahu batas kemampuan, dan tahu posisi diri dalam setiap keadaan,” ujar Mbah Semar. Minggu (31/5/26)
Menurutnya, orang yang tahu diri tidak akan memaksakan kehendak, tidak merasa paling hebat, dan tidak berusaha mencari pengakuan dari orang lain. Mereka lebih memilih fokus memperbaiki diri daripada sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.
Mbah Semar menjelaskan bahwa tahu diri adalah bentuk kebijaksanaan. Seseorang yang memahami kapasitas dan tanggung jawabnya akan lebih mudah menjaga sikap, menghormati orang lain, serta menghindari konflik yang tidak perlu.
“Kesombongan lahir dari perasaan merasa lebih tinggi dari orang lain. Sedangkan tahu diri lahir dari kesadaran untuk memahami siapa diri kita sebenarnya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua penilaian orang harus dijadikan beban. Selama seseorang berjalan di jalur yang benar, menjaga etika, dan tidak merugikan orang lain, maka tidak perlu terlalu memikirkan anggapan negatif yang datang dari luar.
Di akhir pesannya, Mbah Semar mengajak masyarakat untuk membangun karakter yang rendah hati namun tetap percaya diri.
“Jadilah pribadi yang tidak merasa lebih baik dari siapa pun, tetapi juga tidak merasa lebih rendah dari siapa pun. Itulah makna tahu diri yang sesungguhnya,” pungkasnya.
