BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Suasana posko pendampingan korban mendadak berubah jadi ajang guyonan usai sejumlah wartawan lokal disebut ramai-ramai “ngambil jatah korban”. Bukannya tegang membahas berita, para awak media malah sibuk menghitung siapa yang dapat nasi bungkus paling banyak.
Dalam candaan yang beredar di lokasi, Buang yang dikenal sebagai wartawan media lokal disebut hanya mendapat bagian sedikit. Ia terlihat pasrah sambil memegang kopi sachet dan sebungkus gorengan dingin.
“Yang penting masih kebagian, daripada cuma lihat orang makan,” celetuk Buang sambil tertawa disambut rekan-rekannya.
Sementara itu, Idham yang dikenal sebagai ustadz sekaligus merangkap wartawan justru disebut mendapat perlakuan spesial. Selain dipanggil lebih dulu saat makan siang, ia juga beberapa kali ditawari tambahan lauk oleh warga sekitar.
“Kalau ustadz datang, nasi kotak langsung berdiri hormat,” ujar salah satu wartawan sambil ngakak.
Tak hanya itu, suasana makin pecah ketika ada yang bercanda bahwa Ikdam bukan lagi mencari berita, melainkan lebih fokus mengamankan stok teh hangat dan kerupuk di meja konsumsi.
“Liputan nomor dua, yang penting ayamnya jangan sampai habis,” teriak salah satu awak media lainnya.
Meski penuh candaan, suasana tetap berlangsung akrab dan santai. Para wartawan mengaku kebersamaan di lapangan memang sering diwarnai humor agar tidak terlalu tegang saat meliput berbagai persoalan sosial dan musibah.
Di akhir acara, Buang dikabarkan sempat protes ringan karena jatahnya kalah jauh dibanding Ikdam. Namun setelah mendapat tambahan pisang goreng dan kopi hitam, suasana kembali aman terkendali.
(Mahadur)
