Sorry, we're closed Opens Rabu at 9:00 am

Bulan: Desember 2025

Polres Jember Terjunkan Personel Bantu Warga Terdampak Banjir

JEMBER || jejakindinesia.id - Intensitas luapan air sungai yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Jember Jawa Timur mengakibatkan bencana bagi masyarakat, khususnya warga yang tinggal di bantaran sungai pada Selasa (16/12) yang lalu.

Merespons kondisi tersebut, Polres Jember Polda Jatim bergerak cepat melakukan penanganan dan bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak.

Bersama Sat Brimob, BPBD, relawan, serta instansi terkait, Polres Jember Polda Jatim bahu membahu melaksanakan kerja bakti membersihkan rumah dan lingkungan warga yang terdampak luapan air.

Lumpur, sampah, serta material sisa banjir dibersihkan agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.

Selain kerja bakti, Polres Jember Polda Jatim juga menyalurkan nasi bungkus kepada warga terdampak.

Bantuan tersebut diberikan karena banyak warga tidak dapat memasak akibat bahan makanan dan peralatan dapur mereka hanyut terbawa arus luapan air sungai.

Kapolres Jember AKBP Bobby A. Condroputra menyampaikan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat saat bencana merupakan bentuk tanggung jawab dan kepedulian kemanusiaan.

“Kami berupaya hadir secepat mungkin untuk membantu masyarakat. Selain pembersihan lingkungan, kami juga menyalurkan bantuan makanan agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi," ujarnya, Rabu (17/12).

Menurut AKBP Bobby, sinergitas semua pihak menjadi kunci percepatan penanganan bencana ini.

Polres Jember Polda Jatim memastikan akan terus melakukan pemantauan kepada warga terdampak hingga kondisi benar-benar pulih, serta mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan luapan susulan. (*)

Imung dan Sasetya Berkolaborasi Luncurkan Antologi Cerpen

SURABAYA || jejakindinesia.id - Untuk kedua kalinya jurnalis senior Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama berkolaborasi meluncurkan buku. Kali ini sama-sama berupa buku antologi cerpen. Imung meluncurkan antologi cerpen “Runtah” dan Sasetya meluncurkan “Wali Katon,” kumpulan cerpen dan cerita cekak (berbahasa Jawa).

Peluncuran dua buku antologi cerpen tersebut berlangsung di Quds Royal Hotel, Jl. Sultan Iskandar Muda 85 (kawasan Ampel) Surabaya, Rabo (17/12).

Sebelumnya pada kolaborasi pertama, pada bulan September lalu, dilaksanakan di kampus Stikosa AWS. Saat itu Imung meluncurkan antologi puisi “Tuhan, Plis Deh...” dan Sasetya meluncurkan kumpulan esai “Wong Katrok Merambah Media.”

Kali ini, peluncuran dua buku itu dilaksanakan di tengah festival“Secangkir Kopi, Sejuta Ide”bersamaan dengan peluncuran Quds Coffee Corner di hotel tersebut.

RM Pungky Kusuma, General Manager hotel di Surabaya Utara ini memang kreatif. Dia memadukan peluncuran buku dengan pembukaan pameran lukisan bertajuk "Bingkai Masa" karya Edi Marga, Budi AN, Luthfi Satako dan Dewi Ulantina. Dipadu juga dengan dengan menghadirkan musik keroncong besutan seniman teater Meimura. Sedangkan dresscode bertema nuansa Jawa busana tempo dulu, sehingga suasana acara terlihat unik dan kenarik. Sambil ngopi dan mengudap kue maryam, audiens yang hadir tampak sangat menikmati jalannya acara.

Dalam sambutannya sebagai host Pungky menyatakan, hotel yang dipimpinnya sangat terbuka sebagai ajang mengekspresikan ide-ide, menggelar karya-karya para seniman, dan aneka kegiatan budaya lainnya. “Monggo, silahkan, kami siap bekerja sama dengan siapa saja,” ujarnya di depan audiens yang kebanyakan seniman dari berbagai bidang dan jurnalis.

*Cerpen Jurnalistik*

Buku Imung Mulyanto, “Runtah,” berisi sembilan judul cerita pendek yang sebagian besar belum pernah dipublikasikan kecuali “Tidur Panjang” yang berkisah tentang betapa pentingnya sebuah harapan, meskipun kecil agar orang tetap bertahan hidup dalam kondisi sesulit apa pun.

Mengapa disebut cerpen jurnalistik? “Sebagaimana karya jurnalistik, cerpen-cerpen saya kebanyakan ada news peg-nya, ada cantelannya, ada konteksnya. Atau dengan kata lain, kontekstual. Bahwa kemudian ada yang menjadi universal, itu sama sekali tak terpikirkan di saat menulis. Hal yang selalu tebersit dalam benak saya, sebagai jurnalis karya saya tak boleh lepas dari konteks masyakat. Syukur-syukur bermanfaat bagi masyarakat,” jawab mantan redaktur Surabaya Post dan GM Arek TV ini.

Hal lainnya, saat hendak menulis cerpen, Imung menjalani proses sebagaimana seorang jurnalis. Dia mengumpulkan data dengan riset dokumentasi, observasi, dan sesekali interview. Bedanya, bahan baku faktual itu bukan lantas ditulis atau direkonstruksi sebagaimana saat menulis berita, tetapi diendapkan untuk kemudian direfleksikan menjadi karya fiksi.

“Setelah tidak menjadi jurnalis yang selalu diburu-buru deadline, sekarang saya punya cukup waktu untuk kontemplasi dan sublimasi. Jadilah karya-karya saya sekarang berupa cerpen, puisi, dan novel,” tutur mantan penulis film seri AKu Cinta Indonesia (ACI) yang legendaris di tahun 1980-an ini.

Mantan Tim Ahli Dinas Kominfo Jatim ini menyadari, kaidah penulisan jurnalistik dan prosa atau puisi sangatlah berbeda. Karya jurnalistik berdasarkan fakta faktual, fenomena, atau opini, prosa atau puisi murni fiksi atau hasil imajinasi.

“Inilah eksperimen saya. Saya mencoba menyisipkan data faktual di antara fiksi hasil imajinasi. Hasilnya terserah pembaca. Mungkin ada yang suka karena memperkaya, tetapi bisa jadi ada yang merasa terganggu karena perjalanan alur cerita menjadi tidak mulus,” kata anggota komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas) yang sudah meluncurkan tujuh antologi puisi ini.

Dr. Wawan Setiawan, Dosen Unesa yang juga sastrawan dalam cacatan pengantarnya juga mengingatkan, eksperimen memasukkan data sebagaimana sifat karya jurnalistik, terkadang memang mengganggu.

“Tetapi pembaca boleh memilih sikap yang mana, sebagai pembaca tradisional atau sebagai pembaca yang suka kekayaan info empiris. Pembaca tradisional mungkin bersikap yang pertama,” katanya.

Namun Adriono, editor buku ini menyebut, membaca kumpulan cerpen ini sungguh asyik karena sang penulis memiliki kepiwaian dalam mengolah cerita. Intronya dibikin memikat, sehingga memancing minat baca.

“Tentu ini point penting, mengingat tabiat pembaca zaman now yang tidak sabaran: segera scroll-scroll pindah mencari tulisan lain, begitu melihat alinea awal yang tidak memikat,” katanya.

Sebagian cerpen dimulai dengan kalimat langsung yang efektif untuk membetot perhatian. Seperti “Maling…. maling….!” (Runtah), atau “Cak... Cak Sipan... bangun, Cak!” (Tidur Panjang). Boleh jadi ciri khas ini terbentuk karena penulis juga seorang penulis skenario tv/film kawakan. Di dunia sinema, trik ini dikenal dengan konsep opening hook, yaitu adegan pembuka yang memang dirancang untuk mengundang curiosity, rasa ingin tahu penonton.

Kemungkinan kedua, jurus ini juga dipengaruhi oleh kaidah penulisan jurnalistik, mengingat penulis juga sosok wartawan senior. Di dunia pers dikenal istilah lead. Artinya, alinea pertama berita haruslah menohok, menyentuh, atau minimal bikin kepo.

Diakui atau tidak, kata Adriono, latar belakang profesi penulis memang memengaruhi karyanya. Kebiasaan sebagai jurnalis yang gemar melacak data dan menggali referensi, membuat beberapa cerpennya ikut bermuatan informasi. Muncul angka statistik jumlah napi yang tertangkap KPK, jumlah ponsel pintar di dunia, spesifikasi ilmiah biawak (varanus salvator), juga ciri-ciri penderita post power syndrome. Cerpen-cerpennya juga bersinggungan dengan isu aktual dan berkaitan dengan situasi kekinian seperti fenomena #KaburAjaDulu, SDG’s, restoratif justice, termasuk nasib perih pasien BPJS.

“Sah-sah saja, meskipun bagi sebagian orang mungkin penambahan referensi seperti itu dinilai dapat mengurangi taste sastranya,” ujarnya.

Pada cerpen “Runtah” yang dipilih sebagai judul buku, problem sampah tidak saja disajikan sebagai masalah konkret yang membelit tokoh-tokohnya, tetap ditarik naik hingga menjadi konseptual, filosofis, dan simbolik. Tak lupa disertakan pandangan reflektif Greg Kennedy hingga pemikiran eksistensialis Martin Heidegger.

“Mungkin karena alasan itu kemudian Imung menyebut antologinya ini sebagai kumpulan Cerpen Jurnalistik. Akhirnya, selamat menikmati berbagai kisah manusia dari berbagai strata ini. Mulai dari cerita tukang becak, pengantin baru kelas menengah, hingga president director perusahaan level multinasional, yang ternyata mereka memiliki satu kesamaan: sama-sama punya keruwetan hidup sendiri-sendiri,” kata editor dan penulis yang sangat produktif ini.

*Pertanda ‘Bangun Tidur’*

Akan halnya Sasetya Wilutama, penulis “Wali Katon” mengaku, kumpulan cerpen dan cerkak ini ibarat pertanda “bangun tidur,” maksudnya menandai masa “bangun tidur” dalam dunia tulis menulis, khususnya sastra.

“Tahun-tahun sebelumnya saya tertidur karena kesibukan yang sangat padat sebagai pekerja televisi dan berbagai masalah lain. Saya nyaris vakum dari kegiatan menulis sastra,” kata mantan redaktur majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat ini dan Produser Creatif SCTV ini .
(Redho)

Kabaharkam Polri Mengunjungi Posko Bencana di Kabupaten Aceh Tamiang

TAMIANG || jejakindinesia.id - Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri, Komisaris Jenderal Polisi Karyoto, S.I.K., M.H., melaksanakan peninjauan Posko Bencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memastikan kelancaran pendistribusian bantuan logistik bagi masyarakat yang terdampak bencana alam di wilayah Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh, Selasa (16/12/2025).

Dalam peninjauan tersebut, Kabaharkam Polri meninjau langsung kesiapan posko, ketersediaan logistik, serta mekanisme penyaluran bantuan agar dapat berjalan secara optimal, aman, dan tepat sasaran.

Selain itu, Kabaharkam Polri juga meninjau kesiapan personel K-9 Polri yang dikerahkan untuk membantu proses evakuasi korban yang diduga masih tertimbun longsor.

Pengecekan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya evaluasi berkelanjutan terhadap penanganan pencarian korban yang hingga saat ini masih belum ditemukan.

Kehadiran Kabaharkam Polri di lokasi bencana merupakan bentuk komitmen Polri dalam mendukung upaya penanggulangan bencana alam, sekaligus memberikan bantuan kemanusiaan secara maksimal kepada masyarakat yang terdampak.

Sat Binmas Polresta Deli Serdang Tegaskan Peran Strategis Jaga Kamtibmas Kondusif

MEDAN || jejakindinesia.id — Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polresta Deli Serdang Polda Sumut terus menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang aman, kondusif, dan damai.

Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Kasat Binmas Polresta Deli Serdang, Kompol Syafrizal Asrul, S.H., saat menjadi narasumber dalam Dialog Interaktif di RRI Medan, Rabu (17/12/2025).

Mengangkat tema “Peran Sat Binmas dalam Mewujudkan Situasi Kamtibmas yang Kondusif dan Damai di Wilayah Hukum Polresta Deli Serdang”, dialog ini menjadi ruang edukatif bagi masyarakat untuk memahami pendekatan humanis Polri dalam menjaga stabilitas keamanan.

Kompol Syafrizal Asrul menjelaskan bahwa pelaksanaan tugas Sat Binmas berlandaskan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, khususnya Pasal 13 yang menegaskan tiga tugas pokok Polri, yakni memelihara kamtibmas, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

“Sat Binmas memiliki peran strategis sebagai pengendali, pengarah, sekaligus penggerak partisipasi masyarakat dalam menciptakan keamanan dan ketertiban. Pendekatan kami mengedepankan pembinaan, pencegahan, dan kemitraan,” ujar Kompol Syafrizal.

Lebih lanjut dijelaskan, Sat Binmas Polresta Deli Serdang secara konsisten melaksanakan kegiatan pembinaan dan penyuluhan masyarakat, pemberdayaan Polmas, pengawasan pengamanan swakarsa, serta menjalin kerja sama dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, organisasi, lembaga, dan berbagai komponen masyarakat lainnya.

Langkah ini bertujuan meningkatkan kesadaran hukum serta ketaatan masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan.

Dalam upaya mewujudkan situasi yang kondusif, Sat Binmas juga mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak Polri di desa dan kelurahan. Menurut Kompol Syafrizal, Bhabinkamtibmas menjadi sumber utama deteksi dini berbagai potensi gangguan kamtibmas melalui penyerapan informasi, aduan, maupun kritik dari masyarakat.

“Penguatan peran Bhabinkamtibmas terus kami lakukan, salah satunya dengan mengintensifkan lima kegiatan harian, mulai dari sambang, silaturahmi, door to door system, hingga membuka akses komunikasi langsung dengan warga,” jelasnya.

Pengoptimalan tersebut juga diwujudkan melalui penerapan problem solving, yakni kemampuan Bhabinkamtibmas dalam memediasi dan menyelesaikan permasalahan warga secara cepat dan humanis. Untuk mendukung hal tersebut, Sat Binmas secara rutin menyelenggarakan pelatihan guna meningkatkan profesionalisme personel di lapangan, sehingga konflik dapat diselesaikan sejak dini dan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Selain itu, Sat Binmas Polresta Deli Serdang juga mengimplementasikan strategi Cooling System sebagai upaya preventif dan persuasif. Metode ini dilakukan melalui sambang dan penyampaian pesan kamtibmas kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat, serta kegiatan sosialisasi ke sekolah-sekolah terkait bahaya narkoba, perundungan, dan geng motor.

“Cooling system bertujuan menenangkan situasi, meredam isu-isu sensitif, serta mencegah provokasi yang berpotensi memecah persatuan masyarakat,” ungkapnya.

Menutup dialog interaktif tersebut, Kompol Syafrizal Asrul mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Deli Serdang untuk terus bersinergi dengan Polri dalam menjaga keamanan lingkungan.

“Keamanan bukan hanya tugas Polri, tetapi tanggung jawab kita bersama. Dengan kebersamaan, situasi kamtibmas yang aman, kondusif, dan damai dapat terus kita pelihara,” pungkasnya.

Polda Jabar Tetapkan ‘Resbob’ Sebagai Tersangka Kasus Ujaran Kebencian, Terancam 10 Tahun Penjara 

BANDUNG || jejakindinesia.id - Direktorat Reserse Siber Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) berhasil mengungkap kasus tindak pidana ujaran kebencian berbasis SARA di media sosial. Dalam pengungkapan ini, polisi menetapkan seorang pria berinisial MAFPN alias Resbob sebagai tersangka.

Kapolda Jabar, Irjen Pol. Rudi Setiawan, menyatakan bahwa penangkapan ini merupakan tindak lanjut cepat atas laporan polisi tertanggal 11 Desember 2025. Laporan tersebut dipicu oleh unggahan yang dinilai menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat, khususnya bagi warga Sunda dan komunitas pendukung sepak bola Viking.

"Kasus ini bermula pada 10 Desember 2025, saat ditemukan video berdurasi 59 detik yang diunggah ulang oleh akun TikTok @radarsumedang. Video tersebut bersumber dari siaran langsung tersangka di akun @resbobbb," ujar Kapolda Jabar dalam konferensi pers, Rabu (17/12/2025).

Dalam tayangan tersebut, tersangka diduga melontarkan kata-kata kasar dan penghinaan yang menargetkan kelompok Viking serta masyarakat Sunda secara umum. Tindakan ini dinilai memicu kemarahan, rasa tersinggung, serta berpotensi menimbulkan permusuhan antar-kelompok di masyarakat.

Menanggapi situasi tersebut, Ditressiber Polda Jabar melakukan serangkaian penyelidikan dan penyidikan intensif. Polisi telah memeriksa sejumlah saksi kunci, mulai dari perwakilan Aliansi Sunda Ngahiji, pengurus Viking Pusat Club, admin media sosial, rekan streaming tersangka, hingga saksi ahli bahasa dan ahli Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Dari hasil penangkapan di lokasi di Surabaya dan Bandung, penyidik menyita sejumlah barang bukti berupa satu unit laptop ASUS Vivobook 16X, iPhone 12 warna merah, kamera live streaming, serta akses ke akun media sosial tersangka (YouTube, Instagram, dan TikTok).

Atas perbuatannya, MAFPN alias Resbob dijerat dengan Pasal 28 Ayat (2) jo Pasal 45A Ayat (2) dan/atau Pasal 34 jo Pasal 50 UU Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE. Tersangka terancam hukuman pidana penjara paling lama 6 hingga 10 tahun dan/atau denda maksimal mencapai Rp10 miliar.

error: Content is protected !!