Sorry, we're closed Opens today at 9:00 am

Bulan: November 2025

Toleransi Itu Indah, Satgas Yonif 521/DY Karya Bhakti di Gereja GKI Tigris Muaranawa

JAYAPURA || jejakindonesia.id - Toleransi itu indah, TNI di Papua melalui berbagai kegiatan nyata yang bertujuan untuk memupuk kerukunan antar umat beragama dan mempererat hubungan dengan masyarakat setempat.

Prajurit TNI Satgas Yonif 521/DY secara rutin melakukan kegiatan gotong royong bersama warga untuk membersihkan gereja di berbagai wilayah di Distrik Airu, Jayapura, (23/11/2025). Kegiatan ini tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi simbol nyata kebersamaan lintas agama dan mengunjungi tokoh-tokoh agama, adat, dan masyarakat untuk bersilaturahmi dan memperkuat komunikasi sosial.

Danpos Muaranawa Letda Inf Andik prasetyo Wibowo, Kegiatan Pembersihan gereja Tigris di kampung Muaranawa ini mencakup pembersihan lingkungan, halaman gereja yang melibatkan Prajurit TNI dan masyarakat untuk membersihkan serta merawat gereja sebagai wujud kepedulian, kemanunggalan TNI-rakyat dengan semangat gotong royong.

Sementara itu Bapak Arnol, Pendeta Gereja GKI Tigris Muaranawa sekaligus Tokoh Agama kampung Muaranawa mengucapkan terimakasih setinggi-tingginya atas partisipasi Satgas Yonif 521/DY bersama warga dalam pelaksanaan karya Bakti pembersihan halaman dan areal Gereja.

" Tuhan memberkati semoga kegiatan ini semakin mempererat tali silaturahmi antara TNI dan Masyarakat,".

Komandan Satgas Yonif 521/DY Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata,S.E,M.I.P,
Melalui kegiatan-kegiatan ini, TNI menunjukkan bahwa perbedaan suku, budaya, dan agama dapat hidup berdampingan secara harmonis dan menegaskan bahwa toleransi memang indah di tengah keberagaman masyarakat Papua.

Hal ini membantu membangun rasa saling percaya dan keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk dan mempererat silaturahmi serta memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat untuk menciptakan suasana damai dan harmonis untuk Papua lebih baik.

*Macan Kumbang Berhasil (Yonif 521/DY)*

Angin Kencang Sapu Sumberejo, Polsek Purwosari Pastikan Tidak Ada Korban Jiwa

PASURUAN || jejakindonesia.id - Angin berintensitas tinggi yang disertai hujan gerimis menyebabkan atap galvalum sebuah rumah di Dusun Rejoso RT 40 RW 05, Desa Sumberrejo, Kecamatan Purwosari, tersingkap dan menimpa atap rumah di sebelahnya, Sabtu siang (22/11/2025).

Peristiwa terjadi sekitar pukul 12.55 WIB setelah wilayah Purwosari dilanda angin kencang sejak pukul 12.15 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun pemilik rumah bernama Sukarji Bintoro (57) dan istrinya Budiarti (46) mengalami kerugian material sekitar Rp1.500.000.

Kapolsek Purwosari IPTU Dr. Santy Wijaya, S.H., M.H., membenarkan kejadian tersebut dan menyebut anggotanya langsung turun ke lokasi. “Begitu menerima laporan, kami segera mengerahkan personel untuk melakukan pendataan dan memastikan kondisi warga yang terdampak,” ujarnya.

Petugas gabungan yang datang ke lokasi terdiri dari tiga personel Polsek Purwosari, satu personel Koramil Purwosari, satu anggota Satpol PP Kecamatan Purwosari, serta perangkat Desa Sumberrejo. Mereka melakukan pendataan, pengecekan bangunan, dan berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Pasuruan.

Kapolsek menambahkan bahwa rumah warga lain juga dicek untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan lanjutan. “Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD dan perangkat desa untuk memeriksa rumah-rumah yang rawan terdampak angin puting beliung,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi laporan palsu atau penggalangan dana fiktif yang memanfaatkan situasi bencana. “Kami prediksi bisa saja ada oknum yang mengaku sebagai korban demi mendapatkan bantuan. Masyarakat kami imbau tetap waspada,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Kapolsek merekomendasikan pembentukan tim tanggap bencana di setiap desa yang dapat bekerja sama dengan Tiga Pilar Kecamatan Purwosari guna mempercepat respons apabila terjadi bencana serupa.

Brimob Polda Jatim Dirikan Dapur Lapangan untuk Warga Terdampak Erupsi Gunung Semeru

LUMAJANG || jejakindonesia.id - Sebagai bentuk respon cepat terhadap dampak erupsi Gunung Semeru, Polda Jawa Timur mendirikan dapur lapangan untuk memenuhi kebutuhan logistik para pengungsi di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Dapur lapangan ini dioperasikan oleh personel Satbrimob Polda Jatim bersama Polres Lumajang.

Setiap harinya, ratusan porsi makanan siap saji disalurkan kepada warga yang mengungsi di berbagai posko pengungsian.

Petugas menyiapkan menu makanan lengkap dengan minuman dan kebutuhan konsumsi lainnya, guna memastikan para pengungsi terutama anak-anak, lansia, dan perempuan tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup selama berada di lokasi pengungsian.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, mengatakan bahwa penyediaan dapur lapangan merupakan bentuk kehadiran Polri dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana.

“Polda Jatim membuka dapur lapangan untuk memastikan kebutuhan makanan para pengungsi terpenuhi setiap hari. Ini adalah bagian dari pelayanan kemanusiaan agar warga tetap bisa memperoleh makanan layak dan sehat di tengah situasi bencana,” kata Kombes Pol J. Abast, Minggu (23/11/2025).

Ia menegaskan bahwa Polri tidak hanya fokus pada pengamanan wilayah terdampak, tetapi juga memberikan dukungan penuh terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

“Kami berkomitmen untuk terus memberikan bantuan, baik melalui dapur lapangan, distribusi logistik, maupun kebutuhan lain selama masa tanggap darurat erupsi Semeru. Polri akan selalu hadir untuk membantu masyarakat,” ujar Kombes Pol J. Abast.

Keberadaan dapur lapangan tersebut mendapat apresiasi dari para pengungsi yang merasa sangat terbantu dengan penyediaan makanan siap santap, terutama di tengah kondisi serba terbatas akibat aktivitas vulkanik Gunung Semeru.

Dengan dukungan berbagai pihak, Polda Jatim memastikan pelayanan kemanusiaan ini akan terus berjalan hingga kondisi di wilayah terdampak kembali aman. (*)

Polda Jatim Berikan Trauma Healing untuk Anak – anak di Pengungsian Dampak Erupsi Gunung Semeru

LUMAJANG || jejakindonesia.id — Polda Jawa Timur bersama Polres Lumajang menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak pengungsi terdampak erupsi Gunung Semeru di sejumlah titik pengungsian di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Minggu (23/11/2025).

Kegiatan ini dilakukan untuk membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak yang harus meninggalkan rumah akibat meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Semeru.

Seperti halnya Puluhan anak - anak pengungsi di SD Negeri 4 Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang terlihat kembali ceria setelah mengikuti kegiatan trauma healing oleh personel Polda Jatim dan Polres Lumajang.

Dalam kegiatan tersebut, personel Polda Jatim dan Polwan Polres Lumajang menghadirkan berbagai aktivitas hiburan seperti permainan edukatif, bernyanyi bersama, pembagian hadiah, hingga kegiatan menggambar.

Pendekatan ini bertujuan memberikan suasana aman, nyaman, dan ceria bagi anak-anak di tengah situasi bencana.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, mengatakan bahwa trauma healing menjadi langkah penting dalam penanganan pascabencana, terutama bagi anak-anak yang rentan mengalami tekanan psikologis.

Kombes Pol Abast menegaskan Polda Jatim bersama Polres Lumajang akan terus berupaya memberikan pendampingan psikologis kepada anak-anak melalui kegiatan trauma healing.

"Harapannya agar anak-anak dapat merasa lebih tenang, kembali ceria, dan tidak terus dibayangi rasa takut akibat erupsi Gunung Semeru,” kata Kombes Pol J.Abast.

Ia menambahkan bahwa kehadiran Polri di lokasi pengungsian merupakan bagian dari komitmen untuk memberikan pelayanan kemanusiaan dan memastikan seluruh korban, termasuk anak-anak, mendapatkan perhatian dan perlindungan.

“Kami tidak hanya fokus pada aspek pengamanan dan evakuasi, tetapi juga pemulihan mental para pengungsi," tegas Kombes Abast.

Ia menekankan, anak-anak adalah kelompok yang paling membutuhkan dukungan, sehingga kegiatan pendampingan akan terus dilakukan selama masa tanggap darurat.

Para pengungsi, khususnya para orang tua, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan oleh Polda Jatim dan Polres Lumajang.

Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan hingga kondisi kembali normal.

Kegiatan trauma healing ini merupakan bagian dari rangkaian respons cepat Polri dalam membantu masyarakat terdampak bencana, sekaligus memperkuat kehadiran negara dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi warga yang sedang mengalami situasi sulit. (*)

Tim SAR Polda Jatim Bagikan Masker ke Warga Terdampak Abu Vulkanik Semeru

SURABAYA || jejakindonesia.id – Aktivitas erupsi Gunung Semeru kembali memicu sebaran abu vulkanik di sejumlah titik jalur penghubung desa terdampak. Tim SAR Polda Jawa Timur turun langsung ke lapangan dengan membagikan masker kepada para pengendara yang melintas, Minggu (23/11/2026).

Pantauan di lokasi, abu vulkanik cukup tebal di beberapa ruas sehingga mengganggu jarak pandang dan membuat pengendara terpaksa memperlambat laju kendaraan.

Pembagian masker dilakukan di titik-titik rawan, terutama pada jalur Jembatan Gladak Perak (Piket Nol) yang menghubungkan Lumajang dan Malang

Menurut petugas, langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap bisa beraktivitas tanpa terganggu dampak abu yang dapat menyebabkan iritasi pernapasan.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast mengatakan pembagian masker merupakan respons cepat jajaran kepolisian terhadap kondisi lapangan pasca-peningkatan aktivitas Semeru.

“Personel SAR Polda Jatim kami terjunkan untuk membantu masyarakat, salah satunya dengan membagikan masker agar para pengendara tetap bisa bernafas dengan nyaman meski melintas di area terdampak abu vulkanik,” ujar Kombes Abast.

Ia menegaskan bahwa Polda Jatim terus memonitor perkembangan aktivitas vulkanik Semeru dan berkoordinasi dengan BPBD serta instansi terkait lainnya.

“Kami imbau masyarakat tetap waspada, mematuhi rambu-rambu keselamatan, dan menggunakan perlindungan diri saat beraktivitas di luar rumah, terutama yang berada di sekitar wilayah terdampak,” tambahnya.

Hingga saat ini, situasi lalu lintas di sekitar lokasi terdampak masih dapat dikendalikan, meski petugas tetap bersiaga untuk mengantisipasi potensi peningkatan abu vulkanik maupun perubahan kondisi cuaca.

error: Content is protected !!