SORONG || Jejak-indonesia.id – Suasana Cafe Selagi Dingin, Kota Sorong, mendadak riuh oleh tawa ratusan generasi muda pada Minggu (5/7/2026) malam. Bukan sekadar hiburan biasa, gelaran lomba Stand-up Comedy bertajuk “Tawa Dalam Toleransi” ini menjadi panggung kolaborasi kreatif dalam mengampanyekan perdamaian serta menolak radikalisme.
Acara yang dimulai pukul 20.00 WIT ini diinisiasi oleh Tim Pencegahan Satgaswil Papua Barat Densus 88 Anti Teror bersama komunitas Standup Indo Sorong. Gelaran ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Bhayangkara ke-80. Melalui pendekatan kreatif, kepolisian menggandeng komunitas lokal untuk menyuarakan moderasi beragama dengan cara yang relevan bagi Milenial dan Gen Z.
Kasatgaswil Papua Barat, Kombes Pol. Gede Suardana, S.Pd., M.M., menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai media edukasi publik. “Melalui tema ‘Tawa Dalam Toleransi’, kami berharap kegiatan ini mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjaga persatuan, menghargai perbedaan, serta menolak paham intoleransi dan radikalisme,” ujarnya saat membuka acara.
Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada komunitas Standup Indo Sorong dan seluruh pihak yang menyukseskan acara ini.
Melalui tema “Tawa Dalam Toleransi”, kami berharap kegiatan ini dapat menjadi media edukasi yang mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjaga persatuan, menghargai perbedaan, serta menolak paham intoleransi dan radikalisme.
Komitmen toleransi dalam acara ini terlihat dari hadirnya jajaran Polda Papua Barat Daya, pejabat daerah dan perwakilan tokoh dari lima agama, Di antaranya Kepala Dinas P3A Provinsi PBD Dr. Anace Nauw, S.H., M.H., Dir Binmas Polda PBD Kombes Pol Muhammad Efran, S.I.K., M.H., Kepala Komdigi Loka Monitor Spektrum Frekuensi Manokwari Dominggu Ludgi, Kepala Imigrasi Kelas II TPI Sorong Orall Robert Saturnus Wanggai, Ketua NU Kota Sorong H. Mulyono, M.Ag., serta Ketua LBH RHI PBD Agustinus Biay, CPLA, serta perwakilan para tokoh agama.
Sebanyak 14 komika lokal tampil habis-habisan di atas panggung dengan durasi masing-masing 5 menit. Panitia menerapkan aturan ketat: materi wajib sesuai tema toleransi dan dilarang keras mengandung unsur SARA, ujaran kebencian, pornografi, maupun provokasi.
Penilaian yang dilakukan oleh empat dewan juri Kombes Pol. Gede Suardana, Agustinus Biay, Ismael Latief, dan Bang Andre berlangsung kompetitif hingga melahirkan empat pemenang utama diantaranya, Juara pertama Ade Wanane, Juara kedua Irfan Cahyadi, Juara ketiga Mustakim dan Juara Favorit jatuh kepada Alwan Fajar Ibrahim.
Sebelum pengumuman juara, Ketua LBH RHI Papua Barat Daya, Agustinus Biay, memberikan motivasi singkat mengenai pentingnya moderasi beragama. “Mari menjadi generasi yang bijak, menjunjung toleransi, serta menolak segala bentuk intoleransi dan perpecahan. Karena dengan toleransi, persatuan akan tetap terjaga dan Indonesia akan semakin kuat,” serunya.
Acara ditutup pada pukul 23.00 WIT dengan sesi penyerahan uang pembinaan, piagam penghargaan, serta foto bersama seluruh juri, tamu undangan, dan peserta.
