PIODALAN GRIYA KONGCO DWIPAYANA 2026: Harmoni Keberagaman dan Spiritualitas yang Terus Terjaga di Denpasar

DENPASAR || Jejak-indonesia.id – Piodalan di Griya Kongco Dwipayana atau Ling Sii Miao yang berlangsung pada Senin Pon, 15 Juni 2026, menjadi momentum penting dalam memperkuat nilai-nilai toleransi, spiritualitas, dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Bali. Ribuan umat dan masyarakat dari berbagai latar belakang agama, suku, dan budaya memadati kawasan suci yang berada di Tanah Kilap, Denpasar, untuk mengikuti rangkaian persembahyangan dan kegiatan keagamaan dengan penuh khidmat.

Kegiatan piodalan tidak hanya menjadi perayaan spiritual bagi umat yang bersembahyang, tetapi juga menjadi simbol nyata kehidupan masyarakat Bali yang mampu merawat kerukunan dalam keberagaman. Suasana penuh kekeluargaan tampak begitu kuat ketika masyarakat dari berbagai keyakinan hadir bersama, saling menghormati, serta menjaga kesucian tempat ibadah yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan budaya Pulau Dewata.

Menurut Ketua Griya Kongco Dwipayana, Ida Bagus Adnyana atau yang akrab disapa Atu, keberadaan tempat suci tersebut memiliki nilai sejarah yang panjang. Hal itu ditandai dengan ditemukannya prasasti batu kuno bertuliskan nama Dewa Ong Tay Jen yang merujuk pada masa Dinasti Qing. Temuan tersebut diyakini menjadi salah satu bukti keberadaan hubungan budaya dan spiritual yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Sejak awal 1990-an, pembangunan Griya Kongco Dwipayana mulai dilakukan dan terus berkembang hingga akhirnya diresmikan pada 9 September 1999. Keunikan tempat ibadah ini terletak pada harmonisasi budaya Tionghoa dan Bali yang menyatu dalam satu kawasan spiritual. Selain altar pemujaan Kongco, di dalam kompleks juga terdapat pelinggih dan simbol-simbol spiritual Bali yang mencerminkan kuatnya warisan nilai Siwa-Buddha dalam budaya Nusantara.

Salah satu daya tarik spiritual di kawasan ini adalah keberadaan tempat pemujaan Tujuh Bidadari yang dipercaya membawa cinta kasih, kesejahteraan, dan peningkatan spiritual bagi umat yang datang dengan niat tulus. Kepercayaan tersebut menjadikan Griya Kongco Dwipayana sebagai ruang refleksi untuk memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

Piodalan tahun ini juga menunjukkan tingginya semangat toleransi antarumat beragama. Umat Hindu, Buddha, Konghucu, serta masyarakat umum tampak hadir dan berbaur dalam suasana yang damai. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk membangun persaudaraan dan kebersamaan.

Selain berfungsi sebagai pusat spiritual, Griya Kongco Dwipayana juga berperan aktif dalam pelestarian budaya. Melalui Sanggar Mutiara Naga yang berdiri sejak 1999, berbagai generasi muda dibina untuk mempelajari dan melestarikan seni Barongsai sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Lokasinya yang berdekatan dengan Pura Candi Narmada dan kawasan Tahura Ngurah Rai semakin memperkuat posisi Griya Kongco Dwipayana sebagai simbol persatuan budaya, spiritualitas, dan pelestarian lingkungan. Nilai-nilai toleransi yang hidup di kawasan ini bahkan pernah mendapat perhatian dan apresiasi dari berbagai delegasi internasional saat pelaksanaan KTT G20 Bali 2022.

Piodalan Senin Pon tahun 2026 menjadi pengingat bahwa warisan leluhur bukan hanya berupa bangunan fisik, melainkan nilai-nilai luhur tentang persaudaraan, penghormatan terhadap perbedaan, serta semangat menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Berbeda keyakinan bukan alasan untuk terpisah. Di Griya Kongco Dwipayana, keberagaman hadir sebagai kekuatan yang menyatukan dalam semangat persaudaraan, budaya, dan spiritualitas.” Pesan tersebut kembali menggema dari Tanah Kilap, Denpasar, sebagai cerminan Indonesia yang damai, toleran, dan berkeadaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *