OPINI REDAKSI : Ibu Pertiwiku Sedang Sakit, Obat Apa untuk Menyembuhkanmu?

JEJAK-INDONESIA.ID || Di tengah gemerlap pembangunan dan riuhnya pidato-pidato kekuasaan, ada satu pertanyaan yang seharusnya menggugah nurani bangsa: benarkah Ibu Pertiwi sedang baik-baik saja?

Hari ini, kita menyaksikan politik yang semakin jauh dari makna pengabdian.

Politik yang seharusnya menjadi jalan memperjuangkan kepentingan rakyat, justru sering terjebak dalam intrik, transaksi kepentingan, dan perebutan pengaruh. Kebenaran kerap dikalahkan oleh kekuatan modal, sementara suara rakyat hanya menjadi komoditas yang dicari saat musim pemilu tiba.

Di sisi lain, kesenjangan sosial semakin menganga. Sebagian kecil menikmati kemewahan dan fasilitas berlimpah, sementara di sudut-sudut negeri masih banyak rakyat yang berjuang sekadar untuk hidup layak. Ketika kemakmuran hanya berputar di lingkaran tertentu, keadilan sosial yang menjadi cita-cita bangsa perlahan kehilangan maknanya.

Tak berhenti di situ, budaya yang seharusnya menjadi identitas bangsa mulai diperdagangkan dan dimanipulasi. Nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu digeser oleh budaya instan yang lebih mengutamakan sensasi daripada substansi. Tradisi dipoles demi keuntungan, sementara jati diri bangsa perlahan memudar di tengah arus kepentingan.

Yang lebih mengkhawatirkan, muncul berbagai upaya pengaburan sejarah. Fakta-fakta dipelintir, tokoh-tokoh dilupakan, dan generasi muda mulai dijauhkan dari akar perjuangan bangsanya sendiri. Padahal bangsa yang kehilangan sejarahnya adalah bangsa yang kehilangan arah masa depannya.

Maka wajar jika kita bertanya:
“Oh Ibu Pertiwiku, obat apa yang mampu menyembuhkanmu?”
Obatnya bukan kekuasaan yang lebih besar. Bukan pula pembangunan yang hanya mengejar angka statistik.

Obat bagi Ibu Pertiwi adalah kejujuran yang kembali ditegakkan, keadilan yang benar-benar dirasakan seluruh rakyat, pendidikan yang mencerdaskan akal sekaligus membangun karakter, budaya yang dijaga kemurniannya, serta keberanian untuk menjaga sejarah dari segala bentuk manipulasi.

Ibu Pertiwi tidak sedang kekurangan sumber daya. Ia tidak kekurangan orang pintar. Ia bahkan tidak kekurangan kekayaan alam.

Yang sedang langka adalah keteladanan, integritas, dan keberanian untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Selama politik masih menjadi arena intrik, kesenjangan terus dipelihara, budaya diperalat, dan sejarah dikaburkan, maka penyakit itu akan terus menggerogoti tubuh bangsa.

Namun selama masih ada rakyat yang peduli, masih ada suara yang berani mengingatkan, dan masih ada generasi yang mencintai negeri ini dengan tulus, harapan untuk sembuh tidak akan pernah hilang.

Sebab sesungguhnya, obat bagi Ibu Pertiwi bukan berada di istana, bukan pula di gedung-gedung megah kekuasaan. Obat itu ada di hati setiap anak bangsa yang masih memiliki kejujuran, kepedulian, dan rasa cinta kepada tanah airnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *