KERUKUNAN DALAM TAHLIL ANTAR WARGA DUSUN KRASAK AJUNG PANCAKARYA: MEMPERKUAT UKHUWAH DAN NILAI KEISLAMAN DI TENGAH MASYARAKAT

JEMBER || Jejak-indonesia.id – Jum’at (12/6), Tradisi tahlil yang dilaksanakan oleh warga di Dusun Krasak, Ajung, Pancakarya, kembali menjadi cerminan kuatnya nilai kerukunan sosial dan spiritual di tengah masyarakat. Kegiatan keagamaan ini tidak hanya dipahami sebagai ritual doa bersama, tetapi juga sebagai sarana mempererat ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, serta memperkokoh solidaritas antarwarga.

Pelaksanaan tahlil yang digelar secara bergiliran dari rumah ke rumah tersebut dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial. Para tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, hingga warga lanjut usia turut hadir dalam suasana penuh kekhidmatan. Doa-doa dipanjatkan untuk para leluhur, keluarga yang telah wafat, serta keselamatan seluruh warga desa.

Perspektif Hukum Islam: Doa untuk Mayit dan Silaturahmi

Dalam perspektif hukum Islam (fiqh), tradisi tahlil yang berisi pembacaan doa, dzikir, dan pengiriman pahala kepada orang yang telah meninggal dunia merupakan amalan yang memiliki dasar dalam prinsip umum syariat, yaitu mendoakan sesama Muslim, termasuk yang telah wafat.

Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa doa untuk mayit merupakan amalan yang dianjurkan, sebagaimana prinsip dalam Al-Qur’an:

> “Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa: Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…” (QS. Al-Hasyr: 10)

Ayat ini menjadi landasan bahwa mendoakan orang yang telah meninggal adalah bagian dari ajaran Islam yang menekankan kasih sayang lintas generasi.

Selain itu, nilai silaturahmi yang melekat dalam kegiatan tahlil juga sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa mempererat hubungan persaudaraan dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.

Tahlil sebagai Perekat Sosial

Di Dusun Krasak, kegiatan tahlil tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang sosial yang memperkuat hubungan antarwarga. Dalam praktiknya, kegiatan ini menjadi sarana saling bertukar kabar, memperkuat gotong royong, serta menjaga harmoni sosial di tengah perubahan zaman.

Tokoh masyarakat setempat menilai bahwa tradisi ini mampu menjadi benteng moral bagi generasi muda agar tetap dekat dengan nilai-nilai agama dan budaya lokal yang selaras dengan syariat Islam.

Menjaga Tradisi, Menjaga Ukhuwah

Dengan tetap terpeliharanya tradisi tahlil di Dusun Krasak Ajung Pancakarya, masyarakat menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat berjalan harmonis dengan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip syariat.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa agama tidak hanya hadir dalam ruang ibadah formal, tetapi juga hidup dalam kebersamaan, kepedulian, dan persaudaraan antarwarga.

Tradisi tahlil pun terus menjadi simbol kerukunan yang mengakar kuat, sekaligus penguat identitas sosial dan religius masyarakat di tingkat desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *