SURABAYA || Jejak-indonesia.id – Kementerian Pertanian Republik Indonesia mempertegas langkah strategis dalam mendorong hilirisasi dan pemasaran hasil perkebunan sebagai tulang punggung ekspor nasional. Komitmen ini mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) Akselerasi Hilirisasi Komoditas Ekspor Jawa Timur yang berlangsung di PT Jamkrida Jatim, Rabu (15/4), dengan menghadirkan pemangku kepentingan lintas sektor.
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementan RI, Kuntoro Boga Andri, menegaskan bahwa transformasi sektor perkebunan tidak lagi berhenti pada produksi primer. Pemerintah kini mengarahkan kebijakan pada penguatan nilai tambah melalui hilirisasi terintegrasi, sekaligus merapikan rantai pasok agar lebih efisien dan kompetitif di pasar global.
“Fokus kita bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi memastikan produk perkebunan Indonesia mampu menembus pasar ekspor dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan sistem distribusi yang lebih kuat,” ujarnya.
Senada dengan itu, perwakilan Ditjen Perkebunan, Elvy Risma Nainggolan, menyoroti urgensi ekspansi pasar internasional. Ia menekankan pentingnya membangun konektivitas yang lebih solid dengan buyer global, sekaligus memperluas akses pasar melalui strategi pemasaran yang adaptif terhadap dinamika perdagangan dunia.
Dalam konteks tantangan global, Kementan juga membuka ruang koordinasi lintas kementerian guna mengurai hambatan logistik yang kian kompleks, termasuk lonjakan biaya distribusi akibat tekanan geopolitik. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga daya saing ekspor komoditas unggulan Indonesia di tengah ketidakpastian global.
FGD tersebut turut menampilkan kesiapan sektor swasta sebagai motor penggerak hilirisasi. PT Aisyah Cahaya Nusantara mengungkap kebutuhan pasar ekspor yang signifikan, mencapai 9.000 ton cabe jawa per tahun.
Kebutuhan ini direspons oleh Perhutani KPH Jombang yang menyiapkan lahan seluas 40 hektare di Desa Marmoyo, Kabuh, sebagai basis produksi terintegrasi.
Dukungan ekosistem juga diperkuat oleh sektor keuangan dan mitigasi risiko. Bank Jatim menghadirkan skema pembiayaan melalui kredit tani, sementara Zurich Insurance menawarkan perlindungan berbasis risiko iklim dan cuaca. Di sisi lain, Ormas Formasy Praja Nusantara (FPN) mengambil peran dalam pemberdayaan masyarakat, memastikan hilirisasi berjalan inklusif hingga ke tingkat akar rumput.
Forum ini ditutup dengan penandatanganan sejumlah kesepakatan strategis melalui dokumen PKS dan MoA. Kesepakatan tersebut menjadi fondasi kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat ekspor komoditas unggulan, sekaligus menegaskan posisi Jawa Timur sebagai model pengembangan ekosistem hilirisasi dan ekspor berkelanjutan di tingkat nasional.