SITUBONDO || Jejak-indonesia.id – Harapan masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang bersih dan nyaman kembali menjadi perhatian. Dugaan persoalan debu yang dikenal dengan sebutan TOLATO kembali mencuat setelah beredarnya video amatir di media sosial yang memperlihatkan keluhan warga terkait debu yang diduga berasal dari aktivitas operasional Pabrik Gula (PG) Asembagus saat musim giling. Peristiwa tersebut tunggu terjadi di Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Jumat (24/7/2026).
Bagi masyarakat sekitar, persoalan tersebut bukan hanya tentang debu, tetapi menyangkut kenyamanan, kesehatan, dan rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Warga berharap program revitalisasi yang telah dilakukan PG Asembagus benar-benar mampu menghadirkan perubahan nyata, sehingga keluhan yang sama tidak terus berulang setiap musim giling.
Menanggapi keresahan masyarakat, Ketua LSM Penjara Kabupaten Situbondo, Dafid Hariyono bersama Abd. Ghafur sebagai Wakil Ketua LSM Penjara serta jajaran pengurus dan anggotanya, mengungkapkan pihaknya telah menerima banyak laporan warga terkait dugaan TOLATO. Dafid yang tinggal tidak jauh dari kawasan PG Asembagus mengaku memahami keresahan masyarakat karena berada cukup dekat dengan area operasional pabrik.
Menurut Dafid, LSM Penjara bersama jajarannya telah beberapa kali menyampaikan keberatan kepada manajemen PG Asembagus serta meminta adanya langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namun, menurutnya, keluhan masyarakat masih terus muncul sehingga diperlukan perhatian serius dan penyelesaian yang nyata.
“Kami bersama jajaran LSM Penjara memohon kepada pihak terkait agar persoalan ini benar-benar menjadi perhatian. Masyarakat sudah lama berharap ada solusi, bukan hanya mendengar keluhan yang terus berulang setiap musim giling. Mereka ingin hidup nyaman, menghirup udara yang bersih, dan merasa aman di lingkungan tempat tinggalnya,” tegas Dafid Hariyono.
Ia menambahkan, LSM Penjara bersama jajarannya akan menempuh langkah resmi dengan melaporkan persoalan tersebut kepada instansi yang berwenang agar dilakukan pemeriksaan serta evaluasi secara menyeluruh.
Selain itu, LSM Penjara mendesak pemerintah daerah dan instansi yang membidangi lingkungan hidup segera turun ke lapangan melakukan pemeriksaan secara independen. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan sumber keluhan warga sekaligus mengevaluasi efektivitas sistem pengendalian polusi yang telah diterapkan.
Dafid menegaskan, apabila hasil evaluasi nantinya menunjukkan masih adanya kekurangan dalam pengelolaan lingkungan, maka harus ada perbaikan nyata dan tanggung jawab dari pihak yang berkaitan.
“Kami tidak ingin persoalan ini menjadi beban masyarakat yang terus dirasakan dari tahun ke tahun. Harapan kami sederhana, perusahaan tetap berjalan, tetapi masyarakat juga mendapatkan haknya untuk hidup di lingkungan yang sehat dan nyaman,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PG Asembagus belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pencemaran maupun tuntutan yang disampaikan LSM Penjara. Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi sebagai bagian dari pemberitaan yang berimbang.
Menutup keterangannya, Ketua LSM Penjara, Dafid Hariyono bersama jajaran, berharap seluruh pihak dapat duduk bersama mencari solusi terbaik agar persoalan TOLATO segera mendapatkan penyelesaian.
“Masyarakat hanya ingin didengar dan mendapatkan kepastian. Jangan sampai setiap musim giling tiba, warga kembali merasa khawatir. Kami bersama jajaran LSM Penjara akan terus mengawal persoalan ini sampai ada langkah nyata yang benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat,” pungkas Dafid Hariyono. (Wan)
