Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Daerah

IMG-20250803-WA0019

Setahun MoU BNNK, Banyuwangi Masih Gagal Laksanakan Tes Urine Siswa

Banyuwangi, Jejak-indonesia.id |  Genap satu tahun sudah sejak Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) bersama Kepala BNN RI, Marthinus Hukom, pada 2 Agustus 2024 lalu. MoU tersebut membuka jalan lahirnya Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Banyuwangi sebagai simbol komitmen daerah melawan narkoba.

Namun, di balik seremonial dan kemasan semangat "Banyuwangi Bersinar" alias Bersih dari Narkoba, ada satu ironi yang masih tersimpan rapi: hingga Agustus 2025 ini, screening tes urine bagi siswa SD yang masuk SMP tak kunjung dilaksanakan, meskipun Peraturan Bupati (Perbup) No. 15 Tahun 2021 telah lama disahkan, dan anggaran dari APBD pun dikabarkan sudah disiapkan.

Ketua Yayasan Anti Narkotika Lapor Pulih Sehat Sejahtera (YAN LPSS) Banyuwangi, Hakim Said, S.H., secara halus namun tajam mengkritisi kondisi ini.

"Tepat setahun lalu, Bunda Ipuk menandatangani MoU dan NPHD dengan BNN RI. Kita patut apresiasi langkah itu karena akhirnya Banyuwangi punya BNNK. Tapi ironis juga, program screening urine siswa yang jelas-jelas sudah diatur dalam Perbup dan dananya ada, belum dijalankan sampai sekarang," ujar Hakim Said, Minggu (3/8/2025).

Menurut pria alumni Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) Angkatan ke-2 tahun 2006 di Unej ini, langkah pencegahan narkoba seharusnya tidak berhenti pada pendirian lembaga dan baliho kampanye saja. Screening urine bagi siswa baru SMP adalah bentuk nyata edukasi dan deteksi dini yang sangat dibutuhkan, apalagi di tengah gempuran narkotika yang makin menyasar usia sekolah.

"Kalau komitmen Pemkab itu serius, seharusnya Perbup tentang screening urine itu sudah dilaksanakan sejak 4 tahun lalu begitu Perbup No 15 Tahun 2021 disahkan. Bukan terus-menerus jadi jargon yang tidak pernah dieksekusi," suluknya.

YAN LPSS mendesak agar Pemkab Banyuwangi tidak hanya menjadikan keberadaan BNNK sebagai alat pencitraan belaka. Di saat angka kasus narkoba terus meningkat, Pemda semestinya hadir lewat kebijakan yang benar-benar menyentuh akar masalah: pencegahan sejak dini, mulai dari sekolah.

"Kalau mau Banyuwangi benar-benar bersinar, jangan hanya terang di panggung seremonial, tapi gelap di ruang kelas. Kita bicara generasi masa depan. Ini bukan soal politik, ini soal nyawa dan masa depan anak-anak kita," tutup Hakim Said.

Dengan BNNK yang kini sudah berdiri secara resmi, masyarakat menanti realisasi nyata program-program P4GN di tingkat sekolah. Bukan lagi janji, bukan lagi rencana, melainkan tindakan konkret yang bisa diukur dampaknya. (red)

IMG-20250802-WA0014

RKBK Ingatkan SKPD: Jika Diam, Itu Bisa Jadi Pidana Administratif

Banyuwangi, Jejak-indonesia.id | Komisi II DPRD Banyuwangi menegaskan bahwa Banyuwangi Creative Market (BCM) di kawasan Car Free Day (CFD) Taman Blambangan tidak akan direlokasi. Hal ini disampaikan dalam forum Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Jumat, 1 Agustus 2025, bersama pengurus BCM CFD dan Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK) Banyuwangi.

Ketua Komisi II DPRD Banyuwangi, Emy Wahyuni, S.Pd., M.M., memimpin langsung jalannya RDP yang dihadiri para anggota komisi, perwakilan BCM, serta tim pendamping dari RKBK. Dalam kesimpulan rapat, Emy menegaskan bahwa belum ada regulasi kuat yang bisa menjadi dasar hukum relokasi aktivitas BCM dari kawasan Taman Blambangan.

“Kami tidak melihat adanya peraturan yang mengharuskan relokasi. Maka, BCM tetap bertahan. Justru kami mendorong agar penataan dilakukan lebih baik dan sinergi dengan OPD ditingkatkan,” ujar Emy.

Ketua BCM CFD Taman Blambangan, Rachmad Hidayat, dalam forum menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan penataan ulang keanggotaan dan distribusi lapak. BCM juga memastikan bahwa lapak-lapak kosong akan diisi oleh pelaku UMKM dari daftar tunggu resmi.

“Kami siap membenahi diri. BCM bukan sekadar tempat jualan, tapi gerakan ekonomi kreatif rakyat. Kami berkomitmen menjaga ketertiban, estetika, dan tata ruang publik Taman Blambangan,” ujar Rachmad.

Ketua RKBK, Hakim Said, S.H., yang hadir sebagai pendamping komunitas BCM, menegaskan bahwa keberadaan BCM merupakan wujud partisipasi warga dalam menghidupkan ruang publik. Ia mengingatkan agar SKPD tidak pasif dalam merespons inisiatif rakyat.

“Jangan biarkan masyarakat jalan sendiri. Jika SKPD tidak menjalankan tugas sesuai Perda dan Perbup, itu bukan sekadar kelalaian administratif, tapi bisa mengarah pada pelanggaran hukum,” tegas Hakim.

RKBK juga menyampaikan sejumlah rekomendasi tindak lanjut melalui Bidang Kemitraan Kelembagaan melaku ketua bidang dsn wakilnya, Junjung Subowo dan Risky Kurniawan, SH. Diantaranya:

- Diskop UM & Perdagangan diminta aktif membina UMKM BCM dalam hal teknis dan promosi.
- Asisten Perekonomian dan Pembangunan didorong untuk memfasilitasi lintas OPD demi kemajuan ekonomi rakyat.
- Satpol PP dan DLH disarankan dilibatkan secara persuasif dalam menjaga ketertiban dan estetika kawasan CFD.

RDP ini menjadi penanda penting bahwa komunitas ekonomi rakyat seperti BCM CFD tidak berdiri sendiri. Dukungan DPRD dan pendampingan dari lembaga rakyat sipil seperti RKBK menjadi jaminan bahwa aktivitas komunitas bisa terus berlangsung secara legal, tertib, dan berdampak nyata.

Puluhan pelaku UMKM yang hadir dalam forum RDP menyambut baik keputusan ini dan menyatakan siap berbenah serta berkolaborasi menjaga ruang publik Taman Blambangan. (red)

IMG-20250802-WA0173_copy_640x427

Banyuwangi Jadi Laboratorium City Branding Puluhan Daerah Ikut Belajar

Banyuwangi, Jejak-indonesia.id | Keberhasilan Banyuwangi membangun city branding dilirik banyak daerah untuk belajar. Mereka mengikuti Executive Education Program (EEP) yang dihelat oleh City Branding Institute, Jumat-Sabtu (1-2/8/2025).

“Banyuwangi bisa jadi laboratorium yang bagus bagi daerah yang ingin membangun City Branding dari nol,” Yuswohadi, salah satu penggagas City Branding Institute.

Menurut Yuswohadi, city branding adalah strategi menyeluruh untuk membangun citra dan identitas unik sebuah kota agar dikenal, diminati, dan dipercaya oleh dunia.

Menurutnya, Banyuwangi adalah contoh daerah yang berhasil melakukan hal tersebut, sehingga sukses bertransformasi dari kota santet, menjadi daerah yang dikenal luas karena pariwisatanya.

“Banyuwangi sukses bertransformasi. Dari tidak punya (destinasi dan atraksi), kemudian diciptakan hingga menjadi sesuatu yang luar biasa. Ini bisa menjadi role model untuk city branding di Indonesia,” kata pakar branding dan marketing tersebut.

Program EEP City Branding ini menghadirkan tokoh-tokoh berpengalaman sebagai mentornya. Seperti Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI 2014–2019, Abdullah Azwar Anas, Menpan RB 2022-2024, serta Sigit Pramono, Founder Jazz Gunung.

Pada angkatan pertama, EEP City Branding diikuti oleh 30 peserta. Mereka adalah para pengambil kebijakan dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Kabupaten Lampung Selatan, Penajem Utara, Samarinda, dan Kota Serang.

Selama dua hari, peserta tersebut mengikuti pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), memanfaatkan template strategi praktis, dan melakukan kunjungan ke destinasi unggulan Banyuwangi untuk mempelajari penerapan nyata city branding. Salah satunya, ke pendopo dan bertemu Bupati Banyuwangi, Ipuk Firstiandani, Jumat malam (2/8/2025).

Arief Yahya, Menteri Pariwisata Periode 2014-2019, menambahkan city branding menjadi alat strategis untuk memposisikan daerah di tengah persaingan global.

“Peningkatan reputasi daerah sebesar 10% mampu mendorong kunjungan wisata hingga 11% dan investasi hingga 2%. Itulah kekuatan city branding,” kata Arief Yahya.

City branding tidak hanya soal promosi wisata, tetapi strategi jangka panjang untuk mengangkat daya saing daerah. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Abdullah Azwar Anas yang dalam sepuluh tahun memimpin Banyuwangi (2010-2020) berhasil menyulapnya dari kota mistik menjadi majestic.

“City branding bukan hanya soal promosi, ini soal menyelaraskan seluruh elemen kota, mulai dari alam, budaya, hingga layanan publik, sehingga memberikan pengalaman menyeluruh bagi warga dan pengunjung,” tegas penulis buku Anti Mainstream Marketing tersebut.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani sangat mengapresiasi program tersebut. Ipuk juga berterima kasih Banyuwangi dipilih sebagai tuan rumah sekaligus obyek pembelajaran kegiatan ini.

“Praktik baik dari kami, silakan diambil. Semoga bermanfaat bagi daerah Bapak/Ibu. Namun kami pun masih jauh dari sempurna, dan masih terus berbenah ke depannya,” kata Ipuk.

Diketahui, city branding Institute adalah sebuah wadah yang digagas oleh pakar pemasaran, Yuswohadi, untuk mengembangkan ekosistem city branding di Indonesia.

Lebih dari sekadar promosi wisata, city branding menggabungkan potensi lokal, nilai budaya, kualitas layanan publik, dan inovasi daerah menjadi narasi yang menarik bagi wisatawan, investor, pelaku usaha, dan talenta. (red)

IMG-20250802-WA0061

Mainan Bambu ‘Ethek-Ethek’ Jadi Sorotan Dunia di TdBI 2025, Banyuwangi Revitalisasi Budaya Lewat Sport Tourism

Banyuwangi – Jejak-Indonesia.id |  Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025 tak hanya menghadirkan adu cepat di lintasan balap, tetapi juga menjadi panggung megah bagi kebangkitan budaya lokal. Dalam kemasan sport tourism yang semakin mendunia, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memanfaatkan ajang ini untuk menegaskan identitas budaya yang kian tergerus modernitas.

Salah satu momen paling mencuri perhatian publik, terutama di kalangan tamu mancanegara dan media internasional, adalah tampilnya mainan bambu tradisional Ethek-ethek dalam prosesi penyambutan pembalap di garis finis. Mainan sederhana yang dulunya menemani masa kecil anak-anak desa ini kini muncul dalam format yang lebih artistik—dirangkai dan dimainkan oleh para pelajar serta seniman muda dalam formasi koreografi budaya yang memukau.

Bagi Banyuwangi, Ethek-ethek bukan sekadar benda nostalgia. Ia adalah simbol kearifan lokal, produk kreativitas anak negeri yang lahir dari alam dan imajinasi. Dalam konteks TdBI 2025, mainan ini hadir sebagai narasi tandingan atas gempuran teknologi digital yang membentuk gaya hidup anak-anak masa kini. Di tengah dominasi gawai, kemunculan Ethek-ethek menjadi ajakan kembali ke akar, menyentuh memori kolektif masyarakat sekaligus membuka cakrawala baru tentang nilai-nilai edukatif dari permainan tradisional.

Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi, Taufik Rohman, menegaskan bahwa kehadiran elemen budaya dalam TdBI bukan pelengkap, melainkan ruh dari keseluruhan event.

“Kami ingin TdBI tidak hanya dikenang karena kejuaraan, tetapi juga karena kemampuannya mempertemukan dunia dengan akar-akar budaya lokal. Ethek-ethek adalah simbol resistensi kita terhadap homogenisasi budaya global,” ujar Taufik, Jum'at (1/8/2025).

Lebih dari sekadar mainan bambu, seluruh atmosfer TdBI tahun ini disulap menjadi perayaan identitas Banyuwangi. Masyarakat lokal dilibatkan secara aktif: menampilkan tari-tarian daerah, menyajikan kuliner tradisional, menggelar pameran kerajinan tangan, hingga memperkenalkan batik Gajah Oling yang menjadi ikon visual Banyuwangi. Kolaborasi lintas komunitas ini menjadikan TdBI sebagai episentrum budaya yang tak hanya dinikmati penonton, tetapi juga menghidupi ekonomi kreatif rakyat.

Langkah ini membuktikan bahwa sport tourism bukan sekadar perhelatan fisik, melainkan media strategis untuk revitalisasi budaya dan penguatan jati diri daerah. Banyuwangi menunjukkan bahwa balap sepeda bisa lebih dari kompetisi—ia bisa menjadi gerakan sosial dan kebudayaan.

Tour de Banyuwangi Ijen 2025 adalah bukti nyata bagaimana olahraga, budaya, dan ekonomi bisa bertemu dalam satu ruang publik yang inklusif dan transformatif. Bukan hanya kecepatan yang ditawarkan, tapi juga kehangatan, kearifan, dan keberanian untuk melawan arus globalisasi dengan cara yang elegan. (rag)

error: Content is protected !!