Closing soon Closes at 5:00 pm

Redaksi

Peringatan Hari Pahlawan, Luka Sejarah Jangan Dihapus

Jejakindonesia.id - Hari Pahlawan 10 November adalah pengingat kuat bahwa kemerdekaan dan kehidupan bernegara yang kita nikmati hari ini lahir dari keberanian, keteguhan, dan pengorbanan para pahlawan bangsa. Semangat perjuangan 10 November 1945 di Surabaya menjadi simbol bahwa kemerdekaan tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan dari keyakinan bahwa bangsa ini layak diperjuangkan oleh generasinya.

Belakangan ini, wacana mengenai rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto kembali mencuat ke ruang publik. Isu tersebut berkembang setelah adanya sejumlah pihak yang mengusulkan agar Presiden ke-2 Republik Indonesia itu diakui sebagai pahlawan atas jasanya dalam menjaga stabilitas nasional dan mendorong pembangunan ekonomi. Gagasan tersebut memunculkan beragam tanggapan, termasuk dari kalangan mahasiswa.

Dalam berbagai forum diskusi dan kajian kebangsaan, kepahlawanan tidak hanya diukur dari kemampuan seorang pemimpin dalam membangun infrastruktur atau menggerakkan ekonomi, tetapi juga dari komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Dalam konteks sejarah Indonesia, masa pemerintahan Soeharto masih meninggalkan catatan kelam berupa pembatasan kebebasan politik, pelanggaran HAM, serta praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang menjadi salah satu pemicu lahirnya gerakan reformasi 1998. Menempatkan sosok tersebut sebagai pahlawan berpotensi mengaburkan nilai perjuangan bangsa dan mengingkari semangat Reformasi 1998 yang lahir dari pengorbanan rakyat Indonesia.

“Pahlawan sejati bukanlah mereka yang hanya meninggalkan monumen dan catatan kekuasaan, melainkan mereka yang meninggalkan warisan nilai kemanusiaan. Kepahlawanan sejati adalah keberanian untuk berpihak kepada rakyat, bukan yang justru menyisakan luka sejarah bagi bangsanya,” ujar Indri Harya, Sekretaris KMHDI Cabang Surabaya.

Momentum Hari Pahlawan harus dijadikan pengingat bersama bahwa makna kepahlawanan bersumber dari nilai pengabdian dan kejujuran terhadap kebenaran sejarah. Gelar tersebut tidak boleh diberikan atas dasar romantisasi masa lalu atau kepentingan politik, melainkan melalui pertimbangan objektif dan moral yang tinggi sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Peringati Hari Pahlawan 2025, Kemendagri Dorong ASN Meneladan Semangat Nasionalisme para Pahlawan

JAKARTA || jejakindonesia.id – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menggelar upacara Peringatan Hari Pahlawan 2025. Dalam kesempatan itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Pemerintahan Desa (Pemdes) La Ode Ahmad Pidana Bolombo bertindak sebagai inspektur upacara (Irup) dan membacakan amanat dari Menteri Sosial Saifullah Yusuf.

Melalui amanat tersebut, La Ode mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk meneladan semangat nasionalisme para pahlawan. Para pahlawan bukan sekadar nama yang terukir di batu nisan, melainkan cahaya yang menerangi jalan rakyat Indonesia hingga hari ini. Dari Surabaya hingga Banda Aceh, dari Ambarawa hingga Biak, mereka berjuang bukan demi dirinya sendiri, melainkan untuk cita-cita yang lebih luhur.

“Demi masa depan bangsa yang bahkan belum mereka kenal, yaitu kita semua yang berdiri di sini hari ini. Para pahlawan mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan tidak jatuh dari langit. Kemerdekaan lahir dari kesabaran, keberanian, kejujuran, kebersamaan, dan keikhlasan,” katanya di Plaza Gedung A, Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Senin (10/11/2025).

Dia menjabarkan tiga hal yang dapat dijadikan teladan dari para pahlawan bangsa. Pertama, kesabaran para pahlawan. Para pahlawan sabar menempuh ilmu, sabar menyusun strategi, sabar menunggu momentum, dan sabar membangun kebersamaan di tengah segala keterbatasan. Mereka tetap bersabar meski menghadapi perbedaan pandangan dan jalan perjuangan.

“Dari kesabaran itulah lahir kemenangan, karena mereka tahu bahwa kemerdekaan tidak diraih dengan tergesa-gesa, tetapi ditempa oleh waktu dan keikhlasan,” ucapnya.

Kedua, semangat untuk mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya. Setelah kemerdekaan diraih, para pahlawan tidak berebut jabatan, tidak menuntut balasan, dan tidak mengincar apa yang ditinggalkan penjajah. Mereka justru kembali ke rakyat: mengajar, membangun, menanam, dan melanjutkan pengabdian.

“Di situlah letak kehormatan sejati, bukan pada posisi yang dimiliki, tetapi pada manfaat yang ditinggalkan,” imbuhnya.

Ketiga, pandangan jauh ke depan. Para pahlawan berjuang untuk generasi yang akan datang, untuk kemakmuran bangsa yang mereka cintai. Mereka juga menjadikan perjuangan ini sebagai bagian dari ibadah; darah dan air mata yang dikorbankan adalah doa yang tak pernah padam. Para pahlawan percaya bahwa menyerah berarti meninggalkan amanah kemanusiaan.

“Ini adalah modal besar bagi generasi kita saat ini. Semangat perjuangan yang pantang menyerah adalah kekuatan bagi kita dan generasi mendatang untuk meneruskan cita-cita para pahlawan yang selama ini telah ditunaikan,” ungkapnya.

La Ode melanjutkan, pada masa sekarang perjuangan tidak lagi dilakukan dengan bambu runcing, melainkan dengan ilmu, empati, dan pengabdian. Namun semangatnya tetap sama: membela yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dari arus kemajuan.

Semangat inilah, sambung dia, yang terus dihidupkan melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Hal ini dapat dilihat mulai dari upaya memperkuat ketahanan nasional, memajukan pendidikan, menegakkan keadilan sosial, hingga membangun manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya. Sebagaimana para pahlawan telah memberikan segalanya untuk Indonesia, dia mengajak para ASN menjaga agar api perjuangan itu tidak pernah padam, dengan cara bekerja, bergerak, dan berdampak.

“Hari ini, mari kita bersyukur dan berjanji: bahwa kemerdekaan ini tidak akan sia-sia. Kita akan melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan cara kita, bekerja lebih keras, berpikir lebih jernih, dan melayani lebih tulus,” tandasnya.

Sebagai informasi, upacara ini turut dihadiri oleh para pejabat tinggi madya dan pratama, serta ASN di lingkungan Kemendagri dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).

Puspen Kemendagri

Hari Pahlawan, Momentum Merawat Semangat Perjuangan dan Menolak Lupa

SURABAYA || jejakindonesia.id - Peringatan Hari Pahlawan menjadi momentum bagi seluruh rakyat Indonesia untuk kembali merenungi makna perjuangan dan pengorbanan para pendahulu bangsa. Bukan sekadar seremoni tahunan, Hari Pahlawan adalah ruang refleksi untuk meneguhkan kembali semangat persatuan dan nasionalisme yang diwariskan oleh para pejuang kemerdekaan.

Hari Pahlawan sendiri merujuk pada peristiwa heroik “Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya”, ketika rakyat bersama arek-arek Suroboyo bangkit melawan kekuatan penjajah yang berusaha merebut kembali kedaulatan Indonesia. Semangat “merdeka atau mati” yang menyala kala itu menjadi simbol keberanian dan kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan hanya bisa dipertahankan dengan persatuan.

“Perjuangan para pendahulu kita adalah sejarah panjang yang seharusnya menjadi landasan semangat dalam memperkuat rasa nasionalisme,” ujar Arsyad Habibillah, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Sosial Budaya Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dalam wawancara pada peringatan Hari Pahlawan kali ini.

Arsyad yang akrab disapa “Habib” menegaskan bahwa Hari Pahlawan seharusnya tidak berhenti pada peringatan simbolik, melainkan diisi dengan langkah nyata melalui konsolidasi gerakan intelektual. Menurutnya, semangat intelektual dan moral pemuda hari ini harus sejalan dengan perjuangan para pendahulu bangsa yang berhasil menyatukan kekuatan demi kemerdekaan.

“Momen Hari Pahlawan haruslah diisi dengan konsolidasi gerakan intelektual, seperti halnya pemuda-pemuda dulu yang mampu menyatukan pemikiran dan kekuatan untuk membangun peradaban serta persatuan bangsa,” ungkap Habib.

Di sisi lain, peringatan Hari Pahlawan tahun ini juga diwarnai oleh perdebatan publik mengenai “rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto”, Presiden ke-2 Republik Indonesia. Isu tersebut menimbulkan pro dan kontra, terutama dari kalangan aktivis dan mahasiswa yang menilai bahwa rekam jejak rezim Orde Baru tidak sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai kepahlawanan.

Habib turut menanggapi isu tersebut dengan sikap kritis. Ia menilai bahwa penganugerahan gelar pahlawan tidak bisa diberikan tanpa pertimbangan moral, sejarah, dan kemanusiaan yang mendalam.

“Pemberian gelar Pahlawan Nasional tidak bisa serta merta diberikan karena alasan receh atau kepentingan elit. Apalagi kalau menyangkut luka masa lalu yang masih dirasakan oleh banyak kalangan rakyat. Pemerintah perlu berpikir matang sebelum mengambil keputusan soal ini,” tegasnya.

Bagi Habib, Hari Pahlawan bukan hanya momen untuk memuja masa lalu, tetapi juga untuk “membangun kesadaran baru” tentang tanggung jawab generasi muda dalam menjaga marwah bangsa. “Menjadi pahlawan hari ini bukan lagi berjuang dengan senjata, tapi dengan pikiran, moral, dan keberanian bersikap untuk kebenaran,” tambahnya.

Semangat itu, kata Habib, harus terus dirawat di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks dari degradasi moral, krisis kepemimpinan, hingga pragmatisme politik. Ia menutup pesannya dengan ajakan agar pemuda kembali pada nilai-nilai perjuangan yang sejati: keberanian, kejujuran, dan pengabdian.

Iskandar Zulkarnain: Penunjukan AHY Bukti Prabowo Tegas dan Berpikir Jauh ke Depan

BANYUWANGI || jejakindonesia.id Penunjukan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) oleh Presiden Prabowo Subianto untuk memimpin proyek strategis pengembangan High-Speed Rail (HSR) atau kereta cepat jalur Jakarta–Surabaya–Banyuwangi (KCIC Stripe) menjadi bukti nyata kepemimpinan nasional yang visioner dan berorientasi masa depan.

KH. Iskandar Zulkarnain, Da’i Kamtibmas Polda Jatim sekaligus Pembina Majlis Ta’lim Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Kalibaru Banyuwangi, menyebut langkah Presiden Prabowo sebagai cerminan filosofi Islam klasik “Al-Muhaafadhotu ‘alal Qodiimisshoolih wal Akhdzu bil Jadiidil Ashlah”, yang berarti: mempertahankan yang lama yang baik dan menerima yang baru yang lebih baik.

“Ungkapan itu sangat korelatif dengan ketegasan Presiden Prabowo yang mengambil alih tanggung jawab penyelesaian pro-kontra proyek KCIC WHOOSH dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” ujar Iskandar Zulkarnain, yang akrab disapa Gus Kurnain, Senin (10/11/2025).

Menurutnya, keberlanjutan proyek tersebut bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang legacy kepemimpinan yang berpihak pada percepatan pembangunan nasional. “Dengan pengembangan jalur hingga Banyuwangi, waktu tempuh yang sebelumnya belasan jam kini bisa disingkat hanya beberapa jam. Ini akan memperluas akses rakyat terhadap kemajuan teknologi transportasi,” imbuhnya.

Gus Kurnain, juga menilai penunjukan AHY menunjukkan kesadaran Presiden Prabowo akan pentingnya regenerasi dalam perjuangan mewujudkan cita-cita Proklamasi sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945: mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

“Dalam Islam, perjuangan itu bersifat berkesinambungan. Al-Jihaadu maadlin ilaa yaumil qiyaamah — jihad itu terus berlanjut sampai hari kiamat. Maka regenerasi adalah keniscayaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Gus Kurnain, menyebut sosok AHY sangat representatif: muda, cerdas, berani, dan berkarakter. “Selain kapasitas pribadinya, AHY juga mewarisi darah kepemimpinan. Kakeknya, Letkol Sarwo Edhi Wibowo, adalah putra terbaik bangsa yang sukses menjalankan tugas berat pasca G30S/PKI 1965. Ayahnya, Presiden SBY, memimpin Indonesia dengan sukses selama satu dekade. Seperti kata guru-guru kami dulu: buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” ujarnya.

Ia menutup dengan optimisme bahwa dengan semakin banyaknya tokoh muda dan kompeten dalam Kabinet Merah Putih, semangat mewujudkan Indonesia Maju dan Kaya Bersama akan semakin meningkat.
“Bravo NKRI!” pungkas Iskandar dengan penuh semangat.

Cegah Abrasi, Siswa Diktukba SPN Polda Jatim Tanam Mangrove dan Berbagi Bansos

LAMONGAN || jejakindonesia.id – Puluhan Siswa Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) Polri T.A. 2025 dari Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jatim melaksanakan program 'Live In' yang menyentuh langsung denyut nadi masyarakat di Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan.

Para calon Bintara Polri ini tidak hanya membaur dan tinggal bersama warga, tetapi juga terjun langsung dalam dua aksi nyata yakni pelestarian lingkungan dengan menanam mangrove dan bakti sosial berupa pembagian sembako untuk rukun nelayan setempat.

Kegiatan ini merupakan bagian integral dari Latihan Kerja (Latja) dan 'Live In' yang dirancang untuk mengaplikasikan teori kepolisian sekaligus mengasah kepekaan sosial siswa terhadap masyarakat.

Sebelum diterjunkan ke lokasi, para siswa yang berada di wilayah hukum Polres Lamongan menerima arahan di Mapolres.

Kapolres Lamongan, AKBP Agus Dwi Suryanto, S.I.K., M.H., melalui Pamapta Polres Lamongan, Ipda Wahyudi, memberikan pembekalan yang menekankan pentingnya komunikasi sebagai fundamental tugas kepolisian.

"Program Latja dan 'Live In' ini kunci utamanya adalah komunikasi. Terapkan 5S: Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun," kata Ipda Wahyudi, Minggu (9/11).

Berbekal arahan tersebut, salah satu kelompok siswa bergerak menuju sasaran, yakni kediaman M. Alif Fauzi, Ketua Rukun Nelayan Sedayu Lawas, yang menjadi pendamping mereka selama program berlangsung.

Selama 'Live In', para siswa menyatu penuh dengan ritme kehidupan warga.

Keseharian mereka diawali sejak dini hari, mulai dari bangun pagi, melaksanakan sholat Subuh berjamaah, mengaji, hingga berpartisipasi aktif membantu kegiatan rumah tangga di tempat mereka tinggal.

Interaksi utama berlangsung di areal bibir muara sungai yang menjadi benteng pertahanan desa dari ancaman abrasi.

Didampingi langsung oleh M. Alif Fauzi, para siswa diajak menyisir keindahan ekosistem mangrove yang mulai menghijau.

Di lokasi ini, mereka tidak hanya melihat, tetapi mendapat edukasi mendalam mengenai pelestarian pesisir.

"Di tempat ini masih terdapat dua jenis pohon mangrove utama, yaitu mangrove Avicennia atau yang dikenal sebagai 'si api-api', dan mangrove Rhizopora," jelas Alif kepada para siswa.

Alif memfokuskan edukasi pada jenis Rhizopora, yang menurutnya lebih mudah dibibitkan dan ditanam.

Manfaatnya sangat krusial, tidak hanya untuk meningkatkan produksi oksigen, tetapi juga sebagai garda terdepan pencegah abrasi tanah.

"Keunikannya tidak berhenti di situ. Pohon mangrove ini juga memiliki nilai ekonomi, bisa dimanfaatkan sebagai bahan olahan roti, bedak, hingga sirup," tambahnya.

Salah seorang Siswa Diktukba, Maulana Wibowo, tidak sekadar menyimak.

Ia bersama kelompoknya antusias turun langsung ke lahan berlumpur di bibir sungai, mempraktikkan cara pembibitan dan menanam pohon Rhizopora bersama para nelayan dan pegiat lingkungan setempat.

Bagi sebagian besar siswa, ilmu tentang ekosistem mangrove ini merupakan pengetahuan baru yang sangat berharga.

"Pengetahuan tentang mangrove ini adalah pengetahuan dan pengalaman baru bagi kami. Kegiatan 'Live In' ini sangat berharga," ucap Maulana Wibowo.

Aksi para siswa tidak berhenti pada pelestarian lingkungan. Sebagai wujud nyata kepedulian sosial dan implementasi Polri yang humanis, para siswa Diktukba ini juga menyerahkan bantuan sosial (bansos) berupa beras.

Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada masyarakat Rukun Nelayan Sedayu Lawas melalui M. Alif Fauzi, dan pegiat lingkungan setempat.

Seluruh rangkaian kegiatan 'Live In' ini, mulai dari penanaman mangrove hingga bakti sosial, turut dipantau dan didampingi oleh Kepala Desa Sedayu Lawas, Heni Fikawati.

Ia menyambut baik program SPN Polda Jatim yang dinilai memberikan dampak positif.

"Kegiatan ini sangat baik bukan hanya berdampak pada lingkungan desa kami, tapi juga dapat membentuk karakter para siswa yang peduli terhadap lingkungan dan sesama," ungkap Kepala Desa.

Sementara itu di tempat terpisah, Waka SPN Polda Jatim, AKBP Dody Indra Eka Putra menjelaskan program Live in ini diharapkan dapat membentuk karakter para siswa sehingga mampu menjadi anggota Polri yang peka, solutif, dan benar-benar mengerti denyut nadi masyarakat.

Ia berharap, pengalaman beradaptasi dan berinteraksi langsung dengan isu lingkungan serta sosial kemasyarakatan ini benar-benar membekali mereka.

"Kelak ketika mereka sudah dilantik dan resmi bertugas, mereka mampu menjadi anggota Polri yang peka, solutif, dan benar-benar mengerti denyut nadi masyarakat," tutupnya.

error: Content is protected !!