PASURUAN || Jejak-indonesia.id – Menunjukkan kepedulian nyata terhadap pelestarian lingkungan pesisir, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Pasuruan turun langsung meninjau dan memetakan kawasan hutan mangrove di Kelurahan Tambaan, Kecamatan Panggungrejo, pada hari Minggu ini. Mengarungi perairan dengan perahu, jajaran pengurus partai melaksanakan pengamatan lapangan sebagai langkah awal penyusunan program konservasi yang terarah, terukur, dan berbasis data nyata.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Mahfud Husairi, ST, didampingi pengurus PAC PDI Perjuangan Panggungrejo serta pengurus tingkat Ranting Kelurahan Tambaan. Pemetaan dilakukan untuk mendokumentasikan kondisi aktual kawasan, mengidentifikasi potensi kerusakan, memetakan sebaran vegetasi, serta menghimpun data lapangan yang akan menjadi dasar penyusunan kebijakan pelestarian ekosistem pesisir yang lebih efektif.
Kawasan Tambaan dipilih karena memiliki posisi strategis meskipun luasnya relatif terbatas. Berdasarkan Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (DIKPLHD) Kota Pasuruan tahun 2024, wilayah ini merupakan kawasan mangrove terkecil di kota tersebut, dengan luas mencapai 4,02 hektare atau sekitar 4,49 persen dari total tutupan mangrove yang tercatat seluas 89,45 hektare. Di balik angka tersebut, tersimpan fungsi ekologis yang sangat berharga: sebagai benteng alami penahan abrasi, peredam energi gelombang laut, penjaga kualitas lingkungan pesisir, sekaligus habitat bagi beragam biota laut dan darat.
Mahfud Husairi menegaskan bahwa upaya pelestarian tidak dapat hanya mengandalkan data tertulis.
“Kami harus melihat langsung kondisi riil di lapangan. Memahami bagaimana ekosistem ini bekerja, apa saja ancamannya, dan bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan lingkungannya. Hanya dengan pemahaman yang utuh, langkah perlindungan dapat disusun dengan tepat sasaran,” ujarnya.
Catatan perkembangan luas mangrove di Kota Pasuruan menunjukkan dinamika yang perlu dicermati. Pada tahun 2017, luasnya mencapai 90,21 hektare, namun mengalami penyusutan menjadi 74,92 hektare pada tahun 2020. Berkat upaya rehabilitasi yang dilakukan pemerintah, komunitas lingkungan, dan masyarakat, kondisi ini membaik kembali dan mencapai 89,45 hektare sejak tahun 2021 hingga saat ini. Sekitar 474 ribu bibit mangrove telah ditanam selama periode 2017–2024. Namun menurut Mahfud, keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam.
“Yang lebih penting adalah tingkat kelangsungan hidup, kerapatan tumbuhan, serta pemulihan fungsi ekologisnya. Konservasi harus diukur secara ilmiah dan berkelanjutan,” tegasnya.
Berbagai tekanan tetap mengancam kelestarian hutan bakau ini, mulai dari abrasi dan perubahan iklim, hingga aktivitas pembangunan pesisir serta pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, pemetaan ini diharapkan menjadi pintu awal bagi program konservasi yang terintegrasi, melibatkan peran aktif masyarakat setempat.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Tatit Panji, S.I.Kom., menekankan bahwa pelestarian mangrove adalah tanggung jawab bersama.
“Ini bukan sekadar menjaga pohon di tepi pantai. Mangrove adalah benteng kehidupan masyarakat pesisir. Jika ekosistem ini rusak, dampaknya langsung terasa: pantai tergerus, ikan berkurang, hingga mata pencaharian terancam. Menjaga mangrove berarti menjaga masa depan kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah nyata seperti ini diharapkan melampaui sekadar kegiatan seremonial. “Kami ingin membangun gerakan bersama. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, warga, akademisi, dan pelaku usaha agar upaya ini berkelanjutan dan memberikan dampak nyata,” lanjutnya.
Melalui kegiatan ini, DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan menyampaikan dukungan penuh terhadap target peningkatan luas mangrove menjadi lebih dari 100 hektare pada tahun 2030. Bagi mereka, luas 4 hektare di Tambaan bukan sekadar angka statistik, melainkan aset berharga yang harus dijaga demi keseimbangan alam, perlindungan dari bencana, serta warisan lingkungan yang layak diteruskan kepada generasi mendatang.
Pada akhirnya, pelestarian mangrove adalah investasi jangka panjang. Di tengah tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, langkah konkret seperti pemetaan, rehabilitasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci agar Kota Pasuruan memiliki pesisir yang tetap sehat, produktif, dan lestari untuk masa depan.
(An)
