BOJONEGORO || Jejak-indonesia.id – Kapolres Bojonegoro Polda Jatim, AKBP Afrian Satya Permadi menegaskan bahwa keberadaan Dai dan Pendeta Kamtibmas menjadi salah satu pondasi penting dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan di tengah masyarakat.
“Kondisi wilayah yang aman dan kondusif tidak terlepas dari peran para tokoh agama yang terus menyampaikan pesan damai kepada umat,” ujar AKBP Afrian di Bojonegoro, Sabtu (7/3/26).
Oleh karena itu Kapolres Bojonegoro mengajak seluruh pihak untuk senantiasa mendoakan agar situasi keamanan, baik di tingkat nasional maupun internasional, tetap dalam kondisi yang kondusif.
Ia berharap Indonesia, khususnya Jawa Timur dan Kabupaten Bojonegoro, senantiasa berada dalam situasi aman, damai, dan penuh toleransi.
AKBP Afrian menambahkan, hingga hari ke-16 Ramadan, masyarakat Bojonegoro dinilai mampu menjaga sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan selama menjalankan ibadah puasa.
“Kondisi ini juga tidak lepas dari peran para Dai dan Pendeta Kamtibmas yang secara aktif memberikan pesan-pesan menyejukkan kepada masyarakat,” ungkap AKBP Afrian.
Sebelumnya, Polres Bojonegoro Polda Jatim juga menggelar kegiatan silaturahmi Ramadan bersama para Dai dan Pendeta Kamtibmas di Gedung AP I Rawi Mapolres Bojonegoro, Kamis (5/3/2026) yang lalu.
Kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkuat sinergitas serta mempererat hubungan antara kepolisian dan tokoh agama dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Dengan mengusung tema “Bersama Membangun Negeri, Polri Untuk Masyarakat”, kegiatan tersebut turut dihadiri Wakapolres Bojonegoro, para pejabat utama (PJU) Polres Bojonegoro, Ketua Dai Kamtibmas KH. Alamul Huda Masyhur, serta para dai dan pendeta Kamtibmas.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolres juga memohon doa dan dukungan dari para tokoh agama menjelang pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2026 yang akan dimulai pada 13 Maret mendatang.
Operasi ini bertujuan untuk mengamankan arus mudik dan perayaan Hari Raya Idulfitri agar berjalan aman dan lancar.
Sementara itu, Ketua Dai Kamtibmas Bojonegoro KH. Alamul Huda Masyhur dalam tausiyah singkatnya menyampaikan bahwa terciptanya keamanan dan keadilan dalam suatu wilayah memerlukan sinergi antara ulama dan umara.
Menurutnya, pemerintah dan tokoh agama harus berjalan seiring untuk menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
Ia juga mengibaratkan persatuan sebagai filosofi sapu lidi. Jika sapu lidi diikat menjadi satu, maka akan kuat dan mampu membersihkan halaman. Namun jika berdiri sendiri, sapu lidi tidak akan memiliki kekuatan.
KH. Alamul Huda Masyhur mengajak seluruh elemen, baik pemerintah, ulama, maupun tokoh agama lainnya, untuk terus bersatu demi mewujudkan Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan. (*)