Sorry, we're closed Opens Jumat at 9:00 am

Tahun: 2025

Gaya Hidup Sehat Satgas Yonif 521/DY Gelar Makan Bersama Di Distrik Kurima

YAHUKIMO || jejakindonesia.id – Makan bersama adalah kegiatan makan yang memiliki banyak manfaat untuk mempererat hubungan, meningkatkan kesehatan fisik dan emosional, serta mengajarkan nilai-nilai sosial seperti kebersamaan dan gotong royong
di Distrik Kurima Kab. Yahukimo, Papua Pegunungan.(14/09/2025)

Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan tampak di Pos Kurima Satgas Yonif 521/DY ketika personel pos menggelar acara Makan Bersama dengan masyarakat sekitar.

Danpos Kurima, Letda Inf Dany Rizki Hardiyanto, S.Tr.Han., menyampaikan bahwa kegiatan makan bersama ini merupakan bentuk nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.

“Melalui kegiatan sederhana seperti makan bersama, kami ingin menunjukkan bahwa TNI hadir tidak hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga untuk merajut persaudaraan dengan masyarakat. Kami dan warga adalah satu keluarga besar,” ungkapnya.

Kegiatan makan bersama ini diakhiri dengan doa bersama dan salam-salaman, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh yang hadir.

Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E,M.I.P Dansatgas Yonif 521/DY, *Makan Bersama* menciptakan kesempatan untuk interaksi dan komunikasi serta mencerminkan semangat gotong royong, kerukunan, dan kebersamaan, serta mengajarkan nilai-nilai berbagi dan menghargai.

Makan Bersama juga Sebagai wujud Sikap Ramah Tamah dan rasa syukur kepada Tuhan YME atas berbagai berkat dan Mempererat solidaritas, kekeluargaan, dan kebersamaan antar sesama.

Hal itu semua tidak lepas dari kegiatan pembinaan teritorial yang dilakukan selama ini benar-benar membantu masyarakat sekitar di daerah penugasan.

*Prajurit Kumbang Berhasil (Yonif 521/DY)*

Di Duga Jadi Lahan Bancakan Proyek Irigasi di Kelurahan Lateng

BANYUWANGI || jejakindonesia.id - Proyek irigasi (saluran air) di kelurahan lateng banyuwangi di duga jadi arena bancakan para oknum. Saluran irigasi (saluran air) yang berada di wilayah kelurahan lateng tepatnya di manggisan, di duga sangat kental dengan aroma bancakan para oknum (14/9/2025).

Bisa kita lihat bersama beberapa kejanggalan di lokasi proyek irigasi di kelurahan lateng :

1. Papan proyek tidak di pasang (tidak ada)
2. Terlihat warna pasir berwana coklat di duga banyak campuran tanahnya (lumpur)
3. Terlihat bangunan irigasi yang sudah jadi berwarna coklat, di duga campuran semennya sangat sedikit dan di dominasi pasir bercampur tanah (lumpur)

Dari temuan awal di lapangan sangat terlihat kejanggalan, di duga proyek tersebut tidak sesuai spesifikasi.

Inisial SR alah satu warga lateng yang rumahnya dekat dengan lokasi proyek tersebut mengatakan proyek ini sudah berjalan kok aneh tidak pasang papan CV yang mengerjakan dan saya lihat pasirnya aneh warna coklat, bukan warna hitam seperti warna pasir normal pada umumnya.

"proyek ini sudah berjalan kok aneh tidak pasang papan CV yang mengerjakan dan saya lihat pasirnya aneh warna coklat, bukan warna hitam seperti warna pasir normal pada umumnya". Ungkap SR

Ibu Bupati Banyuwangi tolonglah saya ini rakyat kecil, pembangunan proyek irigasi yang di lateng jangan di kerjakan asal - asalan bu, saya yakin ini oknum - oknum nakal yang bermain, tolong Ibu Bupati tindak tegas oknum yang merugikan rakyatnya njenengan bu. Imbuh SR

Reporter : Rio

Ditonton Bupati Ipuk, Puluhan Anak Banyuwangi Unjuk Bakat di Festival Band Pelajar

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Sebanyak 29 grup band pelajar unjuk kebolehan di Festival Band Pelajar yang digelar Pemkab Banyuwangi di Banyuwangi Park. Kompetisi musik yang digelar selama dua hari, 13-14 September 2025 ini diikuti 5 band dari SD, 16 dari SMP, serta 8 dari SMA sederajat.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani hadir langsung menyaksikan penampilan para pelajar. Ia tampak antusias menikmati alunan musik sekaligus memberi apresiasi kepada seluruh peserta.

“Selain menikmati bakat mereka, saya mengapresiasi apa yang sudah diupayakan oleh anak-anak kita,” kata Ipuk di lokasi, Sabtu (13/9/2025).

Menurut Ipuk, festival ini menjadi wadah bagi anak-anak yang memiliki hobi bermain musik dan menyanyi. Mereka diberi ruang untuk tampil dan menyalurkan bakatnya.

Setiap peserta juga diarahkan untuk membawakan lagu daerah dan lagu nasional. Agar mereka tetap mencintai kekayaan musik daerah sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap lagu kebangsaan.

“Tadi ada yang pakai lagu Banyuwangi, ada yang pakai lagu nasional. Jadi, walaupun mereka kita fasilitasi, tapi tetap kita atur agar mereka cinta lagu lokal Banyuwangi dan juga cinta lagu nasional,” kata Ipuk.

Ditambahkan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, Suratno, ajang ini bagian dari mengasah skill non-akademik siswa, termasuk musik.

“setiap tahun kita gelar, karena memang antusiasme yang tinggi dari pelajar. Bahkan dari level SD saja sudah ada 5 band yang ikut. Akan kita gelar rutin,” kata Suratno.

Sementara itu, dari 29 grup band pelajar yang ikut, ada salah satu peserta dari SMA di Kabupaten Situbondo. “Semoga tahun depan akan lebih banyak lagi pesertanya. Kita akan coba undang di daerah-daerah lain agar bisa ikut serta,” ujarnya.

Salah satu peserta, Laili Suci (18) dari SMAN 1 Glagah yang tergabung dalam Ganesha Band, membawakan lagu Banyuwangi berjudul “Kembang” ciptaan almarhum Koming.

Laili mengaku senang karena festival ini memberi wadah untuk berekspresi. Sebelumnya, ia juga pernah menjuarai lomba Festival Gending Using tahun 2023 yang digelar Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfo) Banyuwangi.

“Senang sekali, dimana kita semua calon-calon musisi mendapatkan wadah buat mengekspresikan karya-karya kami, dan juga bisa menampilkan bakat-bakat kami,” katanya.

Peserta lain, Dinda Atifa (17) dari SMAN 1 Purwoharjo bersama Aby Akta Band, membawakan lagu nasional “Berkibarlah Bendera Negeriku”. Mereka menyiapkan penampilan ini selama sebulan sebelum tampil di panggung.

“Festival ini sangat bermanfaat, karena bisa mengasah bakat dari anak-anak seperti kami yang suka bermusik,” ujarnya. (*)

Jadi Tuan Rumah Jambore FPRB, 803 Relawan Kebencanaan se-Indonesia Datang ke Banyuwangi

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Sebanyak 803 relawan kebencanaan dari berbagai wilayah Indonesia hadir di Banyuwangi untuk mengikuti Jambore Ketiga Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Acara yang diselenggarakan oleh Pemprov Jawa Timur ini dipusatkan di Pantai Grand Watu Dodol (GWD) Banyuwangi.

Selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (12-14/9/2025) mereka mengikuti berbagai rangkaian kegiatan. Mulai dari sosialisasi pendidikan kebencanaan di sekolah terdekat, hingga diskusi tematik soal kebencanaan.

Mereka datang dari berbagai wilayah Indonesia, yang berasal dari 29 provinsi dan mewakili 105 kabupaten/kota. Sebut saja perwakilan dari Lombok Tengah, Purworejo Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Bali, Sumedang Jawa Barat, NTB, hingga NTT.

“Banyuwangi merasa terhormat dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan berskala nasional ini. Terima kasih kepada Pemprov Jatim dan semooga jambore ini menajdi ajang saling belajar bagi daerah dalam antisipasi dan menghadapi bencana,” kata Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono saat menghadiri Jambore FPRB, Sabtu (13/9/2025).

Menurutnya, setiap daerah memiliki kerawanan yang berbeda. Karena itu, pengurangan risiko harus dilakukan bersama dan menjadi agenda strategis yang tak bisa ditunda.

Mujiono menekankan, upaya tangguh bencana tak cukup mengandalkan respon darurat atau kebijakan pusat. Membangun sistem berbasis komunitas, kolaborasi lintas sektor, serta budaya sadar bencana masyarakat adalah kunci penting untuk antisipasi bencana.

“Forum PRB hadir sebagai wadah strategis yang menyatukan berbagai unsur. Semuanya bersatu dalam satu barisan memperkuat kesiapsiagaan kebencanaan,” kata Wabup.

Forum ini dibuka langsung Sekretaris Daerah Provinsi Jatim, Adhy Karyono. Sekdaprov menilai jambore ini penting dalam upaya kesiapsiagaan bencana. Menurutnya, penanggulangan bencana harus melibatkan semua pihak agar masyarakat semakin sadar dan berkapasitas menghadapi ancaman bencana.

“Setiap daerah wajib memiliki rencana kontijensi penanggulangan bencana. Mulai dari pemetaan dampak bencana, jumlah penduduk terdampak, hingga ketersediaan sumber daya untuk penyelamatan saat sewaktu-waktu bencana melanda,” kata Sekdaprov.

Sekjen FPRB Jawa Timur, Catur Sudarmanto menambahkan, peserta jambore ini diikuti beragam relawan. Juga diikuti perwakilan disabilitas, termasuk sahabat tuli, sahabat netra, dan sahabat daksa.

“Jadi semua kelompok masyarakat dari unsur apapun kita ajak bersama-sama. Kita beri ruang yang sama untuk untuk terlibat, berbagi pengalaman, dan memperkuat kapasitas penanggulangan bencana di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Salah satu perwakilan relawan asal Lombok Tengah, Provinsi NTB, Hasan Masat mengaku senang bisa ikut andil di Jambore III FPRB yang digelar di Banyuwangi. Karena banyak ilmu serta bertukar pengalaman dari para relawan kebencanaan di berbagai Indonesia.

“Kami dari Lombok Timur ada 6 orang yang ikut. Saya rasa Banyuwangi memiliki banyak hal menarik yang bisa menjadi inspirasi sekaligus bekal bagi kami dan para relawan lainnya untuk mengembangkan kapasitas di daerah masing-masing,” kata Ketua FPRB Lombok Tengah ini. (*)

Miris Proyek Saluran Air di Lateng Di Duga Tidak Sesuai Speksifikasi

BANYUWANGI || jejakindonesia.id - Proyek saluran air yang berlokasi di manggisan kelurahan lateng banyuwangi di duga tidak sesuai spesifikasi bahkan tidak terlihat papan proyek. Sabtu 13/09/25

Ditengah gencarnya pembangunan yang dilakukan bupati banyuwangi, sangat patut di apresiasi. Akan tetapi di duga ada oknum - oknum pelaksana pembangunan infrastruktur untuk masyarakat banyuwangi di duga tidak sesuai spedifikasi.

Salah satunya temuan proyek di keluarahan lateng, di duga proyek irigasi tersebut patut di kontrol. Karena tidak ada papan proyek dan di duga bahan tidak sesuai, campuran pemasangan batu terlihat di dominasi oleh pasir yg bercampur tanah sedangkan semen terlihat kurang.

Dasar Hukum Pemasangan Papan Proyek
Peraturan Daerah (Perda) Kab. Banyuwangi No. 10 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Reklame .
Peraturan Bupati (Perbup) No. 10 Tahun 2023: yang menjadi pedoman pelaksanaan Perda tersebut.

Isi Papan Proyek
Papan proyek wajib memuat informasi penting untuk transparansi dan akuntabilitas, antara lain: Nama proyek, Sumber dana (APBN/APBD), Anggaran proyek, Waktu pelaksanaan atau perkiraan waktu selesai proyek, Nama kontraktor/pelaksana proyek.

Pemasangan papan proyek penting karena sebagai :
Transparansi Informasi: Memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat mengenai proyek yang sedang berjalan.

Pengawasan oleh Masyarakat: Memungkinkan masyarakat untuk ikut mengawasi pelaksanaan proyek.

Akuntabilitas Pengelola Proyek: Meningkatkan akuntabilitas pihak yang melaksanakan proyek.

Pencegahan Tindak Korupsi: Mencegah potensi korupsi atau penyalahgunaan wewenang dalam proyek pemerintah.

proyek yang tidak sesuai spesifikasi dapat melanggar undang-undang korupsi jika ada unsur perbuatan melawan hukum, seperti kesengajaan membiarkan atau menyebabkan penyimpangan yang merugikan keuangan negara.

Dasar Hukum
Undang-undang yang menjadi dasar untuk menjerat tindak pidana korupsi antara lain:
UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001):
Mengatur berbagai bentuk tindak pidana korupsi yang melibatkan penyelenggara negara.

Peraturan Pemerintah (Perpres) tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah:
Mengatur ketentuan mengenai pelaksanaan pengadaan barang dan jasa, termasuk kewajiban untuk memenuhi spesifikasi dan ketentuan pembayaran yang sesuai.