Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Berita

PANDEGLANG || Jejak-indonesia.id – Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan minat baca dan pengembangan pendidikan anak usia dini, Kapolres Pandeglang AKBP Dr. Dhyno Indra Setyadi didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Pandeglang Ny. Ledy Dhyno menggelar kegiatan peresmian Taman Baca Bhayangkari di TK Kemala Bhayangkari 02 Pandeglang pada Rabu, 13 Mei 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh kehangatan dan dihadiri oleh pengurus Bhayangkari Cabang Pandeglang, para guru, orang tua murid, serta siswa-siswi TK Kemala Bhayangkari 02 Pandeglang.

Peresmian taman baca ditandai dengan pengguntingan pita dan peninjauan langsung fasilitas taman baca oleh Kapolres Pandeglang bersama Ketua Bhayangkari Cabang Pandeglang. Taman baca tersebut disediakan sebagai sarana edukasi bagi anak-anak guna menumbuhkan budaya membaca sejak usia dini.

Dalam sambutannya, AKBP Dr. Dhyno Indra Setyadi menyampaikan bahwa keberadaan taman baca di lingkungan sekolah diharapkan dapat menjadi wadah pembelajaran yang menyenangkan sekaligus meningkatkan literasi anak-anak.

“Melalui taman baca ini, kami berharap anak-anak semakin gemar membaca dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Membaca merupakan jendela ilmu yang sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang dan masa depan generasi penerus bangsa,” ujar Kapolres Pandeglang.

Sementara itu, Ketua Bhayangkari Cabang Pandeglang Ny. Ledy Dhyno mengatakan bahwa taman baca tersebut merupakan bentuk kepedulian Bhayangkari terhadap dunia pendidikan, khususnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan edukatif bagi anak-anak.

“Kami berharap fasilitas taman baca ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para siswa untuk menambah wawasan, meningkatkan kreativitas, dan menumbuhkan kecintaan terhadap membaca sejak dini,” ungkap Ny. Ledy Dhyno.

Selain peresmian taman baca, kegiatan juga diisi dengan interaksi bersama anak-anak, penyerahan buku bacaan edukatif, serta peninjauan ruang belajar di TK Kemala Bhayangkari 02 Pandeglang.

Suasana kegiatan berlangsung penuh keceriaan dan antusiasme dari para siswa yang tampak senang dengan hadirnya fasilitas taman baca baru di sekolah mereka.

Melalui kegiatan ini, Polres Pandeglang bersama Bhayangkari Cabang Pandeglang menunjukkan komitmennya dalam mendukung dunia pendidikan serta menciptakan generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan gemar membaca.

PIDIE || Jejak-indonesia.id – Polres Pidie bersama Pemerintah Kabupaten Pidie menyerahkan bantuan bibit jagung, pupuk, serta melakukan penanaman jagung bersama Petani Muda Milenial Kabupaten Pidie di lahan pertanian Gampong Cut, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Selasa (12/5/2026).

‎Kegiatan yang dimulai sekira pukul 10.30 WIB ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan hasil kolaborasi Petani Muda Aceh bersama Polda Aceh guna mendukung peningkatan hasil pertanian masyarakat serta optimalisasi pemanfaatan lahan produktif.

‎Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana, S.I.K., M.I.K., hadir langsung bersama Wakil Bupati Pidie Alzaizi Umar, unsur Muspika Kecamatan Delima, perwakilan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie, kelompok tani, serta sejumlah personel Polres Pidie dan Koramil 03 Delima.

‎Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Pidie menyerahkan secara simbolis bantuan pertanian berupa 160 kilogram bibit jagung merk SEGE 01, tujuh sak pupuk Ponska, tujuh sak pupuk urea, serta dua unit traktor untuk mendukung pengelolaan lahan pertanian seluas 10 hektare yang akan ditanami jagung.
‎Selain penyerahan bantuan, kegiatan juga diisi dengan penanaman jagung secara simbolis oleh Kapolres Pidie bersama Wakil Bupati Pidie, unsur Muspika, dan kelompok tani sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program ketahanan pangan nasional.

‎AKBP Jaka Mulyana mengatakan, keterlibatan Polri dalam mendukung sektor pertanian merupakan bagian dari komitmen Polres Pidie dalam membantu pemerintah menjaga stabilitas pangan serta mendorong kemandirian petani di daerah.

‎“Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat, khususnya generasi muda tani, sehingga ketahanan pangan di Kabupaten Pidie semakin kuat,” ujarnya.

‎Ia juga menegaskan bahwa sinergi antara Polri, pemerintah daerah, TNI, dan kelompok tani menjadi faktor penting dalam mewujudkan keberhasilan program tersebut.

‎Masyarakat dan kelompok tani yang hadir menyambut antusias kegiatan tersebut. Mereka berharap bantuan sarana pertanian itu dapat meningkatkan hasil panen sekaligus memotivasi petani muda untuk terus mengembangkan sektor pertanian modern di Kabupaten Pidie.

‎Polres Pidie selanjutnya akan terus melakukan koordinasi dengan Muspika, penyuluh pertania TVn, serta kelompok tani guna memantau perkembangan program pertanian di Kecamatan Delima.Kab Pidie.

JAKARTA || Jejak-indonesia.id – Sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan anak dan terciptanya lingkungan sekolah yang aman serta nyaman, jajaran Polres Metro Jakarta Barat melalui Sat Res PPA dan PPO menggelar kegiatan edukasi anti bullying dan pencegahan kekerasan di SMPN 186 Kalideres, Jakarta Barat, Senin (11/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung usai upacara bendera tersebut diikuti sebanyak 864 siswa, para guru, kepala sekolah hingga komite sekolah dengan penuh antusias.

Hadir sebagai narasumber PS. Kasat Res PPA dan PPO Polres Metro Jakarta Barat Kompol Nunu Suparmi, S.H., M.H., Kasat Binmas Polres Metro Jakarta Barat, serta psikolog dari LPSK DKI Jakarta.

Dalam penyampaian materinya, Kompol Nunu Suparmi memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai berbagai bentuk kekerasan, mulai dari kekerasan fisik, psikis hingga seksual, beserta dampak yang dapat ditimbulkan terhadap korban.

Selain itu, para siswa juga diberikan edukasi terkait pentingnya keberanian untuk berbicara dan melapor apabila mengalami maupun mengetahui adanya tindakan kekerasan di lingkungan sekolah ataupun sekitarnya.

“Kami ingin anak-anak merasa aman, tidak takut untuk melapor, dan memahami bahwa bullying maupun kekerasan bukan hal yang bisa dianggap biasa,” ujar Kompol Nunu Suparmi di hadapan para siswa, Senin, 11/5/2026

Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Para siswa tampak aktif bertanya serta menjawab pertanyaan yang diberikan narasumber.

Sebagai bentuk apresiasi, sejumlah hadiah juga diberikan kepada siswa yang berani tampil dan aktif selama kegiatan berlangsung.

Melalui kegiatan ini, Polres Metro Jakarta Barat berharap dapat menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang ramah anak, bebas dari perundungan, serta membangun generasi muda yang berani, peduli, dan saling menghargai.

( *Humas Polres Metro Jakarta Barat* )

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi kembali menggelar Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) sebagai bagian dari upaya pembinaan dan evaluasi terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kegiatan yang berlangsung di aula Lapas Banyuwangi tersebut membahas usulan program integrasi bagi sejumlah warga binaan yang telah memenuhi syarat administratif maupun substantif sesuai ketentuan yang berlaku.

Sidang TPP merupakan salah satu tahapan penting dalam sistem pemasyarakatan yang bertujuan untuk melakukan penilaian secara objektif terhadap perilaku, perkembangan kepribadian, serta tingkat kepatuhan warga binaan selama menjalani masa pidana di dalam lapas. Melalui forum tersebut, berbagai aspek pembinaan menjadi bahan pertimbangan sebelum warga binaan diusulkan memperoleh hak integrasi seperti pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, maupun cuti menjelang bebas.

Kegiatan sidang diikuti oleh jajaran pejabat struktural serta petugas pembinaan yang tergabung dalam Tim Pengamat Pemasyarakatan. Dalam proses pembahasannya, setiap warga binaan yang diusulkan memperoleh program integrasi dievaluasi berdasarkan rekam jejak selama menjalani pembinaan, termasuk kedisiplinan, kepatuhan terhadap tata tertib, keaktifan mengikuti program pembinaan, hingga perubahan perilaku yang ditunjukkan selama berada di dalam lapas.

Pihak Lapas Banyuwangi menegaskan bahwa seluruh proses sidang dilakukan secara transparan, profesional, dan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa program integrasi benar-benar diberikan kepada warga binaan yang telah menunjukkan perubahan positif dan dinilai siap kembali beradaptasi di tengah masyarakat.

“Sidang TPP menjadi salah satu instrumen penting dalam menentukan kelayakan warga binaan untuk mendapatkan hak integrasi. Penilaian dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek pembinaan yang telah dijalani,” ujar salah satu petugas dalam sidang tersebut.

Selain sebagai forum evaluasi, Sidang TPP juga menjadi sarana monitoring terhadap efektivitas program pembinaan yang selama ini dijalankan di Lapas Banyuwangi. Dengan adanya evaluasi berkala, pihak lapas dapat memastikan bahwa proses pembinaan berjalan sesuai tujuan pemasyarakatan, yakni membentuk warga binaan menjadi pribadi yang lebih baik, mandiri, dan siap kembali menjadi bagian dari masyarakat.

Program integrasi sendiri merupakan salah satu hak warga binaan yang diberikan secara bertahap sesuai ketentuan perundang-undangan. Namun demikian, pemberian hak tersebut tidak dilakukan secara otomatis, melainkan melalui proses penilaian yang ketat dan berjenjang guna memastikan warga binaan benar-benar telah memenuhi syarat.

Selama ini, Lapas Banyuwangi terus berkomitmen menghadirkan sistem pembinaan yang humanis dan berorientasi pada pemulihan sosial warga binaan. Berbagai program pembinaan kepribadian maupun kemandirian secara rutin diberikan sebagai bekal bagi warga binaan agar memiliki kesiapan mental, moral, dan keterampilan saat kembali ke lingkungan masyarakat.

Melalui pelaksanaan Sidang TPP ini, Lapas Banyuwangi berharap proses pembinaan dan pemberian hak integrasi dapat berjalan secara optimal serta tetap mengedepankan prinsip keadilan, akuntabilitas, dan keamanan. Dengan demikian, warga binaan yang nantinya kembali ke masyarakat diharapkan mampu menjalani kehidupan yang lebih baik serta tidak mengulangi pelanggaran hukum di kemudian hari.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bukti nyata komitmen Lapas Banyuwangi dalam menjalankan fungsi pemasyarakatan secara profesional, tidak hanya sebagai tempat menjalani pidana, tetapi juga sebagai wadah pembinaan dan pembentukan karakter bagi warga binaan menuju kehidupan yang lebih produktif dan bertanggung jawab.

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pembinaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), khususnya di bidang pendidikan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui langkah proaktif Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Binadik) Lapas Banyuwangi yang melakukan kunjungan koordinasi ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi pada Senin (11/05).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara Lapas Banyuwangi dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam penyelenggaraan program pendidikan non-formal bagi warga binaan. Pertemuan berlangsung hangat dan penuh semangat kolaboratif, dengan fokus utama membahas keberlanjutan kurikulum pendidikan, dukungan administratif, serta penguatan teknis pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di dalam lingkungan lapas.

Dalam pertemuan itu, pihak Lapas Banyuwangi menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu hak dasar warga binaan yang harus tetap dipenuhi meskipun sedang menjalani masa pidana. Oleh karena itu, keberadaan program pendidikan di dalam lapas menjadi sangat penting sebagai sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus bekal positif saat kembali ke tengah masyarakat.

Kasi Binadik Lapas Banyuwangi menyampaikan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam proses pembinaan dan pembentukan karakter warga binaan. Melalui pendidikan, warga binaan diharapkan tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu membangun pola pikir yang lebih baik, meningkatkan rasa percaya diri, dan memiliki keterampilan yang bermanfaat untuk masa depan.

“Pendidikan merupakan bagian penting dari proses pembinaan. Kami ingin memastikan warga binaan tetap memiliki kesempatan belajar dan memperoleh pendidikan yang layak sebagaimana masyarakat pada umumnya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh program pendidikan non-formal di dalam lapas berjalan sesuai standar yang berlaku. Dengan adanya dukungan dari Dinas Pendidikan, proses pembelajaran diharapkan dapat berlangsung lebih optimal dan berkelanjutan.

Program pendidikan non-formal yang selama ini berjalan di Lapas Banyuwangi mencakup berbagai jenjang, mulai dari paket kesetaraan hingga pembelajaran keterampilan dasar. Program tersebut menjadi salah satu bentuk nyata pembinaan kepribadian yang bertujuan menciptakan warga binaan yang produktif dan siap kembali beradaptasi di lingkungan sosial setelah bebas nantinya.

Sementara itu, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi menyambut baik langkah koordinasi yang dilakukan Lapas Banyuwangi. Mereka menyatakan kesiapan untuk terus mendukung penyelenggaraan pendidikan di dalam lapas agar seluruh warga binaan tetap mendapatkan hak pendidikan secara maksimal.

Menurutnya, pendidikan adalah hak seluruh warga negara tanpa terkecuali, termasuk bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana. Karena itu, kolaborasi lintas instansi dinilai menjadi kunci penting dalam menciptakan sistem pembinaan yang humanis dan berorientasi pada masa depan warga binaan.

Sinergi antara Lapas Banyuwangi dan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi ini diharapkan mampu menghadirkan sistem pembelajaran yang lebih efektif, terarah, dan berkelanjutan. Tidak hanya sebagai sarana transfer ilmu, pendidikan juga menjadi media pembentukan mental dan karakter positif bagi warga binaan.

Dengan adanya dukungan penuh dari berbagai pihak, Lapas Banyuwangi optimistis program pembinaan pendidikan akan terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi warga binaan. Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa pemasyarakatan modern tidak hanya berfokus pada aspek pengamanan, tetapi juga pada pemberdayaan dan peningkatan kualitas hidup warga binaan melalui pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

error: Content is protected !!