Mbah Semar: Tidak Semua Kekuatan Harus Ditunjukkan, Saatnya Tenang dan Saatnya Api Berbicara
BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial yang semakin keras, pesan tentang ketenangan, kesabaran, dan pengendalian diri kembali disampaikan oleh Selamet Solichin yang akrab disapa Mbah Semar. Melalui sebuah visual artistik yang menggambarkan sosok manusia dengan separuh wajah tertutup topeng api, Mbah Semar mengajak masyarakat memahami makna kekuatan yang sesungguhnya.
Menurutnya, banyak orang masih mengukur kekuatan dari seberapa lantang seseorang berbicara, seberapa besar pengaruh yang ditampilkan, atau seberapa keras seseorang merespons sebuah persoalan. Padahal, kekuatan sejati justru lahir dari kemampuan mengendalikan emosi, menjaga prinsip, dan tetap teguh dalam menghadapi berbagai tekanan.
“Tidak semua kekuatan harus ditunjukkan. Ada saatnya tetap tenang, dan ada waktunya api di dalam diri berbicara,” tegas Mbah Semar, Minggu (21/6).
Pernyataan tersebut muncul sebagai refleksi atas kondisi kehidupan saat ini yang kerap dipenuhi perdebatan, konflik kepentingan, hingga budaya saling menyerang di ruang publik maupun media sosial. Dalam situasi seperti itu, banyak orang terpancing untuk bereaksi secara emosional. Namun menurut Mbah Semar, tidak semua persoalan harus dijawab dengan kemarahan atau konfrontasi.
Visual yang menampilkan sosok pria berkacamata hitam dengan separuh wajah tertutup topeng lava menyala menjadi simbol kuat tentang dualitas karakter manusia. Satu sisi menggambarkan ketenangan, kebijaksanaan, dan kemampuan menahan diri. Di sisi lain, tersimpan keberanian, ketegasan, dan semangat juang yang siap muncul ketika kebenaran, kehormatan, atau kepentingan masyarakat harus dibela.
Mbah Semar menilai bahwa diam sering kali disalahartikan sebagai bentuk kelemahan. Padahal, dalam banyak keadaan, diam merupakan pilihan strategis yang lahir dari kedewasaan berpikir dan kemampuan membaca situasi.
“Orang yang terus-menerus menunjukkan kekuatannya belum tentu kuat. Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan dirinya saat diprovokasi justru menunjukkan kualitas kepemimpinan dan kematangan karakter yang sesungguhnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa api yang dimaksud bukanlah simbol kemarahan yang membabi buta, melainkan semangat perjuangan yang menyala untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
“Api yang sesungguhnya bukan api kemarahan yang membakar tanpa arah, melainkan api semangat yang menyala untuk menjaga kebenaran, keadilan, dan martabat,” tambahnya.
Pesan tersebut juga menjadi pengingat bahwa seseorang tidak perlu terus-menerus membuktikan siapa dirinya kepada publik. Integritas, rekam jejak, dan karya nyata akan berbicara lebih kuat daripada sekadar pencitraan atau klaim yang berulang-ulang disampaikan.
Di era digital yang serba cepat dan terbuka, filosofi yang disampaikan Mbah Semar dinilai relevan bagi semua kalangan. Bahwa ketenangan bukanlah tanda ketakutan, kesabaran bukanlah kelemahan, dan sikap diam bukan berarti kehilangan kemampuan untuk bertindak. Ada waktunya seseorang memilih menahan diri, dan ada waktunya menunjukkan ketegasan demi memperjuangkan apa yang diyakininya benar.
Melalui pesan tersebut, Mbah Semar mengajak masyarakat untuk membangun karakter yang seimbang antara keberanian dan kebijaksanaan. Sebab dalam setiap perjuangan, bukan hanya keberanian yang dibutuhkan, tetapi juga kecerdasan dalam menentukan kapan harus melangkah dan kapan harus menahan diri.
“Orang kuat bukan yang selalu terlihat garang. Orang kuat adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya, menjaga prinsipnya, dan tahu kapan saatnya api di dalam dirinya harus menyala,” pungkas Mbah Semar.
