Ketua Laskar Sakera Banyuwangi Soroti Praktik Penyuduhan Sambil Menikmati Kopi dan Rokok: “Tabayyun Harus Didahulukan daripada Prasangka”
BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Ketua Ormas Laskar Sakera Banyuwangi, Nurul Amin, menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena yang kerap terjadi di tengah masyarakat, yakni kebiasaan sebagian orang yang mudah melontarkan tuduhan, opini, maupun penilaian terhadap seseorang tanpa didukung bukti, data, dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Nurul Amin, perkembangan media sosial dan derasnya arus informasi saat ini telah membuka ruang yang sangat luas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga memunculkan budaya saling menuduh, menyebarkan dugaan, hingga membangun opini yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Dalam keterangannya pada Minggu (21/6), Nurul Amin mengutip sebuah untaian kalimat berbahasa Arab yang kerap digunakan dalam doa dan munajat:
> سَأَلْتُكَ بِالْإِسْمِ الْمُعَظَّمِ قَدْرُهُ
Sa’altuka bil ismil mu’adhdhomi qodruhu
Artinya: “Aku memohon kepada-Mu dengan nama-Mu yang agung dan mulia kedudukannya.”
> بِأَجٍّ أَهُوْجٍ جَلْجَلُوْتٍ هَلْهَلَتْ
Bi ajjin ahuujin jaljaluutin halhalat
Artinya: “Dengan rahasia kebesaran dan keagungan nama-nama-Mu yang luhur.”
Menurutnya, rangkaian doa tersebut mengandung pesan mendalam tentang pentingnya kerendahan hati, kehati-hatian dalam bertindak, serta menjaga lisan agar tidak menyakiti atau merugikan orang lain.
“Makna yang dapat kita ambil adalah bahwa sebelum berbicara tentang orang lain, apalagi sampai menuduh, seseorang seharusnya terlebih dahulu mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon petunjuk, dan memastikan bahwa apa yang disampaikan benar-benar berdasarkan fakta dan kebenaran,” ujarnya.
Nurul Amin menilai, salah satu persoalan yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah munculnya tuduhan yang dibangun hanya berdasarkan asumsi, prasangka, atau informasi sepihak. Padahal, tuduhan yang tidak didukung bukti dapat menimbulkan dampak serius, baik bagi individu maupun kehidupan sosial secara luas.
Ia menyoroti kebiasaan sebagian orang yang dengan mudah memberikan penilaian negatif terhadap pihak lain tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Bahkan, menurutnya, tidak sedikit tuduhan yang dilontarkan dalam suasana santai tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang dapat ditimbulkan.
“Jangan sampai seseorang dengan santainya menuduh orang lain hanya sambil menikmati kopi dan menghisap rokok, tanpa memiliki bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Tuduhan yang tidak berdasar bisa melukai kehormatan seseorang, merusak hubungan sosial, bahkan memicu konflik yang lebih besar,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nurul Amin mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam terdapat prinsip tabayyun, yaitu sikap melakukan klarifikasi dan verifikasi terhadap setiap informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya kepada pihak lain.
Menurutnya, nilai tabayyun sangat relevan diterapkan di era digital saat ini. Kecepatan penyebaran informasi melalui media sosial sering kali membuat masyarakat tergesa-gesa mengambil kesimpulan tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenaran informasi yang diterima.
“Kita harus membiasakan diri mencari kebenaran terlebih dahulu. Jangan mudah terprovokasi oleh isu, kabar burung, atau cerita yang belum jelas sumbernya. Jika ada persoalan, selesaikan dengan dialog dan klarifikasi, bukan dengan prasangka dan tuduhan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi. Namun, kebebasan tersebut harus dijalankan secara bertanggung jawab, beretika, dan tidak melanggar hak serta kehormatan orang lain.
Nurul Amin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun budaya komunikasi yang sehat, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, serta mengedepankan fakta dalam setiap kritik maupun perbedaan pandangan.
“Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun jika perbedaan itu diwarnai fitnah, prasangka, dan tuduhan tanpa dasar, maka yang lahir bukan solusi, melainkan perpecahan. Karena itu, mari kita biasakan berbicara berdasarkan data, fakta, dan kebenaran, bukan sekadar asumsi,” pungkasnya.
Melalui pesan tersebut, Nurul Amin berharap masyarakat semakin bijak dalam menyikapi informasi, menjaga etika dalam berkomunikasi, serta mengutamakan tabayyun sebagai jalan untuk menjaga persatuan, keharmonisan sosial, dan nilai-nilai persaudaraan di tengah kehidupan bermasyarakat.
