Sumantri Rio Utomo, Direktur Media Online: Kekuatan Jabatan Itu Rapuh, Tetapi Akhlak Akan Selalu Dikenang

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Di tengah dinamika kehidupan sosial, organisasi, pemerintahan, maupun dunia kerja, jabatan sering kali menjadi simbol kehormatan dan kekuasaan. Seseorang yang memiliki jabatan biasanya mendapatkan penghormatan, perhatian, bahkan pujian dari banyak pihak. Namun menurut Sumantri Rio Utomo, Direktur Media Online, ada satu hal penting yang harus dipahami oleh setiap pemegang amanah, yakni bahwa jabatan hanyalah titipan yang sifatnya sementara.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi. Hari ini seseorang berada di posisi tertinggi, tetapi esok hari bisa saja digantikan oleh orang lain. Hari ini namanya dielu-elukan, namun pada waktu yang berbeda mungkin tidak lagi menjadi pusat perhatian.

“Jabatan itu rapuh. Hari ini kita dipuji, besok bisa diganti. Hari ini dihormati karena posisi yang kita miliki, tetapi ketika jabatan berakhir, yang tersisa adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain selama memegang amanah tersebut,” ujar Rio.

Ia menegaskan bahwa menggantungkan harga diri pada jabatan merupakan kekeliruan yang sering terjadi. Sebab jabatan bukanlah ukuran kemuliaan seseorang, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada masyarakat maupun kepada Allah SWT.

Dalam perspektif Islam, lanjut Rio, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh pangkat, kekayaan, atau kedudukan sosial. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa.

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Nilai ketakwaan tersebut tercermin dalam akhlak yang baik, kejujuran, sikap rendah hati, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan menghormati orang lain tanpa memandang status dan kedudukan mereka.

Rio menilai bahwa banyak orang melupakan gelar dan jabatan seseorang seiring berjalannya waktu. Namun, mereka tidak akan pernah melupakan perlakuan baik yang pernah diterimanya. Sebaliknya, sikap arogan dan kesewenang-wenangan juga akan tetap dikenang meskipun jabatan telah lama berakhir.

“Yang paling kokoh bukanlah kursi yang kita duduki, melainkan akhlak yang kita tunjukkan. Jabatan bisa dicopot, kekuasaan bisa berakhir, fasilitas bisa hilang, tetapi kebaikan akan terus hidup dalam ingatan dan doa orang-orang yang pernah merasakannya,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap pemimpin dan pemegang amanah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan jabatan sebagai sarana pelayanan kepada masyarakat. Prinsip kepemimpinan yang baik bukanlah dilayani, melainkan melayani dengan penuh ketulusan dan rasa tanggung jawab.

Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Oleh karena itu, jabatan hendaknya dijadikan sebagai ladang amal dan pengabdian, bukan sarana untuk mencari penghormatan semata.

Menutup pernyataannya, Rio mengajak semua pihak untuk lebih fokus membangun karakter dan integritas daripada mengejar pengakuan yang bersifat sementara.

“Pada akhirnya, bukan seberapa tinggi jabatan yang pernah kita miliki yang akan dikenang oleh manusia, tetapi seberapa besar manfaat yang telah kita berikan. Kekuatan jabatan itu rapuh, tetapi akhlak yang baik, ketulusan dalam melayani, dan cara memperlakukan manusia dengan hormat adalah warisan yang tidak akan pernah bisa dicopot oleh siapa pun,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *