JAKARTA || Jejak-indonesia.id – Kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol. Drs. Listyo Sigit Prabowo M.Si., terus menuai sorotan positif di tengah upaya transformasi institusi Polri. Sebagai sosok yang lahir dari rahim keluarga besar ABRI (Anak Kolong) dan memiliki rekam jejak kuat di Divisi Propam, Jenderal Pol. Listyo Sigit dinilai sebagai Kapolri pertama yang paling berani melakukan perombakan besar-besaran demi menyelamatkan marwah institusi.
Ketegasan Jenderal Pol. Listyo Sigit terbukti tidak pandang bulu. Meski terhadap rekan sejawat atau lingkaran terdekat, ia tak segan memberikan sanksi keras. Bagi anggota yang terbukti melakukan pelanggaran berat, pilihannya hanya dua: Demosi (daftar hitam) atau membiarkan proses hukum berjalan hingga vonis maksimal, termasuk hukuman mati.
Ketegasan ini jugalah yang membuat berbagai kelompok yang merasa terganggu termasuk kelompok mafia kerap melontarkan kritik dan mendesak pergantian jabatan Kapolri. Namun, bagi publik yang memahami visinya, langkah Jenderal Pol. Listyo Sigit dianggap sebagai “bersih-bersih” wajib untuk menjaga integritas Merah Putih.
Salah satu bukti nyata integritasnya tercermin dalam sebuah kesaksian mengenai seorang perwira yang mencoba memanfaatkan kedekatan istrinya dengan Istri Kapolri untuk mendapatkan perlindungan atas sebuah kasus. Bukannya mendapat pembelaan, keesokan harinya Jenderal Pol. Listyo Sigit justru langsung memutasi perwira tersebut. Hal ini membuktikan bahwa faktor kedekatan personal tidak berlaku dalam kamus kepemimpinannya.
Jenderal Pol. Listyo Sigit diibaratkan sebagai “Jelmaan Dewa Arjuna” memiliki mata dan hati yang tajam. Siapa pun yang berani merusak nama baik korps Polri akan “disambar petir” lewat kebijakan tegasnya. Dengan latar belakang sebagai anak pejuang yang hidupnya didedikasikan untuk negara sejak kecil, muncul harapan besar agar Presiden Prabowo Subianto tetap mempertahankan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo untuk terus mengawal institusi Polri ke depan.