Pino Bahari Terbaring Kesakitan: Dari Panggung Asian Games ke Perjuangan Hidup yang Terlupakan

DENPASAR || Jejak-indonesia.id — Sebuah kabar pilu beredar luas di media sosial, diunggah oleh akun Facebook Cocomeo Cacamarica. Kabar itu bukan sekadar informasi biasa, melainkan potret getir tentang nasib seorang mantan atlet kebanggaan bangsa.

Nama Pino Bahari kembali disebut. Namun kali ini bukan karena prestasi, melainkan karena luka dan penderitaan. Petinju kelas menengah yang pernah mengharumkan nama Indonesia dengan meraih emas di Asian Games Beijing 1990, serta tampil di Olimpiade Barcelona 1992 dan Atlanta 1996, kini terbaring lemah.

Kecelakaan yang dialaminya pada 13 April 2026 di Denpasar, Bali, mengubah segalanya. Motor yang dikendarainya menjadi saksi awal dari derita panjang yang kini ia jalani. Patah engkel kaki kiri dan retak tulang rusuk kiri di empat bagian membuatnya tak berdaya. Rasa sakit tak hanya datang dari luka fisik, tetapi juga dari kenyataan hidup yang menghimpit.

Di balik nama besar yang pernah dielu-elukan, tersimpan realita pahit. Pino, putra dari pelatih tinju legendaris Daniel Bahari, kini harus bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan. Menjadi pengemudi ojek online, hingga membantu kegiatan tinju lokal dengan penghasilan yang jauh dari cukup.

Biaya operasi yang mencapai Rp200 juta menjadi tembok besar yang sulit ia lewati. Untuk sekadar memenuhi kebutuhan keluarga saja, ia sudah terseok-seok. Kini, di ranjang rumah sakit, ia hanya bisa menahan sakit sambil berharap ada tangan yang terulur.

Ironisnya, di tengah penderitaan itu, perhatian yang diharapkan tak kunjung datang. Nama Erick Thohir sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, serta Taufik Hidayat yang juga mantan Olympian, disebut-sebut tidak menunjukkan respons. Bahkan sekadar ucapan keprihatinan pun tak terdengar.

Lebih menyayat lagi, organisasi seperti Indonesian Olympian Association yang dipimpin Yayuk Basuki juga dinilai tidak bergerak. Padahal, organisasi tersebut pernah menerima dana sponsor miliaran rupiah—yang kini dipertanyakan keberadaannya.

Dalam sunyi dan sakit, kisah Pino menjadi cermin keras: bahwa kejayaan seorang atlet bisa begitu cepat dilupakan. Mereka yang dulu mengibarkan Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya, kini harus berjuang sendiri di masa sulit.

Seruan pun muncul, bahkan menyentuh ranah politik, dengan harapan agar Prabowo Subianto sebagai Presiden dapat mengevaluasi kepedulian terhadap nasib para atlet.

Kisah ini bukan hanya tentang satu orang. Ini tentang wajah olahraga Indonesia—tentang bagaimana para pejuang bangsa di arena pertandingan, perlahan menjadi bayang-bayang di negeri sendiri.

Dan di sebuah ruang rumah sakit, seorang mantan juara hanya bisa menahan sakit… sambil menunggu, apakah masih ada yang peduli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *