Jejak-indonesia.id || Kekuatan spiritual bangsa Iran menerima tantangan perang dengan Israel yang didukung Amerika Serikat, jauh lebih kuat memberi kekuatan serta motivasi menghadapi tantangan dalam mempertahankan martabat dan harga yang berbasis kemanusiaan yang bersifat ilahiah. Karenanya Israel dan Amerika Serikat akan menghadapi dilema kebatinan yang sulit diterima apalagi hendak diatasi dengan sikap dan cara yang culas. Tamak, rakus dengan segenap potensi buruk hanya untuk melenyapkan Iran dan menguasai sumber minyak seperti yang sudah dilakukan terhadap Venusuela dan negara lain yang telah masuk daftar pilihannya untuk dikuasai secara mutlak.
Karena itu, serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Republik Revolusi Islam Iran tidak bisa diterima dan patut dikecam, setidaknya karena tidak sesuai dengan dasar pokok pemikiran serta cita-cita bangsa Indonesia, seperti yang tertuang dalam UUD 1945, seb iniagai pedoman pokok dalam berbangsa dan bernegara. Jadi, kepentingan ekonomi dan politik untuk menguasai suatu negara dan bangsa dengan dalih apapun tidak hanya dianggap perilaku buruk dalam tatanan hukum ketatanegaraan, tapi juga dalam perspektif agama apapun tidak boleh dilakukan dan terlarang. Jika pun telah terjadi konflik, dialog dan diplomasi patut dilakukan untuk mencegah agar jangan sampai terjadi perang. Sehingga kedaulatan dan martabat pihak manapun tidak sampai direndahkan, akibat kekalahan dari perang tanding yang akan menguras banyak pikiran, harta benda yang merugikan semua pihak, utamanya rakyat yang terdampak dari perang yang mengumbar nafsu hewani yang abai pada nilai-nilai kemanusiaan.
Karena itu, kesadaran bersama untuk menghentikan perang seperti yang tengah melanda Timur Tengah — hingga kini semakin meluas — tak hanya sebatas Israel bersama Amerika Serikat melawan Iran, sebagai akibat dari pergeseran perang antara Israel melawan Palestina — segera akan dirasakan dampaknya oleh seluruh umat manusia di bumi. Maka itu, diplomasi spiritual global perlu segera diperankan oleh Indonesia — sebagai suatu bangsa dan negara yang patut bersikap netral — untuk memulihkan suasana damai seperti ruh yang terpelihara dalam konstitusi Indonesia.
Inspirasi untuk melakukan dialog — kendati sudah terlanjur terlambat — tetap diperlukan untuk segera meredakan suasana yang semakin menegang dan dapat menjadi ancaman manusia, lingkungan yang rusak serta rentuhnya nilai-nilai etika dan moral bersama segenap infrastruktur yang rusak dan runtuh seakan ditelan bumi.
Peran media sosial yang lebih efektif untuk membangun kesadaran bersama semua pihak — untuk tidak semakin memperuncing perseteruan antara semua pihak — dapat dilakukan dengan mekakukan seruan bersama — bangsa, negara, agama serta seluruh warga masyarakat dunia untuk menahan diri dan membuka ruang penyesalan yang jujur dan ikhlas untuk menyadari bahwa peperangan tidak akan lebih baik daripada membangun dan menjaga perdamaian untuk kemaslahatan bersama.
Arogansi Amerika Serikat memang pantas dikutuk, setidaknya telah menjadikan kawasan atau wilayah Timur Tengah menjadi Medan tempur yang telah menimbulkan banyak korban berjatuhan. Tak hanya di pihak mereka yang dianggap musuh, tapi juga dari pihak sekutu dan diri sendiri. Karena bagaimana pun — torehan luka yang telah menyayat hati bangsa Iran — tidak mungkin dapat dicegah — sebab semangat jihat fisabilillah merupakan dasar pijak dari sikap yang hanya tunduk kepada Allah SWT. Agaknya, begitulah perang terbuka yang diterima bangsa Iran — sebagai tantangan dari pihak Israel dan Amerika Serikat sebagai dalang dari peperangan yang sudah terjadi diberbagai negara lain — merupakan bukti dari perilaku Amerika Serikat yang melampaui batas. Tak hanya dalam arti teritorial semata, tapi juga hak asasi yang harus memiliki dan patuh pada etika, moral sebagai manusia maupun bangsa yang beradab.
Karena itu, sikap culas terhadap negara dan bangsa Iran yang merasa terzolimi tidak mungkin surut — sekalipun harus pupus sampai babak akhir dari dikalkulasi sang waktu yang akan menyatakan siapa sebagai pemenang. Kendati dalam perspektif spiritual serta peradaban manusia, semua pihak berada pada posisi dan kondisi yang kalah. Karena sejarah perjalanan hidup manusia terlanjur luka.
Banten, 4 Maret 2026