Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Sejarah dan Budaya » Halaman 2

Sejarah dan Budaya

IMG-20260506-WA0017

Adipati Joyodiningrat Kadilangu Demak Luruskan Sejarah Penjamasan Pusaka Sunan Kalijaga

DEMAK || Jejak-indonesia.id – Adipati Joyodiningrat Kadilangu Demak meluruskan sejarah tradisi penjamasan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga agar masyarakat tidak keliru memahami antara pakem sejarah, nilai spiritual, dan prosesi budaya yang berkembang saat ini.

Penegasan tersebut disampaikan di Kadilangu, Demak, Selasa (5/5/2026), sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam menjaga kemurnian sejarah warisan leluhur Sunan Kalijaga.

KoranProgresif
Menurut Adipati Joyodiningrat, penjamasan pusaka Sunan Kalijaga sejatinya merupakan tradisi sakral keluarga besar trah Kadilangu yang diwariskan secara turun-temurun, bukan semata seremoni budaya atau tontonan publik.

Tradisi ini sejak awal merupakan laku spiritual ahli waris dalam merawat pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, sekaligus bentuk penghormatan terhadap nilai dakwah, adab, dan ajaran leluhur yang diwariskan kepada generasi penerus.

Ia menegaskan, inti utama penjamasan berada pada prosesi sakral penyucian pusaka yang dilakukan ahli waris di lingkungan Kadilangu, khususnya terhadap dua pusaka utama yakni Kotang Ontokusumo dan Keris Kiai Carubuk.

Prosesi tersebut dilakukan dengan tata cara adat yang ketat, menggunakan minyak jamas khusus atau lisah sepuh yang diracik secara turun-temurun dan tidak dapat dipisahkan dari nilai spiritual yang menyertainya.

Adipati Joyodiningrat menjelaskan, masyarakat perlu memahami bahwa unsur iring-iringan, pisowanan, hingga simbol-simbol seremoni yang berkembang dalam rangkaian Grebeg Besar merupakan bentuk kemasan budaya yang tumbuh kemudian. Prosesi tersebut memang menjadi bagian penting dari pelestarian tradisi daerah, namun tidak boleh mengaburkan substansi sejarah asli penjamasan pusaka Sunan Kalijaga yang berakar pada ritual adat dan spiritual keluarga Kadilangu.

Menurutnya, pelurusan sejarah ini penting agar generasi muda tidak hanya mengenal penjamasan sebagai agenda budaya tahunan, tetapi juga memahami ruh dan makna yang terkandung di dalamnya.

Penjamasan bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur, penjagaan marwah sejarah, serta ikhtiar merawat warisan spiritual Sunan Kalijaga yang telah menjadi bagian penting dari peradaban Islam dan budaya Jawa di tanah Demak.

Adipati Joyodiningrat menegaskan, meluruskan sejarah bukan berarti menolak perkembangan budaya, melainkan menempatkan tradisi pada pijakan yang benar.

Sebab warisan Sunan Kalijaga bukan hanya untuk dikenang sebagai simbol kebesaran masa lalu, tetapi untuk dijaga nilai, makna, dan kehormatannya agar tetap tegak dalam sejarah, hidup dalam budaya, dan lestari dalam ingatan masyarakat.

PhotoGrid_Site_1775626557932

SEJARAH SINGKAT MBAH DEMANG TAMBAK YUDHO

SEJARAH SINGKAT MBAH DEMANG TAMBAK YUDHO || Nama aslinya adalah Tasnim, dilahirkan di desa Rujak Gaduk Kecamatan Kraton Kota Pasuruan Jawa Timur. Setelah dewasa kira-kira tahun 1790 M atau 1210 H beliau mempersunting gadis kota asal desa Pekuncen Pasuruan bernama Mardiyah.

Selang beberapa lama setelah menikah, orang yang bernama Tasnim konon kabarnya telah membunuh  salah seorang pembesar Belanda di salah satu pabrik di Pasuruan. Kemudian dia melarikan diri ke Tumpuk Wonorejo.  Karena merasa belum aman , beliau terus ke Purwosari.

Di Purwosaripun  karena merasa dirinya belum aman, beliau terus ke Lawang. Di Lawang inilah beliau merasa aman dan  merasa cocok karena hawanya yang sejuk. Beliau akhirnya mencari tempat tetapi tidak dalam kota, beliau mencari tempat yang agak jauh dari kota + 1,5 km dari kota yang dinamakan desa Paras sekarang ini. Di tempat ini  dirasa memenuhi syarat untuk bertempat tinggal karena  air jernih melimpah ruah. Mulailah beliau membuka hutan  belukar yang saat itu masih penuh binatang buas. Beliau membuka hutan sambil bercocok tanam.

Setelah membuka hutan agak luas maka diboyonglah ibu Mardiyah bersama dengan sanak keluarga dari pihak Tasnim dan Mardiyah, oleh karenanya satu desa itu masih saudara sampai sekarang kecuali pendatang baru. Setelah desa itu agak ramai  maka diangkatlah Tasnim tadi menjadi Kepala Desa. Untuk menghilangkan jejak nama Tasnim diganti menjadi Tasmin dan Mardiyah diganti menjadi  Marijah.

Setelah kecurigaan Belanda sudah hilang dan sudah nampak kecakapan Tasmin tadi maka diangkatlah beliau oleh Bupati Bangil menjadi Demang untuk menguasai juga beberapa desa sekitarnya dan namanya diberi julukan Demang Tambak Yudo. Oleh keturunannya cukup disebut Mbah Demang Tambak. Kemudian Mbah Demang Tambak  mempunyai keturunan 9 orang, 5 laki-laki dan 4 perempuan yaitu :

1.    Harun (L)

2.    Padmi alias Demi (P)

3.    Aminah (P)

4.    Ali (L)

5.    Abdul Karim alias Imam Hanafi (L)

6.    Masmirah alias Irah (P)

7.    Tasrin (L)

8.    Tarub (L)

9.    Sriyati (P)

Dari ke sembilan anak beliau ini keturunannya berkembang  banyak sampai saat ini dan  bergabung dalam satu ikatan keluarga yaitu  Keluarga Besar Mbah Demang Tambak.

IMG-20260331-WA0034

Puter Kayun, Salah Satu Tradisi Unik Warga Banyuwangi di Bulan Syawal

BANYUWANGI  || Jejak-indonesia.id – Banyuwangi dikenal dengan beragam tradisinya. Salah satunya Ritual Puter Kayun yang dilestarikan oleh warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Banyuwangi di setiap 10 Syawal.

Puter kayun adalah ritual menepati janji warga Boyolangu kepada para leluhur yang telah berjasa membuka jalan di kawasan utara Banyuwangi. Mereka melakukan napak tilas dengan menaiki dokar (delman) hias dari Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol.

Pagi itu, dua buah dokar telah dihias dengan megah sebagai simbol ritual adat Puter Kayun. Kusir yang akan membawanya melakukan napak tilas juga telah siap di sisi dokar, salah satunya adalah Abdul Mufid (65). Dia adalah salah satu kusir delman yang masih bertahan dengan profesinya.

“Saya sudah menjadikusir sejak tahun 1971. Setiap tahun selalu mengikuti tradisi Puter Kayun bersama-sama warga disini. Karena pada tradisi ini yang terpenting adalah napak tilasnya,” ujarnya.

Ketua Panitia Puter Kayun sekaligus tokoh pemuda Boyolangu Risyal Alfani tradisi ini terus digelar sebagai napak tilas jejak Ki Buyut Jakso, leluhur warga Boyolangu yang dipercaya sebagai orang yang pertama kali membangun jalan di kawasan utara Banyuwangi.

"Konon, saat membuka jalan di sebelah utara, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso karena bagian utara ada gundukan gunung yang tidak bisa dibongkar. Ki Jakso lalu bersemedi dan tinggal di Gunung Silangu yang sekarang jadi Boyolangu. Atas kesaktiannya, akhirnya dia bisa membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu Dodol, yang artinya watu didodol (dibongkar)," kisah Risyal.

Sejak itu, lanjut Risyal, Ki Buyut Jakso berpesan agar anak cucu keturunannya harus berkunjung ke Pantai Watu Dodol untuk melakukan napak tilas apa yang telah dilakukannya.

"Karena saat itu hampir semua masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka mengendarai dokar untuk napak tilasnya,” ungkapnya.

Namun pada tahun ini, kuda yang biasanya melakukan napak tilas ke Pantai Watudodol hanya berputar di wilayah kota saja. Mengingat, jalan menuju kawasan Pantai Watudodol macet akibat antrian kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang.

Salah satu warga bercerita yang biasanya berbondong-bondong mengiringi kuda naik kendaraan roda 4, terpaksa beralih ke motor roda 2 untuk menembus macet.

“Banyuwangi berkomitmen untuk mengangkat dan melestarikan tradisi lokal masyarakat, termasuk tradisi Puter Kayun Boyolangu ini. Selain untuk menjaga tradisi dan ritual yang ada, tradisi ini juga bagian dari atraksi wisata di Banyuwangi,” kata Plt Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Hartono.

Sebelum pelaksanaan Puter Kayun, warga Boyolangu menggelar sejumlah rangkaian acara yang dikemas dalam Boyolangu Tradistional Culture. Diawali pada tanggal 7 Syawal dengan Lebaran Kopat dengan acara selamatan yang diakhiri makan kopat oleh segenap warga. Selanjutnya di 9 Syawal digelar Tradisi Kebo-keboan. (*)

IMG-20260310-WA0068

Banyuwangi, Surga Alam di Ujung Timur Jawa Yang Eksotis

Banyuwangi, Jejak - Indonesia.id || Kabupaten Banyuwangi di ujung timur Pulau Jawa selama satu dekade terakhir kerap disebut sebagai salah satu daerah dengan perkembangan pariwisata paling pesat di Indonesia. Keindahan alamnya yang beragam, mulai dari pegunungan hingga pesisir selatan yang eksotis, menjadikan daerah ini magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Salah satu ikon alam Banyuwangi adalah Gunung Ijen yang terkenal dengan fenomena api biru atau blue fire. Fenomena langka tersebut menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata alam paling unik di dunia. Ribuan wisatawan setiap tahun mendaki kawahnya untuk menyaksikan keajaiban alam tersebut.

Tak jauh dari sana, kawasan Taman Nasional Alas Purwo menawarkan bentang hutan tropis yang masih relatif terjaga. Kawasan konservasi ini juga dikenal sebagai habitat berbagai satwa liar sekaligus menjadi destinasi wisata alam dan spiritual bagi sebagian masyarakat.

Di pesisir selatan, panorama Pantai Pulau Merah menjadi salah satu ikon pariwisata. Pantai dengan pasir kemerahan ini populer di kalangan peselancar dan wisatawan yang mencari suasana pantai yang alami.

Pembangunan dan Transformasi Daerah

Perubahan wajah Banyuwangi tidak lepas dari kebijakan pembangunan yang mendorong sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta digitalisasi pelayanan publik. Pada masa kepemimpinan mantan bupati Abdullah Azwar Anas, Banyuwangi dikenal aktif mempromosikan berbagai festival budaya dan inovasi pelayanan publik.

Strategi tersebut berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan serta menggerakkan sektor ekonomi lokal, mulai dari usaha kecil, penginapan, hingga industri kreatif masyarakat.

Namun, pembangunan daerah tentu tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan investasi, berbagai isu juga muncul di ruang publik, mulai dari persoalan tata ruang, konflik lahan, hingga aktivitas ekonomi yang menuai sorotan.

Tambang dan Catatan Lingkungan

Di balik keindahan alamnya, Banyuwangi juga menyimpan cerita lain yang tak jarang menjadi perbincangan masyarakat, yakni aktivitas pertambangan. Salah satu yang paling dikenal adalah kawasan Tambang Emas Tumpang Pitu di wilayah selatan Banyuwangi.

Tambang tersebut telah lama menjadi perdebatan antara kepentingan investasi, pembangunan daerah, dan kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap dampak lingkungan.

Selain aktivitas pertambangan berskala besar, warga juga kerap menyoroti keberadaan tambang-tambang kecil yang diduga beroperasi tanpa izin resmi di sejumlah wilayah. Isu tambang ilegal ini sering muncul dalam percakapan masyarakat, terutama terkait dampak lingkungan dan penegakan hukum.

Pengamat lingkungan menilai bahwa pengawasan terhadap aktivitas pertambangan perlu terus diperkuat agar tidak merusak ekosistem yang menjadi kekuatan utama Banyuwangi sebagai daerah pariwisata.

Dinamika Hukum dan Sosial

Sebagai daerah yang berkembang pesat, Banyuwangi juga tidak lepas dari berbagai dinamika sosial dan hukum. Sejumlah kasus hukum, polemik kebijakan, hingga kritik masyarakat terhadap kebijakan pemerintah daerah sesekali menjadi sorotan media.

Dalam konteks demokrasi lokal, kritik dan pengawasan publik menjadi bagian penting agar pembangunan berjalan transparan dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

Aktivis sosial di Banyuwangi menilai bahwa pembangunan ekonomi harus tetap menjaga keseimbangan antara investasi, kelestarian lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat lokal.

Banyuwangi dan Harapan ke Depan

Dengan kekayaan alam yang dimiliki, Banyuwangi memiliki modal besar untuk terus berkembang sebagai daerah pariwisata unggulan. Keindahan alam, budaya Osing yang masih terjaga, serta potensi ekonomi kreatif menjadikan daerah ini memiliki masa depan yang menjanjikan.

Namun, seperti banyak daerah berkembang lainnya, Banyuwangi juga dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara pembangunan, investasi, penegakan hukum, dan kelestarian alam.

Pada akhirnya, di balik segala dinamika tersebut, Banyuwangi tetap dikenal sebagai daerah dengan pesona alam luar biasa, sebuah wilayah di ujung timur Jawa yang terus berbenah, menjaga citra bahwa Banyuwangi adalah daerah yang maju, terbuka, dan tetap berpijak pada kekuatan alam serta masyarakatnya. (Sober)

IMG-20260223-WA0008

Banyuwangi Attractions 2026, Cara Banyuwangi Konsolidasi Warga dan Kuatkan Identitas Daerah

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Kabupaten Banyuwangi telah dikenal dengan keanekaragaman seni dan budaya daerahnya. Untuk menguatkan seni budaya dan tradisi warga yang telah mengakar kuat, Banyuwangi menghadirkan “Banyuwangi Attractions 2026”.

Banyuwangi Attraction berisi 86 atraksi yang sebagian besar adalah event seni budaya Banyuwangi yang telah menjadi tradisi masyarakat Banyuwangi. Sebut saja Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Seblang, Kebo Keboan yang merupakan tradisi masyarakat setempat.

“Banyuwangi Attraction salah satu cara Banyuwangi menguatkan identitas lokal daerah, serta ajang konsolidasi warga. Ini sesuai dengan program Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) dari Presiden Prabowo. Di mana ASRI mengamanatkan agar setiap daerah menguatkan seni budaya daerah yang memperkaya budaya nasional,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Sabtu (21/2/2026).

Banyuwangi sendiri telah meluncurkan Banyuwangi ASRI untuk mengakselerasi program Indonesia ASRI. Di mana dalam komponen Indah, Banyuwangi mengimplementasikannya dalam program pembangunan pariwisata yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan berbasis kearifan lokal. Salah satunya lewat Banyuwangi Atrractions.

“Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang kaya tradisi, seni pertunjukan budaya. Namun, budaya tidak cukup hanya diwariskan—ia harus dirawat, dipentaskan, dan dibanggakan,”kata Ipuk.

Menurut Ipuk, Banyuwangi Attractions adalah panggung besar yang menyatukan budaya, olahraga, pariwisata, dan semangat kebersamaan

“Event-event ini bukan sekadar tontonan, tetapi ruang ekspresi bagi seniman lokal, generasi muda, dan pelaku ekonomi kreatif. Atraksi yang dikemas apik ini menjadi cara kami menguatkan identitas budaya sekaligus memastikan tradisi tetap hidup dan relevan dengan zaman,” imbuhnya.

Atraksi yang bakal disuguhkan dalam Banyuwangi Attractions 2026 antara lain Tumpeng Sewu, Barong Ider Bumi, Gandrung Sewu (24 Oktober). Seblang Olehsari (23-29 Maret), Kebo-Keboan Alasmalang (28 Juni), dan Petik Laut Muncar (10 Juli).

Bagi pecinta olahraga juga bakal dapat sajian event yang bakal memacu adrenalin. Bagi penghobi sepeda ada Banyuwangi BMX Super Cross (27 Juni) dan Banyuwangi Ijen Geopark Downhill (19-20 September).

Selain olahraga sepeda, bagi pecinta olahraga lainnya juga bakal dimanjakan dengan event lainnya. Pecinta lari bakal disuguhi keindahan trek hijau nan eksotis pada Ijen Green Run/ Trail 2026 di tanggal 12 September.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono menjelaskan Banyuwangi Attractions bukan sekadar wisata, melainkan strategi pembangunan daerah. Ia menguatkan budaya, menggerakkan ekonomi, membangun citra positif daerah, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.

“Kami percaya, ketika budaya dijaga, olahraga digerakkan, dan lingkungan dirawat, maka pembangunan akan berjalan lebih berkelanjutan dan inklusif,” kata Hartono. (*)

error: Content is protected !!