SITUBONDO || Jejak-indonesia.id — Di tengah kehidupan sosial yang kerap dipenuhi kepentingan, keberanian untuk tetap berdiri pada prinsip menjadi pilihan yang tidak semua orang sanggup ambil. Bagi Ketua Umum LSM Siti Jenar, Eko Febrianto, kebenaran tidak membutuhkan kerumunan untuk membuktikan dirinya. From Besuki, Situbondo, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026).
Eko Febrianto merupakan putra Besuki yang dikenal sebagai aktivis yang berani dan tegas dalam menyuarakan kepentingan masyarakat. Sikap kritisnya juga tercermin dari komitmennya dalam mendorong upaya pemberantasan korupsi serta mengawal persoalan yang berkaitan dengan kepentingan publik.
Baginya, lebih baik berdiri sendiri dengan kebenaran daripada beramai-ramai berdiri di atas kebohongan dan kemunafikan. Sebab, kebenaran tidak pernah membutuhkan banyak pendukung untuk tetap menjadi benar.
“Sejak awal saya paham, kebenaran tidak membutuhkan kerumunan untuk menjadi benar. Saya tidak mencari banyak teman hanya untuk merasa kuat, sebab kebersamaan yang dibangun di atas kepentingan hanyalah aliansi sementara.”
Menurutnya, kebohongan memang gemar bergerombol. Keramaian terkadang digunakan untuk saling menguatkan cerita, menutupi kesalahan, dan menciptakan panggung seolah-olah berada di pihak yang benar.
“Para pengecut membutuhkan keramaian untuk saling menguatkan cerita, menutupi kesalahan, dan menciptakan panggung seolah-olah mereka berada di pihak yang benar.”
Ia menegaskan, dirinya tidak takut berjalan sendirian ketika harus mempertahankan prinsip. Baginya, kehilangan teman karena memperjuangkan kebenaran jauh lebih terhormat daripada mempertahankan pertemanan dengan menggadaikan prinsip.
“Saya sama sekali tidak takut sendirian. Sebab bagi saya, kehilangan teman karena mempertahankan kebenaran jauh lebih terhormat daripada mempertahankan pertemanan dengan menggadaikan prinsip yang sudah tertanam sejak saya dilahirkan.”
Sikap tersebut menjadi gambaran bahwa keberanian seorang aktivis bukan diukur dari seberapa banyak orang yang berdiri di belakangnya, melainkan dari seberapa kuat ia mempertahankan prinsip ketika berhadapan dengan tekanan.
Sebab, tidak semua yang ramai adalah benar. Dan tidak semua orang yang berdiri sendirian berarti kalah. Terkadang, suara yang paling lantang justru datang dari mereka yang berani berdiri sendiri ketika yang lain memilih diam.
“Wassalam dan selamat sore menjelang petang,” tutup Eko Febrianto dengan nada tegas.
(Wan)
