LABUAN BAJO || Jejak-indonesia.id – Panggilan tugas seringkali datang tanpa mengetuk pintu. Hal itulah yang dialami oleh Analis Kebijakan Madya Bidang Penmas Divhumas Polri, Kombes Pol. Dr. Bayu Suseno, S.H., S.I.K., M.M., M.H. Pengalamannya memimpin Satuan Tugas Humas Operasi (Satgas Humas Ops) Aman Nusa II Penanggulangan Bencana di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi lembaran cerita yang takkan pernah ia lupakan.
Di hadapan awak media di Lapangan Mapolres Manggarai Barat, Senin (31/8), Kombes Pol. Bayu Suseno menceritakan awal mula dirinya dipanggil bertugas. Pada sore hari tanggal 15 Agustus 2026, ia sedang asyik berolahraga lari di kawasan Depok ketika ponselnya tiba-tiba berdering dari pimpinan tertinggi Divisi Humas Polri.
“Saya angkat, ‘Siap Jenderal, ada perintah.’ Beliau bertanya hanya satu, ‘Bayu kamu di mana?’ Saya jawab sedang di Depok. Beliau langsung bilang, ‘Ah, kamu dekat sama Jakarta. Dua jam kita ketemu di bandara.’ Waktu itu saya sama sekali tidak tahu ada kejadian apa,” kenang Kombes Pol. Bayu Suseno sambil tersenyum.
Perintah detil baru ia terima saat perjalanan kilat menuju bandara. Kombes Pol. Bayu Suseno diminta membawa perbekalan pakaian lengkap untuk tujuh hari. Sesampainya di bandara, barulah selembar surat perintah resmi mendarat di tangannya: ia harus segera terbang ke Labuan Bajo untuk memimpin satgas humas penanganan bencana gempa.
Malam itu juga, dengan menggunakan pesawat charter Batik Air, Kombes Pol. Bayu Suseno bersama tim humas bersanding dengan pasukan Korps Brimob Polri menembus langit menuju NTT. Tidak sendiri, Satgas Humas juga memboyong jurnalis dari sejumlah media nasional asal Jakarta seperti Metro TV, Kumparan, dan Detik untuk memastikan akurasi informasi dari lokasi bencana tersebar cepat ke masyarakat.
Menembus Keterbatasan di Posko Pengungsian Riung
Setibanya di Labuan Bajo, tim tidak mengambil waktu lama untuk beristirahat. Pada hari Senin, mereka langsung bergeser ke wilayah Riung, salah satu titik terdampak parah yang menampung sekitar 1.400 jiwa pengungsi.
Kombes Pol. Bayu Suseno menyaksikan langsung bagaimana potret pilu sekaligus ketangguhan warga di masa-masa awal pascabencana.
“Waktu itu pengungsi terbanyak ada sekitar 1.400 orang. Dengan segala keterbatasannya, ada yang tidur di gedung SMP, di teras, hingga mendirikan tenda seadanya dengan terpal,” ungkapnya. Keterbatasan logistik juga sempat dialami oleh personel Polri di lapangan, namun hal itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus melayani.
Kondisi tersebut berangsur membaik setelah Kapolri bersama komisi terkait melakukan peninjauan langsung (on the spot) guna mempercepat pemenuhan fasilitas penunjang di posko pengungsian.
Kagumi Mental Baja dan Keramahan Warga Flores
Lebih dari sekadar menjalankan tugas kedinasan, agenda kemanusiaan ini memberikan kesan mendalam bagi Kombes Pol. Bayu Suseno, khususnya mengenai ketahanan mental masyarakat NTT yang luar biasa.
“Mereka memiliki ketahanan mental yang hebat. Meski dirundung bencana, warga tetap bertahan hidup dan beraktivitas normal. Hal ini membuat tugas kami saat melakukan trauma healing menjadi jauh lebih mudah. Anak-anak di pengungsian pun menyambut kami dengan gembira,” jelas Kombes Pol. Bayu Suseno.
Selain mental yang tangguh, keramahan dan semangat gotong royong warga Flores di tengah krisis air bersih menjadi catatan tersendiri yang menyentuh hati sang Kombes.
Baginya, Flores bukan hanya menyimpan potensi alam dan pariwisata yang luar biasa menakjubkan, tetapi juga menyimpan kehangatan manusia yang selalu optimistis untuk bangkit dari masa sulit.
(Rezha LDD)
