CIREBON || Jejak-indonesia.id – Sosok Ibu Ketum kembali menjadi perhatian. Bukan karena gemerlap jabatan maupun latar belakang keluarganya, melainkan karena sikapnya yang dikenal ramah, santun dan penuh tata krama ketika berinteraksi dengan orang lain.
Pertanyaan itu bahkan muncul dari warga Cirebon kepada Ketua Umum Fast Respon, Agus Flores.
“Kenapa Ibu Ketum orangnya baik dan cara bicaranya penuh dengan tata krama?” demikian pertanyaan yang disampaikan warga tersebut kepada Agus.
Agus pun menjawab dengan mengaitkan karakter Ibu Ketum dengan pola pendidikan serta nilai-nilai yang ditanamkan keluarganya sejak kecil.
Menurut Agus, Ibu Ketum tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi kejujuran, pendidikan, pengabdian dan kesederhanaan. Orangtuanya disebut pernah mengemban tugas di Bandara Djalaludin Gorontalo, sementara sejumlah anggota keluarganya memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan berstatus sebagai aparatur sipil negara.
“Karena Ibu Ketum lahir dari keluarga yang baik. Orangtuanya mengajarkan kejujuran, tata krama dan budi pekerti,” ujar Agus.
Ia menilai karakter seseorang tidak hanya terbentuk dari status sosial maupun jabatan, tetapi terutama dari nilai yang ditanamkan keluarga sejak seseorang masih berada di lingkungan rumah.
Menurut Agus, meski berasal dari keluarga yang cukup terpandang, Ibu Ketum justru dikenal tidak menunjukkan sikap sombong. Kepada anggota maupun orang-orang yang ditemuinya, ia disebut tetap mengedepankan keramahan dan penghormatan.
“Walaupun keluarganya terpandang, hidupnya tidak pernah sombong. Lihat saja orangtuanya, tidak pernah merasa harus menunjukkan kekayaan. Karena bagi orangtuanya, semua yang dimiliki pada akhirnya akan kembali kepada tanah,” tutur Agus.
Hal lain yang disorot Agus adalah suasana religius yang telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga tersebut selama puluhan tahun.
Ia menyebut, rumah keluarga Ibu Ketum selama bertahun-tahun diwarnai kegiatan pengajian. Lingkungan tersebut, menurutnya, turut membentuk kebiasaan, sikap dan cara pandang anggota keluarga dalam menjalani kehidupan.
“Di rumah itu sudah berpuluh-puluh tahun setiap hari ada pengajian. Insyaallah selalu diberkahi,” katanya.
Tradisi berbagi juga disebut menjadi bagian dari kehidupan keluarga tersebut. Agus menuturkan, sedekah dan kepedulian terhadap sesama terus dijaga, termasuk kebiasaan berbagi pada Jumat pagi.
Bagi Agus, kisah tersebut bukan sekadar mengenai latar belakang sebuah keluarga. Lebih jauh, ia melihatnya sebagai gambaran bagaimana pendidikan keluarga, keteladanan orangtua, lingkungan religius dan kebiasaan berbuat baik dapat membentuk karakter seseorang.
“Kalau sejak kecil dibiasakan jujur, menghormati orang lain, mengaji dan berbagi, insyaallah itu akan terbawa dalam kehidupan,” ungkapnya.
Agus pun menegaskan, ukuran kemuliaan seseorang bukan semata-mata berasal dari pangkat, jabatan atau latar belakang keluarga. Justru sikap rendah hati dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain menjadi bagian penting yang menunjukkan karakter pribadi.
“Yang penting bukan seberapa tinggi kedudukan keluarga, tetapi bagaimana nilai-nilai itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Agus.

