PASURUAN || Jejak-indonesia.id — Ketidakhadiran jajaran Pemerintah Kota Pasuruan pada acara penutupan sekaligus penyerahan penghargaan Kejuaraan Pencak Silat Piala Madinah Van Java II tahun 2026 di GOR Untung Suropati, Minggu (20/9/2026), memicu sorotan tajam dari kalangan dewan perwakilan rakyat daerah.
Anggota Komisi II DPRD Kota Pasuruan dari Fraksi PKB, Bahruddin, menyampaikan kritik tersebut secara terbuka saat turut menyerahkan penghargaan kepada para pemenang. Kejuaraan ini diikuti puluhan kontingen dari berbagai wilayah di Jawa Timur.
Dari atas mimbar acara, Bahruddin mempertanyakan absennya perwakilan pemerintah daerah dalam agenda penutupan yang dinilai strategis ini.
“Dispora mboten rawuh nggeh? Pemkote nggeh mboten rawuh? Perwakilan Pemkot nggeh boten enten? Waduh…. Gak bahaya tha acara silat, perwakilan Pemkot mboten enten seng rawuh, gak bahaya tha…!!!” ujar Bahruddin yang disambut perhatian dan respons penonton.
Piala Madinah Van Java II merupakan agenda pembinaan olahraga pencak silat yang melibatkan ratusan atlet dari berbagai daerah di Jawa Timur. Ajang ini berlangsung sejak Jumat hingga Minggu, 18–20 September 2026, dan diikuti sekitar 600 pesilat dari 50 kontingen.
Pada upacara pembukaan, Wali Kota Pasuruan dr. H. Adi Wibowo tercatat hadir didampingi Ketua DPRD Kota Pasuruan H. Toyib serta Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Pasuruan H. Farid Misbah. Saat itu, Wali Kota menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar urusan prestasi, melainkan sarana pembentukan karakter pemuda yang meliputi kedisiplinan, keberanian, tanggung jawab, dan semangat keolahragaan.
Namun pada penutupan dan penyerahan penghargaan, baik Wali Kota maupun perwakilan jajaran pemerintah daerah tidak tampak hadir.
Meski menyampaikan kritik, Bahruddin tetap memberikan apresiasi tinggi kepada Ketua Umum IPSI Kota Pasuruan H. Farid Misbah beserta segenap pengurus, pelatih, perguruan, dan para atlet yang dinilai konsisten memajukan pencak silat di daerah ini. Ia menegaskan bahwa kerja keras mereka layak mendapat perhatian dan dukungan menyeluruh dari seluruh pemangku kepentingan.
Sementara itu, Farid Misbah menyampaikan bahwa kejuaraan ini bukan sekadar ajang perebutan gelar juara, melainkan sarana pengalaman bertanding sekaligus pengukuran kesiapan teknik dan mental para pesilat.
“Latihan saja tidak cukup. Para atlet memerlukan pertandingan untuk menguji kemampuan dan kematangan mental menghadapi lawan,” ujar Farid. Ia berharap ajang ini menjadi langkah awal regenerasi pesilat Kota Pasuruan yang mampu berprestasi di tingkat yang lebih tinggi.
Pernyataan yang disampaikan Bahruddin seolah menjadi peringatan bagi kepemimpinan daerah. Di tengah dinamika politik yang mulai mengarah pada agenda mendatang, mengabaikan potensi atlet serta simpul-simpul massa olahraga budaya dikhawatirkan dapat menggerus kepercayaan dan dukungan masyarakat terhadap pemerintah daerah.

