We're open Closes at 5:00 pm

Hadiri Pelantikan LPPNU Banyuwangi, Sonny T. Danaparamita Bawa Bantuan 1.000 Bibit dan Bicara Sinergi Nasionalis-Nahdliyin

1786614919209

​BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T. Danaparamita, S.H., M.H., menghadiri pelantikan Pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Banyuwangi masa khidmat 2026–2030. Acara ini digelar di Yayasan Roudlotul Huda, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Rabu (12/8/2026).

​Kegiatan yang mengusung tema “Menghijaukan Bumi, Memperkuat Ketahanan Pangan: Khidmah LPPNU untuk Banyuwangi” ini turut dihadiri Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi KH. Achmad Khosim, Ketua Tanfidziyah PCNU H. Achmad Turmudzi, serta jajaran pengurus MWC NU, kelompok tani, dan masyarakat setempat. Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Yusuf, S.Pd.I dan Syaiful Nor Hakim, S.Pd. resmi dilantik sebagai Ketua dan Sekretaris LPPNU Banyuwangi.

​Ada momen menarik setibanya Sonny di lokasi acara. Panitia awalnya mengarahkan mobil wakil rakyat dari Dapil Jatim III itu agar parkir hingga mendekati panggung. Namun, Sonny menolaknya dengan halus. Ia memilih turun lebih jauh dan berjalan kaki menuju area majelis.

​”Saya merasa kurang adab kalau mobil saya harus berhenti hanya beberapa meter dari panggung tempat para kiai dan tokoh NU duduk. Ini bentuk tawadhu’ saya. Kalau dari mobil saya tidak merangkak, tapi jalan kaki, ya karena agar tidak kotor. Karena An-Nazhafatu Minal Iman (kebersihan sebagian dari iman),” kelakar Sonny yang langsung disambut tawa hangat para hadirin.

​Sikap rendah hati itu menjadi pembuka sambutannya. Meski mengaku bukan jebolan pondok pesantren, mantan Sekjen GMNI ini menegaskan ikhtiarnya untuk terus menghidupi karakter santri. Ia mengutip dawuh KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), bahwa santri tidak terbatas pada mereka yang mondok. Ruh seorang santri ada pada sikap tawadhu’, moderat, cinta tanah air, dan pembelajar sepanjang hayat (thalabul ‘ilmi).

​Sebagai wujud thalabul ‘ilmi, Sonny mengungkapkan bahwa dirinya saat ini masih terus belajar dan tengah merampungkan studi S3, berpedoman pada prinsip Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru.

 

*​Satu Napas Perjuangan Membela Rakyat Kecil*

​Dalam orasinya, Sonny menyoroti kuatnya titik temu perjuangan antara kelompok nasionalis dan Nahdliyin di akar rumput.

​”Kalau yang njenengan perjuangkan di NU ini biasa disebut kaum mustadhafin (golongan yang dilemahkan), di kami mengistilahkannya kaum marhaen. Dua diksi tersebut hakikatnya memiliki makna yang sama. Menurut Bung Karno—Presiden RI pertama yang oleh para ulama NU diberi gelar Waliyul Amri Ad-Dharuri bis-Syaukah—kaum marhaen pada dasarnya adalah masyarakat yang dimiskinkan oleh sistem yang menindas,” papar tokoh kelahiran Banyuwangi ini.

​Kedekatan sejarah kaum nasionalis dan santri ini, lanjut Sonny, terus terawat hingga kini. Ia mencontohkan lahirnya Hari Santri Nasional yang diinisiasi oleh dua tokoh alumni GMNI, yakni KH. Thoriq bin Ziyad (Pengasuh Ponpes Babussalam Malang) dan Dr. Achmad Basarah (DPP PDI Perjuangan/Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI).

​”Dari dorongan dua tokoh inilah lahir kontrak politik pada Pemilu 2014 yang berujung pada penetapan Keppres Hari Santri. Kehadiran saya di sini adalah wujud menjaga soliditas sesama syubbanul wathon yang akan bergerak bersama,” tegasnya.

 

*​Aksi Nyata untuk Petani Banyuwangi*

​Komitmen kolaborasi itu langsung dibuktikan lewat aksi nyata. Sejalan dengan pesan Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi yang meminta agar LPPNU rajin turba (turun ke bawah) dan mencari solusi persoalan petani, Sonny datang membawa 1.000 bibit tanaman produktif hasil sinergi dengan Kementerian Kehutanan melalui BPDAS.

​Bantuan bibit berupa alpukat dan durian jenis okulasi itu diserahkan kepada masyarakat. Sebanyak 500 bibit ditanam dan diserahkan secara simbolis pada acara tersebut, sementara 500 sisanya akan didistribusikan bertahap melalui LPPNU di tingkat MWC NU.

​Merespons Ketua LPPNU Banyuwangi, Muhammad Yusuf, yang berencana menyalurkan bantuan tiga alat pertanian untuk MWC NU Songgon, Singojuruh, dan Kabat pada Oktober mendatang, Anggota Komisi IV DPR RI ini menyatakan kesiapannya untuk terus memberikan dukungan.

​”Menyambut ajakan Ketua LPPNU tadi, Insyaallah, saya siap berkolaborasi penuh. Mari kita dampingi petani kita demi terwujudnya masyarakat yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur, yang dalam bahasa konstitusi kita adalah terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Sonny.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!