Sorry, we're closed Opens today at 9:00 am
Beranda » Peninggalan Lingga & Makam Leluhur: Bukti Sejarah yang Tersembunyi di Selogiri

Peninggalan Lingga & Makam Leluhur: Bukti Sejarah yang Tersembunyi di Selogiri

0
IMG-20260805-WA0010

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Menyusuri jejak masa lalu yang nyaris terlupakan, Tim Info Warga Banyuwangi (IWB) melakukan napak tilas ke sejumlah lokasi bersejarah di kawasan Selogiri hingga Watu Dodol, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (4/8/2026). Perjalanan ini membuka tabir fakta mengenai keberadaan makam leluhur serta kelanjutan silsilah asli keturunan Kerajaan Blambangan yang selama ini jarang terungkap ke publik.

Di kawasan Selogiri, tim menemukan kompleks makam yang masih alami dan minim sentuhan informasi. Di sana berdiri makam Syekh Maulana Ahmad atau yang lebih dikenal dengan nama Tumenggung Aning Patih, letaknya persis berdampingan dengan Makam Syekh Maulana Hening. Penemuan paling istimewa di lokasi ini adalah batu Lingga yang diyakini sebagai peninggalan milik leluhur Tumenggung Aning Patih, menjadi bukti fisik keberadaan tokoh tersebut di tanah ini.

Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk mengamati dan mendokumentasikan kondisi lokasi serta peninggalan bersejarah itu, tim melanjutkan perjalanan menuju Watu Dodol. Di area bukit atas Watu Dodol, tim mengunjungi makam Syekh Maulana Ishaq, tokoh besar yang menjadi jembatan penyebaran agama sekaligus menantu Raja Blambangan. Berjejer rapi di sampingnya terdapat makam Haji Muhammad Muji, yang menurut catatan silsilah merupakan garis keturunan lurus atau cicit dari Syekh Maulana Ishaq.

Kegiatan ini sekaligus meluruskan kembali silsilah warisan yang diakui secara turun-temurun oleh keturunan Raja Blambangan hingga saat ini. Alur silsilah tersebut berurutan sebagai berikut: Prabu Menak Sembuyu (Raja Blambangan) – Dewi Sekardadu bersama Syekh Maulana Ishaq melahirkan Raden Paku atau Raden Joko Samudro/Sunan Giri, kemudian Syekh Maulana Ahmad/Tumenggung Aning Patih – Syekh Maulana Hening – Syekh Maulana Yasin – Abdullah – Ali Akbar – Rahmad Agung – Haji Muhammad Muji – Haji Muin Giri – Haji Muhammad – Haji Ahmad Safi’i – Haji Mahmud Emran – Haji Imbaran Aji – Haji Empran – Safi’i, hingga akhirnya sampai ke tokoh saat ini, Amir Ma’ruf Khan.

Kondisi makam leluhur dan peninggalan seperti batu Lingga yang masih tersimpan asli namun terkesan terabaikan menjadi pengingat bahwa sejarah asli tanah Blambangan masih banyak yang menanti untuk diangkat dan dijaga. Jejak di Selogiri dan Watu Dodol menegaskan bahwa hubungan antara Kerajaan Blambangan, penyebaran nilai keagamaan, dan keturunan yang ada kini adalah satu rangkaian sejarah yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. (Fir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *