DENPASAR, BALI || Jejak-indonesia.id – Niat untuk sembuh dari gangguan sulit menelan berujung pilu. Seorang pasien bernama Ewang Setyo Budi yang menjalani tindakan medis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Ngoerah Denpasar, kini harus menghadapi komplikasi serius berupa gagal ginjal akut.
Ewang awalnya datang ke rumah sakit dalam kondisi stabil dengan keluhan disfagia atau kesulitan menelan. Berdasarkan keterangan keluarga, Ewang memiliki riwayat kelainan pada saluran cerna yang diduga berkaitan dengan Atresia Esofagus.
“Suami saya punya kelainan Atresia Esofagus. Dia tidak bisa menelan dengan normal karena klep lambung yang otomatis buka tutup itu mengeras. Bisa makan tapi harus banyak minum air. Sebenarnya sehat, fit suami saya,” ujar istri Ewang, Kamis, 15 Oktober 2026.
Ia menegaskan, sebelum tindakan medis, sang suami masih dapat beraktivitas normal dan tidak menunjukkan gejala kegawatan.
Keluarga menyebut kejanggalan mulai muncul pada tahap persiapan operasi. Pemberitahuan jadwal tindakan disebut disampaikan secara mendadak pada hari yang sama, berbeda dari prosedur umum yang biasanya diinformasikan beberapa hari sebelumnya. Atas hal tersebut, dokter yang menangani disebut mengakui adanya kekhilafan komunikasi.
Meski demikian, keluarga tetap mengikuti seluruh arahan medis, termasuk pemeriksaan penunjang berupa rontgen.
Hasil rontgen menunjukkan adanya sisa makanan yang masih tertinggal di saluran pencernaan. Tim medis kemudian memutuskan untuk melakukan prosedur pembersihan melalui tindakan endoskopi sebelum operasi utama pada kerongkongan.
Insiden kritis terjadi di ruang operasi. Setelah diberikan anestesi general oleh dokter berinisial ET, pasien disebut mengalami muntah hebat dalam kondisi belum sadar penuh. Material muntahan diduga teraspirasi masuk ke saluran pernapasan hingga ke paru-paru.
Kondisi tersebut memicu henti napas dan henti jantung mendadak di meja operasi. Tim dokter pun membatalkan rencana operasi kerongkongan dan fokus melakukan tindakan resusitasi untuk penyelamatan jiwa.
Nyawa Ewang berhasil diselamatkan, namun kondisinya justru memburuk pasca operasi. Pasien mengalami penurunan fungsi organ yang berujung pada diagnosis gagal ginjal akut, yang menurut keterangan tim medis merupakan efek berantai dari insiden henti jantung dan penurunan drastis suplai oksigen ke jaringan tubuh.
“Kondisi sekarang terus menurun. Suami saya gagal ginjal efek henti jantung dan tensi sekarang 40 mmHg jadi tidak bisa cuci darah,” tutur sang istri.
Keluarga kini mempertanyakan standar operasional prosedur (SOP) dan kesiapan antisipasi risiko anestesi di ruang operasi. Mereka mengaku kecewa terhadap komunikasi yang disampaikan tim medis pasca kejadian.
“Aku menyesal percaya dengan dokter-dokter di ruang operasi. Kok seperti tidak profesional dan hanya berkata ini di luar kendali kita,” tukasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Humas RSUP Prof. Ngoerah Denpasar yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Kamis, 15 Oktober 2026, belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan malpraktik tersebut.

