BANDA ACEH || Jejak-indonesia.id — Rangkaian zikir akbar dan doa bersama para alim ulama dalam rangkaian Aksi Bela Nanggroe yang digelar di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), sejatinya berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Namun suasana damai itu ternoda oleh insiden kericuhan yang terjadi setelah seluruh agenda resmi acara dinyatakan selesai.
Wakil Ketua Panitia Aksi Bela Nanggroe, Tgk Zainuddin Ubit, menegaskan bahwa sejak awal pihaknya telah berulang kali mengimbau seluruh peserta agar tidak membawa atau mengibarkan bendera apa pun, serta menahan diri dari tindakan yang berpotensi memicu ketegangan.

“Dari awal kita sudah menjelaskan, acara kita benar-benar doa dan zikir untuk keselamatan nanggroe dan syariat. Saya beberapa kali mengajak, jangan ada bendera, jangan naikkan bendera,” ujar Tgk Zainuddin Ubit.
Sesuai rencana, seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar. Para ulama hadir dan mengikuti kegiatan hingga selesai. Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Tgk H Muhammad Ali atau akrab disapa Abu Paya Pasi, turut memimpin pembacaan doa dan selawat.
“Para ulama kita datang semua. Abu Paya Pasi juga memimpin doa. Sebenarnya adem ayem semua,” ungkapnya.
Namun, setelah acara resmi ditutup dan sebagian besar ulama serta peserta mulai meninggalkan lokasi, situasi berubah. Terdapat pihak yang diduga menurunkan Bendera Merah Putih dari tiang bendera, lalu mengibarkan Bendera Bulan Bintang pada tiang yang sama.

“Sesudah selesai acara, kita selawatan bersama, para tokoh juga sebagian sudah ada yang pulang. Tahu-tahu ada yang menurunkan Bendera Merah Putih. Ini yang tidak kita inginkan,” jelas Zainuddin.
Ia menegaskan bahwa insiden tersebut terjadi sepenuhnya di luar agenda resmi dan berlangsung setelah kegiatan dinyatakan selesai. “Semua itu terjadi di luar acara kita. Terjadi sesudah acara selesai,” tegasnya.
Panitia mengaku telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan berbagai pihak terkait guna memastikan kegiatan berjalan aman sejak perencanaan hingga pelaksanaan. Imbauan agar seluruh peserta menjaga ketertiban juga telah disampaikan berulang kali.
“Saya sendiri di atas panggung beberapa kali, puluhan kali saya bilang, jangan-jangan, sabar-sabar,” tuturnya.
Zainuddin menyayangkan insiden tersebut karena dinilai telah mengaburkan substansi kegiatan yang sejatinya digelar sebagai bentuk syukur dan doa bersama dalam momentum peringatan 21 tahun perdamaian Aceh.
“Kita sesalkan luar biasa ini. Kita sudah bekerja baik-baik, tahu-tahu ada provokator sesudah acara. Intinya sesudah acara, bukan dalam acara kita,” ujarnya.
Hingga kini, pihak panitia mengaku belum mengetahui secara pasti kelompok atau pihak mana yang terlibat dalam insiden tersebut.
“Entah kelompok siapa, orangnya kita nggak tahu,” pungkasnya.